Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DEADLINE


Oleh: Neng Sumiyati

Deadline itu sebuah fakta nyata dari sebuah ketidakinginan, itu kata seseorang yang menyepelekan pekerjaan. Deadline itu candu dari sepinya hari libur, itu kata seseorang yang membutuhkan hiburan. Menurut kalian deadline itu apa? sebuah keruwetan? Kekhawatiran atau bumbu dari manisnya perkuliahan, pekerjaan dan lain sebagainya. Terlepas dari pandangan siapa saja mengenai " deadline" , entah dari sisi bahasa, perspektif atau apapun. Di sini saya akan ulas simpulan dari cuitan hati sesama mahasiswa yang di manapun dan kapanpun akan melekat dalam dirinya tentang " deadline".

Pertama, deadline itu bayangan ketakutan. Sadar atau tidak bahwa deadline sering kali membuat seseorang untuk lebih menancapkan pedal gas kehidupan agar lebih cepat selesai, cepat upload tugas dan sebagainya. Namun apakah kita sadar bahwa deadline  akan menjadi bayangan ketakutan, ketika kita justru sering mengabaikan, menyepelekan bahkan menganggap itu bukan sebuah keharusan yang seyogyanya disegerakan.

Misalnya di tengah pandemi seperti ini, kita diberikan tugas pada hari rabu dan didalamnya terdapat ketentuan bahwa kita harus mengumpulkan tugas di minggu selanjutnya. Tapi dalam masa tenggang waktu tersebut, justru kita buat dengan masa rehat katanya, maraton nonton, maraton nongkrong atau maraton karena belum ada mood tugas.
Namun  seringkali kita beralasan, adanya banyak tugas lain, tanggung jawab lain, yang konon lebih sulit untuk dikerjakan. Kita buat kesimpulan simpelnya begini, deadline yang mengejar kita atau kita yang mengejar deadline ?

Dari kasus-kasus sederhana itu  akan muncul bayangan ketakutan, terkait hasil dari kinerja pikiran kita. Terlalu banyak mengutamakan mood sebagai mahkota untuk menyelesaikan tugas kan gak ada habisnya ?mengeluh ditengah pandemi juga gak ada habisnya? Apalagi hanya tidur, makan, ikut kegiatan, keluar dan tidur lagi, tapi cita-cita seperti Alm BJ. Habibie, yang mana mendahulukan cita dibanding kenyamanan hidup.

Kedua, deadline itu sebuah keruwetan. Setelah deadline dilabeli sebagai sebuah ketakutan, deadline juga dianggap sebagai sebuah keruwetan. Di sini saya mengartikan keruwetan sebagai " kebingungan atau pusing mendalam". Mengapa bisa terjadi demikian?
Saya berpendapat deadline menjadi sebuah keruwetan di kala kita tidak menguasai hal tersebut. Yang mana pada akhirnya terdapat banyak keluhan, keputusasaan terkait tugas dan sebagainya.

Namun, sebenarnya kita harus sadari faktor dari keruwetan itu, berasal dari siapa? Dan apa sebabnya?. Tentu jawabannya adalah dari kita sendiri yang meciptakan keruwetan itu, bisa jadi akibat dari tidak memperhatikan dosen, tidak memahami status sebagai mahasiswa sendiri, yang seharusnya lebih mandiri katanya, hehehe.

Misalnya seperti ini, kita mendapat tugas menulis artikel yang mana membutuhkan banyak referensi di dalamnya, guru atau dosen sudah memberikan kita link untuk mencari referensi tersebut dari awal perkuliahan dimulai. Tapi kita acuh tak acuh, hanya mendahulukan absen tanpa fokus kepada hal yang sebenarnya. Maka hasilnya akan seperti itu? Mendapati kebingungan disaat orang lain sudah mencapai tujuan, yang tidak lain akibat dari ketidaktahuan.

Ketiga, deadline sebuah pemanis kehidupan. Yang langka dan unik adalah label deadline sebagai pemanis kehidupan. Karena tuturan ini butuh pengorbanan dan pada faktanya lahir dari sebuah kepuasan, pengorbanan mendalam disertai berbagai tujuan pencapaian. Tapi seyogyanya tepatri dalam benak setiap orang, bukan begitu seharusnya?

Sulit? Gak mungkin? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang tahu. Merubah mindset atau pola pikir kita bisa menjadi salah satu dari jalan yang ada. Pada kesimpulannya, kita boleh pusing memikirkan deadline, boleh menjadi pejuang tangguh dalam tugas, tapi jangan lupa istirahat dan tidak melupakan prioritas yang lain juga. Dan jangan lupa untuk menghargai sesama itu merupakan basic yang harus dimiliki semua manusia.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar