Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENATA NIAT, MEMIMPIN DIRI SENDIRI

https://marudutsihombing.files.wordpress.com/2013/07/menguasai-diri1.jpg

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Telah kita sadari bersama bahwa, namanya “pemimpin” pastinya memikul beban tanggung jawab yang besar di pundaknya. Sehingga wajar jika menjadi seorang pemimpin harus siap dan dia mempunyai wewenang untuk memimpin apa yang menjadi tanggungannya. Tanggung jawab itu misalnya pejabat atas bawahannya, majikan atas pembantunya, dsb. Itu beberapa tanggung jawab seorang pemimpin yang jelas-jelas kita ketahui dalam lingkar kehidupan sehari-hari. Namun sebelum jauh membahas tentang tanggung jawab kepada orang lain, sebenarnya ada tanggung jawab yang tak kalah penting untuk diperhatikan yakni tanggung jawab atas diri sendiri. Dengan begitu, sebelum seseorang maju untuk memimpin orang lain, patutlah dia mampu memimpin terlebih dahulu dirinya sendiri. 

Misal dilihat di kehidupan sehari-hari, kita sebagai seorang muslim wajib mendirikan sholat lima waktu. Tetapi nyatanya sebagian atau bahkan mayoritas dari kita masih sering meninggalkannya. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa sebenarnya kita belum mampu memimpin diri sendiri. Memimpin disini bermakna menata niat dari dalam lubuk hati untuk memperbaiki kebiasaan buruk diri sendiri dan lebih mendekatkan diri kepada sang ilahi.

Begitu juga semisal, jika sekarang maraknya isu di rumah sakit yang menangani pasien dan meninggal dunia disana. Pasien tersebut dianggap tergolong pasien covid-19. Sehingga jenazahnya pun diperlakukan layaknya pasien covid-19 dengan dimasukkan kedalam peti dan dipulangkan ke rumah duka dengan membawa ambulans. Di balik peristiwa tersebut, ada yang menyebutkan bahwa terdapat kontrak antara pihak rumah sakit dengan penjemput pasien (keluarga duka) agar pasien tersebut dinyatakan pasien covid-19. Nah, dari sini sudah terlihat adanya ketidakjujuran yang berdampak besar kepada orang lain. Secara tidak langsung, sebenarnya mereka juga belum bisa memimpin diri sendiri dan masih di tekan oleh pihak lain. 

Contoh di atas hanya sebagian kecil peristiwa yang mungkin terjadi di lingkungan kita. Selebihnya bisa kita cari dan temukan ada berbagai peristiwa yang mencerminkan bahwa seseorang belum bisa memimpin dirinya sendiri. Belum bisa jujur, dan mengendalikan emosi diri sendiri. 
Ada kata-kata yang menarik dari Prof. Dr. Imam Suprayogo dalam bukunya “Revolusi Mental Memimpin Sepenuh Hati”, yaitu: 

“Memimpin orang lain tidak sesulit memimpin diri sendiri. Seseorang bisa berhasil memimpin orang lain, tetapi belum tentu berhasil memimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri lebih sulit daripada memimpin orang lain. Banyak orang sukses menggerakkan orang lain, memberikan petunjuk dan membimbingnya, tetapi hal itu tidak mudah dilakukan untuk dirinya sendiri”. 

Oleh karena itu, pentingnya kita sama-sama belajar untuk bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Dapat dimulai dengan menata hati dan berniat untuk memperbaiki diri, membawa kemaslahatan bagi orang lain, bukan malah sebaliknya. Mungkin hal ini dibilang sepele, tetapi hakikatnya sangat urgent untuk dibangun dalam diri sendiri. Sehingga ketika menjadi pemimpin, dia benar-benar bisa dijadikan teladan untuk orang lain. Waallahu a’lam.
Sumber: Buku “REVOLUSI MENTAL Memimpin Sepenuh Hati” (edisi revisi) karya Prof. Dr. Imam Suprayogo. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar