Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENDENGAR SETIA CERITA-CERITAKU


Nur Sholikhah

 “Bu, aku tadi sama Mama dibawain minuman kacang hijau,” ungkapku kepada Ibu guru yang senang sekali mendengarkan ceritaku. 
 “Oh ya? Enak sekali itu!”
 “Iya, nanti kacang hijaunya aku minum semua.”
 “Bagus. Kalau minuman kacang hijaunya dihabiskan nanti badannya jadi sehat.”
 Aku meneguk kembali minuman kacang hijau di sebuah botol kecil. Mama jarang membawakanku air putih. Kalau tidak susu ya minuman kacang hijau, eh terkadang juga susu kedelai. Aku selalu menceritakan apa yang kubawa hari ini ke Ibu guru. Aku senang sekali karena Ibu guru itu menanggapiku dengan senyumnya juga tutur katanya yang lembut.
 Tidak hanya aku saja yang berbagi cerita pada Ibu guru, tetapi juga teman-temanku. Setiap hari sebelum pembelajaran dimulai, Ibu guru selalu menanyakan kegiatan kami di rumah. 

 “Kemarin liburan kalian melakukan kegiatan apa saja di rumah?”
 “Aku ke rumah Bude Titin, Bu. Di sana aku dikasih buah anggur banyak. Aku juga makan ice cream.” Aku menjawab dengan sangat lantang dan keras. Aku tidak mau teman-temanku menjawab lebih dulu. Aku tidak sabar ingin tahu respon Ibu guru. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum. 
 “Ke rumah Bude Titinnya sama siapa?”
 “Sama Mama, sama Papa. Kakak nggak ikut soalnya masih ngerjakan PR.” Aku senang sekali jika Ibu guru banyak bertanya tentangku.
 “Ke sananya naik apa? Mobil apa motor?”
 “Naik mobil. Kalau naik motor nanti takut kehujanan.”
 “Kan bisa pakai jas hujan?”
 “Papa nggak punya jas hujan, aku juga.”
 “Kalau Mama punya jas hujan nggak?”
 “Hmmm, nggak tau.” Aku memang tidak tahu apakah Mama punya jas hujan atau tidak. Kalau Papa jelas aku tahu soalnya tidak mungkin Papa punya jas hujan, kan Papa kalau pergi kerja pakai mobil.

 Aku senang jika Ibu guru terus bertanya tentangku, tentang Papa, Mama, atau hewan peliharaanku di rumah. Dengan penuh semangat aku akan menjawab pertanyaan itu. Terkadang teman-temanku juga ikut menyauti. Hmm, aku malah senang sekali. Aku akan memberi tahu mereka kalau aku punya papa dan mama yang sayang denganku.

 Oh iya, jika aku bercerita Ibu guru selalu mendengarkanku dengan baik. Aku suka senyumnya. Aku suka jika kemudian Ibu guru memujiku sebagai anak yang pintar. Aku akan semangat belajar jika Ibu guru wajahnya menyenangkan dan tidak gampang marah. Pernah suatu kali Ibu guru wajahnya tampak redup, ia memarahi kami karena berisik di kelas. Padahal biasanya Ibu guru dengan lembutnya membujuk kami untuk diam dan mengajak kami belajar sambil bermain agar tidak membuat keramaian. Tapi hari itu berbeda, Ibu guru mudah marah dan membuatku tidak semangat belajar. Aku tidak mau menuruti perintahnya, aku tidak suka. 

 Esok harinya, Ibu guru kembali seperti biasanya. Wajahnya ceria, senyumnya mengembang di kedua bibirnya. Ah, aku menjadi semangat belajar hari ini. Aku akan bercerita lebih banyak lagi tentang kegiatanku kemarin sepulang dari sekolah. Ibu guru tidak akan mudah marah dan akan menjadi pendengar setia cerita-ceritaku. Ia akan bertanya banyak hal dan senyumnya menjadi mudah kudapatkan. 

 Suatu saat nanti aku ingin menjadi seperti ibu guru yang tidak mudah marah, yang suka memberikan senyumnya, yang suka mendengarkan cerita, dan yang suka memberikan respon dengan bahagia. Aku akan disukai anak-anak dan mereka akan banyak bercerita tentang hari-harinya. Aku akan menjadi bagian dari cerita itu kelak saat mereka dewasa.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar