Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PANDEMI DAN KEPUTUSAN MAS MENTERI

News.detik.com

Oleh: Ira Safira Haerullah

Sejak dulu tidak bisa dipungkiri jika dunia pendidikan di Indonesia masih terdapat banyak PR bahkan sebelum datangnya pandemi. Dilantiknya Mas Menteri dengan kebijakan yang tergolong kekinian diharapkan dapat memecahkan berbagai hal ihwal dalam dunia pendidikan. Namun nyatanya setelah enam bulan dilantik korona datang menghampiri. Hal ini membuat problem tersendiri dan menambah PR untuk Mas Menteri. Saya tidak akan membahas politik di tulisan ini atau saling menyalahkan di tengah pandemi.

Sebagaimana yang kita ketahui sesuai dengan keputusan Mas Menteri dalam surat edaran No 4 Tahun 2020. Tentang pelaksaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran coronavirus disease (Covid – 19). Keputusan tersebut mewajibkan siswa belajar dari rumah serta penghapusan Ujian Nasional di berbagai jenjang. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk orang tua, peserta didik, maupun pendidik. Mau tidak mau orang tua harus mengambil peran guru untuk mendampingi, membimbing, dan memfasilitasi anak sebagaimana tugas guru pada umumnya di sekolah. Hakekatnya hal tersebut adalah tugas utama orang tua dalam mendidik anak. Namun, lagi-lagi tidak semua orang tua dapat melakukan hal tersebut dengan baik.
 
Tidak hanya peserta didik dan pendidik yang mengeluh tetapi orang tua juga ikut mengeluh terkait pembelajaran di tengah pandemi. Saya pun dengar sendiri dari emak-emak tetangga yang ngerumpi. Mulai dari keluhan anak yang tidak mau didampingi sampai kebingungan akan teknologi dan berujung membahas Mas Menteri. Dari sinilah saya mengambil kesimpulan bahwa pentingnya seorang emak, ibu, mama atau ummy dalam berpendidikan tinggi tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk masa depan anak nanti.

Di penghujung bulan Juli kemarin terjadi sebuah tregedi yang sangat memprihantinkan yaitu pembelajaran online memakan korban. Seorang siswa SD kota Tangerang, Banten hilang nyawa di tangan ibu kandungnya sendiri. Hanya karena sang jengkel anaknya susah menerima pelajaran. Berdasarkan informasi sang anak mendapat beberapa pukulan saat belajar online. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka yang sangat mendalam terhadap kasus tersebut. 

Menurut Retno Lystiarti, Komisioner KPAI "Pembelajaran jarak jauh memang membutuhkan bimbingan dan bantuan orangtua di rumah, menjadi tugas ayah dan ibu untuk mendampingi anak belajar dari rumah. Yang utama adalah keteraturan belajar, tidak harus dituntut bisa semua mata pelajaran dan tugas untuk diselesaikan dengan benar atau sempurna," Retno juga mengatakan bahwa perlu adanya komunikasi yang baik antar orang tua dan guru selama kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ berlangsung. Peran guru yang digantikan oleh orang tua dilakukan dengan memperhatikan tumbuh kembang, psikis dan kemampuan anak. Begitupun juga dengan guru agar tidak memberatkan dalam penugasan khususnya untuk anak Sekolah Dasar (SD) yang baru belajar memahami bacaan dan belajar membaca. 

Setelah membaca berita tersebut saya bersyukur berbeda nasib dengan saya ketika kecil yang diajari pelajaran oleh ibu. Meski ada saja drama nangis-nangisan dan kejar-kejaran yang diperankan langsung oleh saya tidak membuat ibu saya untuk melakukan hal yang demikian. Teman-teman saya pun sering menceritakan hal yang sama ketika belajar bersama orang tua, bedanya dulu sebelum ada pandemi. Bersyukurlah kalian!

Secanggih-canggihnya teknologi yang disarankan oleh Mas Menteri tidak akan pernah bisa secara penuh menggantikan peran guru dalam proses belajar mengajar adalah salah satu hikmah yang dapat saya ambil sejak pandemi. Tetapi, orang tua haruslah tetap memperbaiki diri dan memberikan pembelajaran yang terbaik untuk buah hati. 

Terlihat sia-sia jika saya hanya memaparkan berbagai problemtis tanpa memberi solusi. Untuk itu berikut beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua dalam mendidik anak di tengah pandemi. Pertama, atur jadwal dan waktu kegiatan sang anak. Anak tidak dituntut untuk belajar setiap waktu dan berikan anak waktu untuk bermain atau  refreshing juga luangkan waktu untuk mendengar cerita maupun keluh kesah sang anak. Kedua, pantau perkembangan akademik, tumbuh kembang, termasuk sikap, moral dan psikis anak terlebih lagi pada saat ini. Ketiga, ajari dengan sabar. Ya, usaha terakhir adalah sabar. sebab berdasarkan pengalaman saya yang pernah mengajar anak-anak yang paling dibutuhkan adalah rasa sabar. 


Menulis tanpa mencantumkan sumber yang dikutip adalah kejahatan.  

Lilawati, Agustien “Peran Orang Tua dalam Mendukung Kegiatan Pembelajaran di Rumah pada Masa Pandemi Pendidikan Islam Anak Usia Dini” Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 2021, Universitas Muhammadiyah Gresik. 
https://mojok.co/rkm/esai/derita-orang-tua-jadi-asisten-guru-dan-teknisi-it-dadakan-gegara-school-from-home/
https://www.liputan6.com/news/read/4358127/belajar-online-menelan-korban-jiwa 
http://pauddikmasaceh.kemdikbud.go.id/news/orang-tua-pengganti-peran-guru-di-masa-pandemi-covid-19/index.html 
https://www.kompasiana.com/beningsinar/5e8afdb150dc7741f01e5dd2/ketika-orang-tua-menggantikan-guru 
https://republika.co.id/berita/qbse3f284/kpai-sebagian-tugas-guru-kini-pindah-ke-orang-tua 
http://pgdikmen.kemdikbud.go.id/read-news/surat-edaran-mendikbud-nomor-4-tahun-2020 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar