Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SANG PEMBEBAS KEKANGAN SOSIAL DARI MESIR: MALAK HUFNI


Oleh: Muhammad Hadiyan Ihkam


       Malak Hufni Nasih, ada yang menyebut Bahitsah Badiah, adalah seorang penyair perempuan terhormat yang lahir di Kairo, Mesir. Dia beruntung dapat belajar di sekolah formal. Hal ini sangat bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat yang melarang anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan. Namun ayah Malak bertekad untuk tetap menyekolahkannya hingga menjadi perempuan yang berpendidikan. Semangat ayah Malak ini membuahkan hasil, yakni Malak menjadi perempuan pertama yang mendapatkan ijazah.
       Pada tahun 1907, Malak menikah dengan Abdussatar al Basil. Pernikahannya tidak berlangsung lama. Karena keretakan rumah tangga, Malak merasa sangat menderita. Kemudian dia mengungkapkan penderitaanya melalui karya-karya tulis yang dikirim ke beberapa surat kabar. Karya Malak tersebut disambut baik oleh perempuan-perempuan Mesir. Karena karya tersebut mewaliki perasaan para perempuan yang menderita karena urusan asmara.
       Malak menyerukan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Hal ini dia sampaikan dalam bentuk media cetak maupun langsung dalam kegiatan mengajarnya. Dia juga mengajak para orang tua untuk memperhatikan pendidikan dan menyayangi putri-putri mereka. Malak berjuang untuk kebebasan perempuan dalam mengenyam pendidikan. Selain itu, Malak juga menawarkan perbaikan sosial bangsa Timur Tengah yang lemah ini dengan cara mewajibkan semua perempuan untuk mengenyam pendidikan. Masyarakat luas mengenal Malak sebagai muslimah Mesir pertama yang menyeru terang-terangan tentang kebebasan perempuan. Malak terus berjuang meski umurnya sudah tidak muda lagi hingga dia meninggal pada tahun 1918.
       Malak Hufni mempunyai banyak karya yang membuatnya dikenal masyarakat luas. Karya Malak sering dimuat dalam beberapa Majalah Mesir. Tulisan Malak yang telah dimuat kemudian dikumpulkan menjadi satu buku yang berjudul “an Nisaiyat”. Buku ini terdiri dari dua jilid. Hanya jilid pertama yang berhasil terbit. Ada yang menyebutkan jilid kedua dari buku tersebut masih menjadi manuskrip.Karya sastra Malak selanjutnya adalah buku “Huquq an Nasi”. Buku ini belum selesai ditulis karena dia meninggal sebelum menyelesaikan tulisannya.
       Malak sangat memperhatikan keadaan perempuan Timur Tengah yang terpuruk, khususnya daerah Mesir. Dia ingin menghapus anggapan masyarakat bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan. Langkah nyata yang diambil Malak dalam menghapus anggapan tersebut adalah menulis artikel yang bertema perempuan kemudian dikirimkan ke redaktur media cetak supaya dibaca untuk masyarakat luas. Tidak hanya itu, Malak juga menjelaskan pentingnya pendidikan perempuan kepada semua peserta didiknya. Langkah-langkah ini ditempuh Malak dengan tekun dan telaten hingga akhir hayatnya.
        Pemikiran-pemikiran Malak dituangkan dalam media cetak dengan gaya bahasa yang santun, tenang, komunikatif, tidak mencela dan tidak berlebihan. Tema karya Malak yang terbit di media cetak di antaranya perempuan, kemunduran negara Timur Tengah, kemrosotan sosial kota Mesir, dan kesengsaraan masyarakat. Banyak masyarakat menerima dan paham pemikiran Malak yang terdapat pada media cetak. Dari sana, masyarakat mulai mendengarkan suara Malak. Seiring berjalanya waktu, Malak menjadi sosok pahlawan perempuan dalam memperjuangkan emansipasi wanita.


Sumber: Hanna. (1986). Al Jami’ fi Tarikh al Adab al Araby: al Adaby Hadist. Beirut: Darul Jail.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar