Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MELUASNYA ISLAM DI NUSANTARA


Oleh: Krisna Aditya Putra


       Mungkin tidak banyak dari kita mengetahui bagaimana islam masuk dan mulai meluas di kepulauan nusantara, berbeda dengan daerah timur tengah yang didominasi oleh kesultanan islam dan penduduknya memeluk islam karena adanya peperangan dan dakwah dari para khalifah, Indonesia memiliki jalan kisahnya sendiri kenapa islam dapat masuk dan menyebar dengan cepat di negeri nusantara bahkan saat ini Indonesia merupakan negara dengan mayoritas islam terbesar di dunia.

       Islam Indonesia memiliki perjalanan yang sangat panjang, sejak zaman pra sejarah Indonesia dikenal sebagai pelayar pelayar yang handal yang sanggup mengarungi samudra lepas. Dimulai dari awal masehi telah banyak pedagan-pedagang Indonesia maupun negeri lain yang mulai berlayar melalui kepualaun yang berada di Indonesia, karena hasil buminya yang sangat banyak menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan di kawasan Asia. 

        Bersamaan dengan itu, komoditas perdangan ini mengundang para pedagang dari Timur Tengah, India dan juga daratan China. Kedatangan mereka bukan hanya semata-mata berdagang namun juga di manfaatkan sebagai sarana untuk menyebarluaskan ajaran agama islam kepada penduduk nusantara yang saat itu belum mengenal islam secara luas. Dengan hadirnya pedagang dari Timur Tengah dan daratan India membuat islam masuk dan mulai di kenal luas oleh masyarakat nusantara. Berikut adalah saluran-saluran islamisasi di Indonesia yang membuat islam dapat meluas dengan cepat:

Perdagangan

       Pada tahap permulaan, saluran islamisasi di Indonesia adalah melalui bentuk perdagangan. Indonesia merupakan negara yang berada di jalur perdagangan yang sangat strategis. Kesibukan di bidang perdagangan pada abad ke-7. Membuat pedagang-pedagang Muslim dari (Arab, Pesia, dan India) turut ikut andil dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara, dan Timur benua Asia.
 
       Bentuk islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran islamisasi melalui perdagangan ini dipesisir pulau Jawa, Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang Muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau Jawa yang penduduknya ketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan mesjid-mesjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyak yang masuk Islam, terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang Muslim. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.

Perkawinan

        Perkawinan menjadi salah satu jalur masuk Islam yg besar di Indonesia, hal ini dikarenakan kondisi pedagang yang memiliki kelebihan dari segi materi yang membuat para wanita pribumi tertarik untuk dinikahi. Dan mengingat syarat pernikahan dalam Islam yaitu mereka harus 1 agama, maka banyak wanita yang masuk Islam. Banyak juga di antara mereka para guru-guru tasawuf yang menikah dengan kaum bangsawan sehingga ini sangat menguntungkan karena pernikahannya dengan kaum bangsawan membuat banyak penduduk yang ikut memeluk agama Islam.

Tasawuf

       Yaitu menyampaikan islam berdasarkan pendekatan kehidupan sehari-hari dan mengantarkan untuk mengenal Islam berdasrkan logika dan pemikiran, sehingga pemeluknya merasakan langsung relevansinya. Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 ini.

Pendidikan dan Dakwah

       Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh-oleh guru-guru agama, kyai-kyai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru agama dan kyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat tertentu untuk mengajarkan dan menyebarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta di Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.

Budaya atau Kesenian

       Sunan Kalijaga adalah salah satu penyebar agama yang mencontohkan bagaimana Islam dapat hadir dan disampaikan dalam bentuk ringan, yaitu dalam bentuk pertunjukan Wayang. Isinya sarat dengan histori dan pengajaran tentang makna dari kehidupan, dan hal ini berhasil menarik simpati masyarakat karna penyampaiannya yang sederhana dan memiliki nuansa adat lokal. Dikatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan Wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi beliau meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan sebagai alat islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya) seni bangunan, dan seni ukir.

       Beberapa ukiran pada mesjid kuno seperti di Mantingan, Sendang Duwur, menunjukkan pola yang diambil dari dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diberi corak tertentu dan mengingatkan kepada pola-pola ukiran yang telah dikenal pada candi Prambanan dan beberapa candi lainya.

Politik 

        Proses lain islamisasi di Indonesia yaitu dengan cara politik, contoh kongkritnya seperti di sulawesi selatan, kerajaan-kerajaan hindu budha ditaklukan kemudian dibentuk kerajaan Islam. Hal ini juga banyak terjadi di Ternate, ataupun di aceh. Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam masuk Islam.  Berdasarkan penjelasan tersebut tentang proses islamisasi di Indonesia dilakukan melalui pendekatan dan penyesuaian dengan unsur-unsur kepercayaan yang telah ada sebelumnya, maka kehidupan keagamaan rakyat masih menunjukkan unsur-unsur percampuran dengan unsur kepercayaan sebelumnya.

Daftar Pustaka:
  1. Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2013 https://labbaik.wordpress.com/2007/05/01/proses-islamisasi-dan-perkembangan-islam-di-indonesia/ Labbaik, edisi: 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M
  2. Utami.M.S. Sejarah Indonesia. Surakarta: CV. HaKa MJ.
  3. Sunanto, Musrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 2004
  4. Suryanegara, Ahmad Mansur, Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, tt 
  5. Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar