Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LELAKI YANG MENUNGGU DI PERSIMPANGAN JALAN


Nur Sholikhah

Di sebuah persimpangan jalan, kulihat kau berdiri di seberang. Kau dengan tas hitammu, kau dengan kacamatamu, kau dengan orang-orang di sampingmu. Entah sudah berapa puluh kali aku melihat pemandangan yang sama. Namun anehnya aku tak pernah merasa bosan karenanya. Bagiku, memandangmu bagai memandang laut biru.

Pertama kali aku melihat kau dengan seorang lelaki paruh baya berbatik coklat. Ia menggandeng tanganmu begitu erat. Wajahmu tampak sendu, sepertinya kau menyimpan kegelisahan di balik matamu. Kau hanya diam, sedangkan lelaki itu tak henti-hentinya mengawasi jalan sebelah kanan.
Kutebak itu adalah ayahmu dan kau akan diantar pergi ke kota lain yang mungkin saja kakimu belum pernah singgah. Namun hatimu sepertinya belum rela meninggalkan kota yang sejak kecil menaungi dan memberimu warna. 

Beberapa menit kemudian, sebuah bus berwarna biru merayap dari arah utara. Perlahan-lahan bus itu mendekat dan berhenti tepat di depanmu. Ah, wajahmu ditelan olehnya. Aku tak bisa melihat bagaimana matamu yang sendu melepas pemandangan kota.

Sebulan kemudian aku melihatmu kembali. Wajahmu tampak lebih putih. Tas yang kau bawa di punggung tak seberat tas yang kau bawa dulu. Tangan kananmu menenteng bingkisan yang kutebak isinya adalah makanan. Lelaki paruh baya itu masih di sampingmu, namun kali ini tidak lagi memegang erat tanganmu.

Pemandangan seperti itu menjadi hal yang kunanti. Setiap dua atau tiga bulan sekali kau kembali ke kota kecil ini. Wajahmu masih tetap sama, sederhana tanpa polesan make up yang beraneka warna. Lelaki yang mengantarmu juga masih tetap sama, hanya saja wajahnya semakin tampak tua. Badannya tampak kurus, kulitnya keriput.

Entah pada pemandangan yang ke berapa kulihat lelaki itu tak lagi ada di sampingmu. Kau menunggu sendiri, mendekap erat tas punggungmu dan berdiri di tepi jalan raya yang tak pernah sepi, berharap bus itu segera membawamu pergi. Terkadang kulihat kau membuka kacamata lalu jemarimu mengusap pelan kedua matamu. Kutebak matamu tiba-tiba perih dan ingin kau garuk dengan jari.

Aku belum bisa menebak lagi apa yang sudah terjadi. Aku hanya mengamati, gerak gerikmu, raut wajahmu, senyummu dan tatapan matamu pada jalan yang berdebu. Bus itu kembali menelan wajahmu, membenamkan pandanganku. Dan saat itulah aku menjadi seorang yang suka menunggu.

Di sebuah persimpangan jalan di tahun yang ke enam. Ternyata aku masih bisa melihatmu. Kurasa ada perbedaan yang jauh sejak pertama kali aku tak sengaja memperhatikanmu. Kini kau tampak lebih dewasa, kau tak lagi membawa banyak barang dan perkakas lainnya, senyummu menjadi begitu mudah kau layangkan pada bus yang setia mengantarmu pulang.

Aku menyukainya, namun sayang mengapa mata itu masih tetap sama. Kegelisahan kurasa masih ada, menggelayut di kedua mata. Membuat pandanganmu sedikit layu meski senyummu selalu kau lempar pada orang-orang yang berlalu.

Dan suatu ketika di tahun yang ke tujuh. Aku melihatmu bersama seorang lelaki yang kutaksir usianya tak berbeda jauh dengan usiamu. Kau menggandeng tangannya begitu erat seperti lelaki paruh baya yang bersamamu dulu. 

"Siapakah lelaki itu?" 
Pertanyaan itu berhasil menggangguku, membuat tanda tanya besar dalam kepalaku. Kutebak ia mungkin saudaramu, kakak kandungmu. Tapi aku juga tak begitu yakin. Bisa jadi ia temanmu, oh atau..

Pertanyaan itu masih menggantung hingga pada tahun yang ke sepuluh aku mengamatimu. Kau tak lagi menunggu bus biru. Kau tak lagi berdiri di seberang jalan dan melambaikan tangan saat bus itu datang. Seorang lelaki sudah membawamu pergi, iya lelaki yang dulu menggengam erat tanganmu. 

Terakhir aku melihatmu berdiri di tempat biasanya dengan seorang anak yang menggemaskan di gendonganmu. Kau menunggu bus itu datang dari arah selatan. Itu artinya kau sedang menunggu seseorang yang akan pulang. 
Dan sejak saat itu aku tidak lagi menjadi seseorang yang menunggu, tapi ditunggu oleh seorang wanita yang sejak lama aku tunggu. 


Malang, 10 November 2020
Source image: http://pixabay.com


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar