Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENELADANI AN-NAWAR BINTI MALIK SEBAGAI PEREMPUAN PENENTU KUALITAS GENERASI


Oleh: Izzat Imaniya


       Peran seorang perempuan sangatlah penting dalam menentukan baik buruknya anak. Sentuhan lembut dengan penuh kasih sayang memberikan kenikmatan layaknya syurga bagi setiap orang. Salah satu perempuan yang bisa kita teladani adalah An-Nawar binti Malik, berasal dari Bani Najjar sosok perempuan kuat yang berperan sebagai ibu dan ayah untuk putranya Zaid bin Tsabit karena pada usia lima tahun ia ditinggalkan ayahnya Tsabit bin Zaid yang gugur dalam perang Bu’ats, perang antara Suku Aus  dan Khazraj. Peristiwa ini menuntut An-Nawar untuk berjuang seorang diri melanjutkan perjuangannya dulu bersama suami untuk menanamkan keislaman dalam diri Zaid bin Tsabit. Dengan bekal rasa cintanya kepada Islam, An Nawar memeberikan  kekuatan terhadap pondasi iman Zaid bin Tsabit. Disamping itu, An-Nawar merupakan sosok perempuan yang sangat cerdas dan jenius. Diusianya yang ke 11 tahun, perempuan yang berasal dari Bani Khazraj ini bisa menghafal belasan surah dari Al-Qur’an. Ia juga dinobatkan sebagai sekretaris Rasulullah karena mampu menguasai bahasa Suryani dalam jangka watu 17 hari, dan dalam jangka waktu 15 hari ia mampu menguasai bahasa Ibarani.

       Dengan kecerdasan yang ia miliki, An-Nawar mendidik putranya agar Zaid bin Tsabit menjadi sosok yang hebat, bermanfaat, dan pemberani. Hingga pada usia Zaid bin Tsabit yang terhitung sangat muda yakni 13 tahun, ia mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam melaksanakan perang badar. Akan tetapi, niat mulianya ini tidak bisa dipenuhi Rasulullah, karena dalam peraturan perang tidak boleh mengikutsertakan anak-anak, perempua, dan orang lanjut usia untuk turun langsung kemedan perang. Tentu penolakan dari Rasulullah ini membuat Zaid bin Tsabit sedih, An-Nawar sebagai seorang ibu harus bijaksana dan bersifat tegas dalam menghadapi putranya. Sehingga An-Nawar menghibur anaknya dengan memberi nasihat “jangan bersedih anakku, jika jihad di medan perang belum boleh dilakukan anak-anak seusiamu, cobalah berjihad dengan  cara yang lain, yakni melalui lisan atau tulisan”. Tentu dalam masalah ini An-Nawar bersikap sangat bijak kepada putranya, tidak hanya memberi nasihat, ia juga memberikan soslusi atas apa yang harus dilakuakan putranya tanpa harus membuat Zaid bin Tsabit merasa tertekan atau terpakasa, karena An-Nawar sangat memahami potensi yang dimiliki oleh Zaid bin Tsabit yakni dalam bidang retorika dan tulis-menulis. Ditengah kesedihan Zaid bin Tsabit karena keinginannya berperang ditolak oleh Rasulullah, An-Nawar selalu menguatkan, dan meyakinkan Zaid bin Tsabit hingga ia merasa nyaman dan menerima saran dari sang ibu. Dalam keadaan seperti ini, perempuan harus bersabar dan menghadapi semuanya dengan penuh kasih sayang. Karena hal itu merupakan salah satu kiat untuk membentuk kepribadian seseorang yang baik, seseorang yang bisa siap menghadapi apapaun dalam keadaan apapaun. 

      Berawal dari saran yang diberikan An-Nawar kepada Zaid bin Ttsabit untuk bejihad melalui lisan dan tulisan, memberikan banyak prestasi bagi Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit pun sangat menekuni jihad dimasa mudanya sebagai amanah Rasulullah. Ia diangkat sebagai penulis wahyu, penerjemah bagi pemerintahan Islam di Madinah dan penulisan surat. Bukan hanya pada zaman Rasulullah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dan Abu Bakar, ia lagi lagi mendapat amanah baru. Abu Bakar berkata kepadanya “Kamu adalah seorang pemuda yang cerdas, dan kami tidak meragukan itu”. Disamping mendalami ilmu al-qur’’an, Zahid bin Tsabit terkenal sebagai pakar hadis. 

       Sebagai seorang perempuan, sifat penyabar, penuh kasing sayang, dan ketulusan sangat berperan dalam pembentukan potensi dan kepribadian anak, mampu mengetahui potensi yang dimiliki anak, atau mendukung anak semaksimal mungkin. Hingga pada akhirnya, setiap anak akan mengalami perkembangan prestasi yang akan terus meningkat dari masa ke masa sebagaimana prestasi dan amanah yang ditunjukkan kepada Zaid bin Tsabit sejak usianya masih kecil. Tentu dengan adanya bibit unggul seperti Zaid bin Tsabit akan memberikan pengaruh yang sangat baik untuk  generasi selanjutnya. Sosok perempuan sangatlah dibutuhkan dalam hal ini, karena ia merupakan sekolah pertama bagi anak. Maka dari itu, sifat sabar, kuat, dan bijaksana yang ada dalam diri An-Nawar patut untuk diteladani perempuan agar bisa membentuk keturunan seperti Zaid bin Tsabit. 

Sumber : Nur.K, 70 Golden Stories of Muslimah, Semesta Hikmah Publishing, Yogyakarta,2019, hlm.62-66.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

3 komentar: