Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEKILAS TENTANG THOHAROH

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR1qG-PorMN2Hfli9LVXMURs0xcYlXt0_0mwg&usqp=CAU

Muhammad Rian Ferdian

1. Definisi thoharoh
Tentu kita sudah tak asing lagi mendengar kata thoharoh di dalam hukum yang mengatur berbagai persoalan kehidupan manusia. Thoharoh jika ditinjau dari segi bahasa memiliki arti bersih. Sedangkan pengertiannya menurut terminologi thoharoh berarti perbuatan yang dilakukan untuk diperbolehkan melaksanakan sholat, yaitu berupa wudhu, mandi, tayammum, dan menghilangkan najis.

2. Dalil diperintahkannya thoharoh 
Para ulama di dalam kitab-kitabnya mendahulukan pembahasan thoharoh.karena thoharoh merupakan kuncinya sholat yang ia merupakan bagian terpenting dalam ibadah. 
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman : 

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْآ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلِاةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسِحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَرُوْا . . . (المائدة : 6) 

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mendirikan sholat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah . . . (Q.S al-Maidah : 6)
 Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda : 

مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلَاةُ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُوْرُ (رواه الترميذي) 
“Pintu surga adalah sholat, pintu sholat adalah bersuci (HR. At-Tirmidziy)”

3. Media-media yang digunakan dalam thoharoh
Media atau alat yang bisa digunakan untuk thoharoh adalah air dan tanah. 
Adapun air yang bisa digunakan untuk bersuci itu ada 7 macam, yaitu : 
  1. Air Hujan
  2. Air Laut
  3. Air Sungai
  4. Air Sumur
  5. Air sumber/Mata Air
  6. Air Es/Salju
  7. Air Embun
Kemudian dalam hal digunakannya untuk thoharoh, macam-macam air tesebut diklasifikasi kembali menjadi 4 bagian :
  1. Air suci mensucikan dan tidak makruh digunakannya. Air jenis ini bisa kita gunakan dalam keseharian untuk bersuci, karena air ini terselamatkan dari hal-hal yang membuatnya makruh atau bahkan tidak boleh digunakan untuk bersuci. Air ini disebut juga dengan air mutlaq
  2. Air suci mensucikan tetapi makruh digunakannya. A jenis ini merupakan air yang dipanaskan dengan panasnya matahari dalam bejana yang terbuat dari emas dan perak. Akan tetapi kemakruhan ini hanya terbatas untuk tubuh saja, tidak untuk bersuci menghilangkan najis pada pakaian dan sebagainya. Dimakruhkan juga digunakan untuk bersuci yaitu air yang sangat panas dan sangat dingin. Dalam hal ini Imam Nawawi memiliki pendapat lain, yaitu tidak memakruhkannya secara mutlaq. 
  3. Air suci tidak mensucikan. Air jenis ini merupakan air musta’mal atau air yang sudah digunakan untuk bersuci dan juga air yang telah berubah dengan sebab ada sesuatu yang suci mencampuri air tersebut, seperti air suci yang tercampuri air kopi, air teh dll.
  4. Air Mutanajjis. Air mutanajjis terbagi menjadi 2: pertama Air yang kurang dari 2 qullah, kemudian tercampuri sesuatu yang najis, meskipun air tersebut tidak berububah, air jenis ini tetap dihukumi air mutanajjis. Dan yang kedua, 2 qullah atau lebih, ketika tercampuri sesuatu yang najis lalu berubah salah satu sifat dari air tersebut, maka air jenis ini dihukumi air mutanajjis.
  5. Air suci yang mensucikan tetapi haram digunakan.  Air suci yang mensucikan akan tetatpi haram digunakan untuk bersuci adalah air yang didapatkan dari mencuri, ghosob dan air yang sudah disediakan untuk diminum. 
Catatan : terdapat beberapa pendapat  ‘ulama mengenai takaran air 2 qullah. Menurut Imam Nawawi 2 qullah kurang lebih 174, 58 liter, menurut Imam Rofi’i 176, 245 liter, menurut ‘Ulama Iraq 255,325 liter, mayoritas ulama berpendapat 2 qullah adalah 60cm x 60cm x 60cm = 216.000 atau 216 liter. 

4. Najis dan macam-macamnya
Najis terbagi menjadi 3 macam:
  1. Najis Mugholladzoh
Najis Mugholladzoh merupakan najis dari anjing dan babi atau keturunan salah satu dari keduanya. Cara menyusikan najis ini dengan 7 kali cucian, setelah menghilangkan wujud dari najisnya, satu basuhan menggunakan tanah. 

     2. Najis Mukhofafah

Najis Mukhofafah merupakan najis dari air seninya bayi yang belum makan kecuali dari air susu asi dan belum mencapai usia 2 bulan. Cara menyusikan najis ini cukup dengan memercikan air ke najisnya disertai dengan usaha untuk menghilangkan najis.
    
     3. Najis Mutawasithoh

Najis Mutawasithoh merupakan seluruh najis selain 2 najis yang sudah dijelas di atas. 

Najis Mutawasithoh terbagi menjadi 2 macam :
a). Najis Mutawasithoh ‘ainiyyah 
Najis Mutawasithoh ‘ainiyyah merupakan najis yang memiliki wujud, bau dan rasa. Maka wajib untuk menghilangkan wujud, bau dan rasanya apabila kita terkena najis ini).
b).Najis mutawasithoh hukmiyyah
Najis Mutawasithoh hukmiyyah merupakan najis yang tidak memiliki wujud, bau dan rasa. Maka cukup mengalirkan air untuk menghilangkannya.

Sumber rujukan: 
1. Syech Muhammad bin Qosim al-Ghoziy, Fathul Qorib (Jakarta : Darul Qutub al-Islamiyah, 2003) Hal 10
2. Syech Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah Syech Ibrahim al-Baijuri, (Jakarta : Darul Qutub al-Islamiyah, 2007) Hal. 47







Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar