Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIKA KITA SIRNA

Oleh: Siti Rahmatillah

       Kita adalah beberapa aksara yang hanya sekedar kata tanpa makna. Kita adalah narasi tanpa wacana, kita adalah perjalanan tanpa perencanaan. Dan kita adalah bukan aku dan kamu. Sekarang adalah aku saja. Aku dan aku. Ini tentangku, sekarang sulit untukku melihat dan menjadikanmu bagian dari hidupku, mungkin juga nanti. Kau terlihat berbeda, itu karena ku. Ya sebab, inilah alasan kenapa aku akan menjadi tanpamu. Sudah seberapa sering aku menyakiti, sudah seberapa sering aku mengingkari janji, bahkan sudah seberapa sering aku memberikan hal yang tak pasti. Seberapa banyaknya ia tak mampu dihitung dengan jari, bahkan hatipun  enggan untuk merasa. Begitulah riwayat luka yang telah ku tuliskan di buku harianmu.
       Sepertinya, alangkah baiknya aku menepi. Kau bisa membuatku terbang, dan kau juga bisa membuatku terjatuh. Lika likunya selalu begitu, berputar penuh teka teki. Aku merenungi, mencari. Sudahlah aku dan kamu memang tak bisa berada dalam satu bait puisi. Aku jadi mengerti, alasan kau memilih pergi adalah kamu yang mengharapkan aku untuk menjadi seperti yang kamu inginkan. Namun, kamu tak egois, semata-mata itu untuk kebaikanku ; aku menghargai. 
       Satu hal yang perlu kau tau, aku  juga punya prinsip, bahwa hidup bukan hanya soal kamu yang sudah berbeda. Hidup ini berwarna, ku kira aku dan tentangmu adalah hal yang harus diabaikan dan segera diakhiri, lepas dan tak ada harapan untuk kembali. 
       Maaf, bukan egois, bukan tak bersikap bijak. Ini aku, jangan bandingkan aku dengan yang lain. Rasa-rasanya bukan hanya aku yang ditinggal, tetapi aku juga memilih meninggalkan. Aku mulai merasa lelah, bukan tak bisa dewasa dengan memilih jalan sirna. Hanya saja aku menyerah dengan semua sandiwara atau faktanya, hati yang begitu keras, senyum yang hilang dan tatapan penuh curiga. Selamat dan sukses dengan jalan hidup masing-masing. Aku juga ingin mencari ketenangan dan kedamaian. Kau baik dan tetap terbaik, terimakasih. Selamat tinggal kenangan yang menyisakan kerinduan. Aku tak akan melupa hal-hal indah yang kau berikan. Aku akan menyimpanmu di file kenangan, yang sesekali aku rindukan.
       Kita memang harus memilih jalan perpisahan. Itu akan lebih baik, dari pada memutar kehidupan yang dihiasi perdebatan hati yang tak berkesudahan. Semoga bertemu dengan orang-orang yang mampu menghargaimu dengan rupa, berkata-kata dan membuatmu bahagia. Doaku akan tetap sama, meski kita tak lagi sama.
       Pada akhirnya aku jadi sadar, keadaan tak bisa dipaksakan. Tapi kita tersiksa dengan ikut merasakan. “Itulah hidup, peka dengan berbagai permasalahan adalah jalan pendewasaan” kata Prof. Thib. Nikmatilah lika liku di dalamnya, itu akan jadi lebih baik, dari pada kita membenci yang itu hanya akan menyiksa diri. Ingat, tidak ada yang lebih peduli, melainkan cintamu untuk dirimu.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar