Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DUKA RUMINANSIA


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana


       Selaksa pagi paling kelam dalam hidupnya. Disaksikan embun yang belum kering sepenuhnya dan semburat surya yang belum terbit seutuhnya, seekor sapi gemuk terkapar kaku di tanah. Wanita rentah berbaju hijau motif bunga bersimpuh lemah di sampingnya. Ia Wak Sri, bersama suaminya ia tinggal dan mengurus sapi di rumahnya genap tiga tahun ini. Namun semuanya sirna, lenyap tak bersisa sebelum diuangkan olehnya.

"Wak yang sabar ya !" 

       Malam tadi Wak Sri masih datang ke rumahku. Bukan hanya ia, beberapa peternak sapi juga datang untuk mengambil sari kedelai untuk sapi-sapi mereka. Biasanya Wak Sri datang paling awal ke rumah. Sembari menunggu sari kedelai ditiriskan, ia membantu mengemas kedelai untuk menjadi tempe. Berbeda dengan malam tadi.

"Tumben Wak baru datang" sambut Wak Ijah yang bersiap pulang dengan seember sari kedelai ditentengnya. 

"Iya Jah, tadi ada tamu hehe" tawanya seperti menahan malu.

       Selepas menuang sari kedelai ke embernya, Wak Ijah menyempatkan berbincang singkat dengan ibuku. Dari dinding kamarku, suaranya sedikit kurang jelas untuk didengar. Hanya tawa kecil mereka berdua yang nyaring terdengar. Hingga pada pagi hari tadi ibu memberi tahuku bahwa malam tadi Wak Sri sedang berbahagia karena sapinya laku tinggi dari target harganya. Aku tidak heran, karena memang ukuran sapinya yang gagah dan besar. Kulitnya kuning kecoklatan bersih, tanda kesungguhan wanita tua itu gemar membersihkannya. 

       Bagai hujan di tanah kemarau. Setelah meng- hema panjang dua kali, tubuh besar makhluk ruminansia rumahan tersungkur kuyuh ke tanah. Ini bukan karena sari kedelai yang diteguknya, toh buktinya sapi milik bibi-bibi lain tidak bermasalah. Aku tidak berfikir jika penyebab kematiannya dari rumput hijau yang masih tertumpuk di sana, karena setahuku rumput adalah makanan sapi yang kemudian masuk ke rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Jika memang ada rumput yang dicekal untuk kaum pemamah biak, aku tidak tahu.

       Aku merasakan kegetiran Wak Sri akan peristiwa yang menimpanya. Sari kedelai yang tiap malam ditegukkan untuk sapi kesayangannya hanya berbuah kesia-siaan belaka. Suaminya yang menyabit rumput setiap sore hari di lapangan desa, pun demikian hasilnya. Kini tiada lagi kehadiran Wak Sri ke rumah. Jatah sari kedelainya akan dibagi sebagai tambahan peternak lainnya.

"Ini untukmu, setidaknya kau menerima daripada tidak sama sekali" tangan coklat gempal menyodorkan sebungkus uang ke arah Wak Sri lalu diterimanya. Mungkin sebesar itu rizki yang diberikan-Nya kepada Wak Sri meski searusnya ia menerima lima kali lebih penuh dari jumlah yang digenggamnya kini.

        Selepas kejadian itu, beberapa peternak bergegas menawarkan sapinya kepada tukang jagal. Bagi masyarakat desa, nilai sapi setara dengan hasil panen sawah. Berharga dan tinggi harganya. Wajar saja Wak Sri terpukul kala mendapati sapi yang harusnya naik ke mobil bak dengan keempat kakinya, namun nyatanya harus diangkat oleh tiga puluh dua kaki untuk bisa naik ke mobil bak milik jagal itu.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar