Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERANG JAMAL DAN SHIFFIN “TAHUN JAMA’AH”

islami.co


Oleh Dihyat Haniful Fawad

Wafatnya Utsman bin Affan RA menjadi awal cobaan dan fitnah bagi kaum muslimin, sebagaimana dikabarkan beritanya oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya. “Jika pedang telah dijatuhkan atas kaum muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 4252 dan Ibnu Majah no. 3952, serta dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullahu dalam Shahih al-Jami’ no.1773).

Kondisi daulah menjadi genting dan sangat mencekam. Musuh-musuh Islam dari berbagai kalangan, seperti munafikin dan orang kafir, semakin mengintai. Demikian pula kelompok-kelompok sempalan yang sesat, seperti sekte Khawarij dan Syiah Rafidhah, memanfaatkan keadaan yang semakin tidak menentu. Hari-hari fitnah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah pun datang bergelombang.

Semenjak wafatnya Utsman bin Affan RA, Ali bin Abi Thalib RA menjadi manusia termulia di muka bumi dengan kesepakatan sahabat. Kaum muslimin, sahabat Muhajirin dan Anshar, berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai Amirul Mukminin, menggantikan Utsman bin Affan RA di tengah-tengah kondisi negeri yang membutuhkan kesabaran.

Setelah Ali bin Abi Thalib RA menjadi amirul mukminin, sekelompok sahabat menginginkan agar kasus pembunuhan Utsman bin Affan RA segera dituntaskan dengan menegakkan qishash atas para pembunuh beliau karena mereka telah mencoreng kehormatan darah, kehormatan tanah haram, dan kehormatan bulan haram. Apalagi, manusia yang dibunuh adalah sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Di antara sahabat yang berpendapat demikian adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Berbeda halnya dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berpandangan untuk menunda kasus pembunuhan Utsman hingga kondisi negara membaik.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA —sebagai wali Utsman bin ‘Affan RA secara syariat—berhak menuntut qishash dari pembunuh Utsman sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Q.S. al-Isra’:33.

Mu’awiyah RA memandang qishash harus segera dilakukan, tidak boleh ditunda. Ijtihad Mu’awiyah RA berseberangan dengan ijtihad Ali bin Abi Thalib RA. Oleh sebab itu, beliau menunda bai’at sampai para pembunuh Utsman bin Affan RA diserahkan untuk ditegakkan qishash. Ketika itu, Mu’awiyah RA adalah gubernur Syam di masa khalifah Utsman bin Affan RA. Dengan perbedaan ijtihad ini, tertundalah bai’at Mu’awiyah RA dan penduduk Syam.

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Ketika bai’at telah kokoh untuk Ali bin Abi Thalib RA, beberapa sahabat seperti Thalhah, az-Zubair, dan para pemuka sahabat RA mengunjungi Ali RA. Mereka meminta Ali RA segera menegakkan had (qishash) dan menuntut balas darah Utsman bin Affan RA. Namun, Ali RA menyampaikan uzur (untuk tidak secepat itu menegakkan qishash, -pen.) karena pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan RA memiliki bala bantuan dan kroni-kroni, sehingga belum memungkinkan ditegakkan qishash saat itu (al-Bidayah wa Nihayah 7/239 karya Ibnu Katsir Rahimahullahu).

Perang Jamal terjadi pada 36 H. Sebab terjadinya perang ini diawali oleh keinginan baik Ummul Mukminin A’isyah RA untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah RA menuju Bashrah bersama Thalhah bin Ubaidillah RA, az-Zubair bin al-‘Awwam RA, dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan ishlah. Berjumpalah dua barisan besar kaum muslimin (barisan Ali dan Aisyah). Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah pihak. Malam itu pun menjadi malam yang sangat indah dan tenang karena terwujudnya perdamaian.

Namun, para penyulut fitnah dari khawarij tidak tinggal diam. Mereka melakukan makar dengan membuat penyerangan dari dua kubu sekaligus. Akhirnya, pecahlah kekacauan.  Dalam sebuah hadits dari Abu Raafi’ bahwasannya Rasulullah SAW pernah berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib RA: “Bahwasannya antara kamu dan ‘Aisyah nanti akan ada satu permasalahan”. ’Ali bertanya: ”Saya kah wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: ”Ya”. ’Ali kembali bertanya: ”Apakah saya orang yang celaka (dalam permasalahan itu) ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: ”Tidak, akan tetapi jika hal itu nanti terjadi, maka kembalikanlah ia (’Aisyah) ke tempatnya yang aman. (Musnad Al-Imam Ahmad 2/393 – beserta hamisy (catatan pinggir) Muntakhab Kanzil-’Ummaal. Hadits ini adalah hasan. Lihat Fathul-Bari 13/55).

Akhir cerita, Di saat manusia melihat mushaf-mushaf diangkat, semua tersadar bahwa perang yang terjadi adalah perang fitnah. Korban yang berjatuhan adalah kaum muslimin. Dalam Perang Shiffin, tidak ada sahabat yang ikut serta melainkan sangat sedikit. Kebanyakan mereka meninggalkan kancah dan menjauh dari fitnah, seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, Abu Bakrah Nufai’ bin al-Harits, Salamah bin al-Akwa’, Usamah bin Zaid, Abu Mas’ud al-Anshari, dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.
Pada tahun 40 H, musibah kembali menimpa kaum muslimin. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam al-Khariji. Sepeninggal Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin membai’at al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu menggantikan posisi ayahandanya.

Kekuatan kaum muslimin masih terpecah menjadi dua barisan. Perpecahan masih terus membayangi perjalanan Daulah Islamiyah. Namun, dengan pertolongan Allah ta’ala, pada tahun 41 H terjadi sebuah peristiwa besar yang sangat membahagiakan. Kaum muslimin bersatu dalam satu kepemimpinan. Bersatu pula hati mereka yang sebelumnya berselisih.

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mendamaikan dua golongan besar kaum muslimin dengan menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Terwujudlah berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiga puluhan tahun sebelum tahun jamaah.Al-Hasan bin Ali meriwayatkan dari Abi Bakar bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu di sampingnya beliau sesaat menghadap kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata: “Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin”. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704).
Itulah keutamaan Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal dengan tahun jama’ah.

SUMBER RUJUKAN :
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Shahih & Dha'if Jami' ash-Shaghir wa Ziyadatihi, Albania.
Al-‘Atsqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari’ bi Syarh Shahih Al-Bukhari, Mesir.
Al-‘Atsqolani, Ibnu Hajar, Bulughul Maram min Adillati Al-Ahkam. Al-Haramain.
Ibnu Katsir, Al-Hafidz Abul Fida, 1350-an, Al-Bidayah wa An-Nihayah, Damaskus.
Tim Ziyad Qur’an, 2014, Al-Qur’an Tajwid & Terjemah Al-Qayyim, Surakarta: Ziyad Books.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar