Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MATA WANITA, WALI BAGI LAKI-LAKI


Oleh: Ainu Habibi 

       Sebagai insan yang mulia, wanita merupakan tiang suatu negara, artinya kemuliaan suatu negara dapat dilihat dari segi kemuliaan seorang wanita. Sosok mereka sangat berpengaruh terhadap nilai-nilai moral dalam suatu negara, apabila mereka baik akhlaqnya, maka baik juga negaranya dan sebaliknya bila mereka bobrok maka ikut bobroklah martabat negara di mata dunia.
       Buktinya terdapat wanita yang tidak bisa dihilangkan dalam pikiran kita sebagai seorang anak yaitu Ibu. Namun Siapa sangka bahwa sosok seorang wanita tidaklah terpaku pada doktrin-doktrin orang terdahulu, dimana wanita dibatasi akan kebebasannya dalam melakukan aktivitasnya sehingga minim dari mereka tidak dapat meninggikan derajat pendidikannya karna keterbatasan mereka.
       Berbicara tentang wanita ataukah perempuan, manakah istilah yang lebih baik. Meneliti sejarah para pendahulu menyebutnya wanita, berasal dari bahasa jawa “wanito” ( wani ditoto ) Yakni bahwa wanita ialah pribadi yang harus selalu ditata baik hatinya, sikapnya serta kehormatannya, namun sejak salah seorang pejuang wanita yang mengikrarkan bahwa dia merasa terhina beranggap bahwa wanita tidak selalu kehidupannya terus dipantau, dia membuktikan bahwa wanita bisa menjadi kekuatan juga dalam memperjuangkan kemerdekaan saat itu. 
Maka kemudian dari situlah istilah kata perempuan mulai muncul, berasal dari kata bahasa sanskerta “empu” yang berarti yang dimulyakan dan dari KBBI “puan” yang berarti nyonya. Entah kita menyebutnya wanita atau perempuan intinya dua istilah tersebut mempunyai maknanya masing-masing.
       Membahas tentang wanita, tentu penulis menepi tentang emansipasi dan apakah yang dinamakan emansipasi wanita? jawabannya adalah pengertian emansipasi wanita secara harfiah yaitu kesetaraan dan gender juga bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk menuntut persamaan hak kaum wanita terhadap kaum pria dalam segala aspek kehidupan. Namun, penulis disini tidak akan membahas tentang kesetaraan tersebut, melainkan mendefinisikannya sebagai kebebasan seorang perempuan untuk berkehendak sesuai apa yang mereka inginkan
        Akan tetapi dari masa ke masa, perempuan masih mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Seperti halnya kurangnya wanita-wanita mulya yang diangkat dan diperkenalkan pada khalayak umum. Maksudnya nama-nama mereka jarang terlibat dalam penyampaian kajian-kajian umum sehingga pengetahuan ataupun ilmu mereka kurang bisa diterima di kalangan masyarakat. 
       Disamping itu, terlihat bagaimana perkembangan dunia sekarang tidaklah sama dengan tingkah wanita apalagi seorang remaja yang serta merta menjadi dirinya sebagai bahan pemuas kalangan pria, bagaimana tidak maraknya budaya-budaya eropa yang masih mengakar bahkan menjadi keterbiasaan mereka akan kenikmatan yang haram sehingga martabat seorang wanita menjadi titik yang sangat fatal akan pandangan mereka di kalangan dunia.
       Hingga saat ini, mulailah dikenal sebuah qosidah yang berjudul saduna yang mendefinisikan kemuliaan dan keagungan para wanita mulia. Qosidah tersebut menjadi viral ketika Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair wafat dan semua orang begitu rindu dan mengisakkan tangis bilamana qosidah tersebut di senandungkan karena qosidah tersebut merupakan qosidah yang disukai dan disayangi oleh beliau.
       Dengan mengacu pada latar belakang yang telah dijabarkan di atas, maka tulisan ini bertujuan untuk mengintepretasikan pesan-pesan emansipasi wanita yang terkandung dalam qosidah Sa’duna. Tentang menentukan siapa akan jodoh, maka perempuan berhak atas dirinya.
عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الثيب احقّ 
بنفسها من وليها، والبكر تستاذن واذنها صماتها.

Dari pada Abdullah bin Abbas R.A: “Berkata 
Rasullah SAW perempuan yang telah     janda lebih berhak atas dirinya, dari pada walinya, dan perempuan yang masih perawan diminta izin dari dirinya, dan izinnya ialah diamnya.” (Hadist ini dirawikan oleh An-Nassiy, At-Tharmizi, Imam Ahmad, Muslim dan lain-lain).       

Hak wanita mendapatkan pendidikan dan pengajaran (sampai ke tingkat yang bisa membantunya menunaikan tanggung jawab). Aisyah r.a berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

من يلي من هذه البنات شيئا فأحسن إليهنّ كن له ستر من النار
                                                       
“Barang siapa yang diuji dalam urusan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat ihsan (baik) kepada mereka, maka mereka akan menjadi tirai baginya dari neraka" (HR Bukhari dan muslim).

       Perbuatan ihsan yang mana yang lebih besar nilainya untuk anak-anak wanita dibandingkan dengan mengajar da mendidik mereka? Abu Burdah, dari ayahnya, berkata bahwa Rasullah saw. bersabda:

 أينما رجلٍ كانت عنده وليدة فعلمهافأحسن تعليمها وأدّبها فأحسن تأديبها، ثمّ أعتقها وتزوّجها فله أجرانِ                                                                                                                                   
Barang siapa yang mempumyai budak perempuan, lalu dia mengajarnya dengan baik dan mendidiknya dengan baik kemudian memerdekakannya dan mengawininya dua ganjaran” (HR Bukhari).


       Jika seorang muslim dihimbau untuk mengajar dan memdidik budak perempuannya dengan baik, maka mengajar dan mendidik putrinya sendiri dengan baik tentu lebih wajib dan lebih utama. Sebaik-baik hal yang dijadikan bekal hidup adalah akhlak yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Dari waktu ke waktu, jika akhlak yang baik sudah merupakan sesuatu yang tetap dan baku, dikatakan bahwa ilmu yang bermanfaat akan mengalami perbedaan jenis dan kadarnya. 
Ibnu Juraij, dari Atha dan dari Jabir bin Abdullah, berkata: “Nabi saw. berdiri pada hari raya fitri, lalu shalat. Dimulai dengan shalat, setelah itu baru khutbah. Selesai berkhutbah beliau turun, kemudian mandatangi jamaah wanita. Sambil bersandar pada tanga bilal, beliau menyampaikan nasihat kepada kaum wanita. Sementara Bilal menggelar membentangkan kainnya, lantas kaum wanita menjatuhkan sedekah mereka ke atas kain tersebut. Menurut satu riwayat dari Ibnu abbas, beliau(Nabi saw.) merasa belum memperdengarkan kepada kaum wanita (nasihat yang beliau sampaikan), maka beliau pergi kepada kaum wanita untuk memberi mereka nasihat dan menyuruh mereka bersedekah. Ibnu Juraij berkata: “Apakah seorang imam (pada masa sekarang ini) mereka berhak melakukan demikian itu dalam memberikan peringatan kepada kaum wanita? “ Atha berkata: “Hal itu adalah hak mereka jadi mengapa mereka tidak boleh melakukannya?” (HR Bukhari)
Perempuan juga Dimuliakan 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا                                                                                       

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu".

       Inilah salah satu ayat di dalam Al qur’an, ayat yang pertama daripada Surat An Nisa (Surat dari hal wanita). Di dalam ayat ini diterangkan bahwasanya asal-usul kejadian manusia itu adalah satu. Tafsir dari satu itu ada dua macam. Pertama tafsir yang biasa bahwasanya pada mulanya Allah hanya menjadikan satu diri saja, yaitu Adam. Kemudian daripada diri yang satu itulah diambilkan tuhan buat menjadi istrinya. Itulah Hawa. Di dalam sebuah Hadist (Mauquf Shahabi) dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa bagian diri Adam yang dijadikan untuk tubuh istrinya Hawa itu ialah satu dari tulung rusuknya.
       Dapatlah dibayangkan sendiri bagaimana perasaan kaum perempuan Arab seketika ayat ini mulai diturunkan. Dia mendapat kembali harga diri. Dia tidak lagi ditunggu kelahirannya, buat dikuburkan hidup-hidup sebagaimana kebiasaan zaman jahiliyah. Dunia ini tidak lengkap kalua hanya laki-laki saja. 
       Orang laki-laki dan perempuan, sama-sama dianjurkan oleh Nabi SAW, supaya banyak-banyak membaca Al-qur’an dan memahamkan isinya. Tidak ada bagi orang lain yang akan menghambat kum perempuan buat berhubungan langsung dengan Al Qur’an dan memahamkan isinya, apalah lagi Al Qur’an itu diturunkan dalam bahasa mereka sendiri. 
       Ayat ke-1, daripada Surat An-Nisaa ini hanyalah satu saja di antara banyak ayat yang mengistimewakan sebutan terhadap kaum perempuan. Telah panjang lebar kita terangkan bagaimana kedudukan perempuan dalam hukum Islam, dalam pergaulan rumah tangga dalam perlakuan kepadanya sebagai ibu, isteri, saudara perempuan, anak perempuan dan sebagainya, dan kita kemukakan pula sikap-sikap yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW terhadap wanita. 
       Dan lebih jelas lagi mereka mendapatkan bagian waris, sebagai laki-laki juga. Padahal di zaman jahiliyah Arabia, perempuan tidak ada dalam daftar yang menerima waris, malah perempuan sebaliknya itu sendirilah yang dijadikan” Barang waris”. Dan dalam masyarkat modern pun masih ada perempuan yang belum mempunyai hak atas hartanya sendiri. 
Tetapi untuk mengetahui peraturan Agama secara ilmiah, tidaklah akan dapat kecuali di salami dalam lubuk islam itu sendiri.
       Banyaknya latar belakang emansipasi ini terbentuk seperti minimnya kesempatan belajar. Mayoritas dari kalangan pemudi yang ingin melanjutkan studinya sampai S1 tidak tercapai salah satunya karena ketetapan ataupun kepercayaan generasi ke generasi bahwa perempuan cukup bersekolah sampai SD pun tak masalah karna mereka beranggapan bahwa perempuan harus mahir masalah rumah tangga dan tanggung jawabnya sudah ada pada tanggung jawab sang suami.
       Namun seiring berputarnya masa, anggapan ini kian mengerucut pada satu hal yakni akankah perempuan dapat membimbing anaknya yang masih dini untuk bisa bersekolah lebih tinggi sedangkan sang ibu hanya sebatas lulusan sekolah dasar? Kondisi saat ini sudah terjawab, banyak dari mereka bahkan mendominasi berkembang pesatnya pendidikan khususnya dalam pendidikan anak-anak. Sebab itu perempuan memliki peran yang absolut dalam mengembangkan mental dan psikologis sang anak agar mereka dapat menerima dan menghadapi masalah di lingkungan mereka. Sedangkan tugas seorang pria itu sendiri ialah bertanggung jawab atas segala aspek yang ada dalam lingkungan keluarga maupun di lingkungan sosial.

Sumber;
  1. Bukhari, Kitab: Adab, Bab: menyayangi anak, mencium dan merangkulnya, jilid 13, hlm. 33. Muslim, kitab: Kebajikan, hubungan kekeluargaan dan etika, Bab: keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, jilid 8, hlm. 38.
  2. Bukhari, Kitab: Nikah, Bab: Mengambil budak-budak perempuan dan orang yang memerdekakan budak perempuan lalu mengawininya, jilid 11, hlm. 28.
  3. Bukhari, Kitab: Ilmu, Bab: Imam memberikan nasihat dan pelajaran kepada kaum wanita, jilid 1, hlm.203. Muslim, Kitab: shalat dua hari raya, jilid 3, hlm.18.
  4. Bukhari, Kitab: Dua hari raya, Bab: Nasihat imam kepada kaum wanita pada hari raya, jilid 3, hlm. 203. Muslim, Kitab: Shalat dua hari raya, jilid 3, hlm. 81.
  5. Hamka, Kedudukan Perempuan dalam Islam, Kardera Putra Grafika, Jakarta, 1983, hlm. 1.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang 



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar