Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JANJI TUJUH HARI

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

       Siang hening, surya kering, awan bertali hitam sepekat-pekatnya, angin hanya menyepoi kecil, melumat dedaun rontok dari dahannya. Hari yang dinanti telah tiba, namun matanya belum ada bersama tubuhnya. Anyaman pandan cokelat masih kosong, harusnya ramai oleh gelak tawanya. Uap bakwan pun berhenti mengepul, mestinya sudah habis ditelan mulutnya. Kemana ia ?

       Janjinya tujuh hari kemarin menenangkan, bersambung dengan kalimat-kalimat manis menguatkan. Ia bahkan berlagak bak orang sedarah, padahal belum saling menahu seutuhnya. Memang kami kerap sekelas bersama, namun kesadaranku baru terbuka sejak dua semester sebelumnya. Kesadaran akan sosok yang pantas mendapat gelar sahabat, meski tidak selalu ada.

       Ingatanku masih kuat untuk menyecap tingkah, kata dan raut wajahnya. Kami bertemu di perpustakaan kala itu, ia membawa gelas kola yang entah sudah habis atau masih isinya. Langkahnya pendek cepat, tatkala menghampiri kursi kosong di hadapanku. "Kau suka kola ?"

"Kau jangan cari masalah" tukasku seraya menuding poster tak lebar bertuliskan "DILARANG MEMBAWA MINUMAN"

Ia mengangguk, meski sedikit menggerutu pelan.

"Oh ya Al, aku minta maaf kemarin belum bisa ikut mengebumikan mendiang ayahmu" sebenarnya aku risih mendengarnya. Kalimat itu membuat luka yang sedikit terkatup, kembali menganga lagi. "Tak apalah, lupakan !! Semua tidak dapat terulang dua kali". Ku harap ia berhenti untuk mengulik apapun tentang ayah, setelah mendengar jawabku tadi. Tapi meleset. Bagai api menyantap kayu, ujarannya memanjang kesana kemari, meski arahnya menyemangati. 

"Aku janji akan datang ke rumahmu tepat pada hari ketujuhnya"

"Silahkan !! Pintuku senantiasa terbuka untukmu, selalu"

Hari semakin menerang, tak ada tanda kehadiran seseorang. Hampir tiga kali sudah Emak bertanya, tiga kali pula keningku beringsut pasrah. Kemana ia ? Tong kosong nyaring bunyinya.

"Brr" 
"Brr, Brr"
"Brr, Brr, Brr"
Getaran bertubi-tubi menyusuli

"Brr, Brr, Brr, Brr"
Hari ini libur, harusnya tidak ada dosen yang menguluk salam, lantas mahasiswanya menanggapi bergantian, timbullah getaran berisik tak diinginkan.

"Brr, Brr, Brr, Brr, Brr"
Sedetik berhenti lalu kambuh kembali. Dua puluh pesan memenuhi grub angkatan. Tulisannya Arab, juga emotion sedih mengekori. Innalillahiwainnailaihirojiun. .
Aku merasakan jiwanya sekarang, persis tujuh hari saat janjinya dilontarkan. Semua untaian katanya untuk menguatkanku, seakan menjadi bumerang baginya. "Yang ikhlas, yang sabar, yang kuat, ini semua garis Allah"

       Harusnya ia datang untuk melipur sungkawaku di tujuh hari ayah, namun nyatanya aku yang datang untuk melipur sungkawanya di tujuh hari ayah. Semua bergulir begitu cepat. Takdir Tuhan tergaris lurus denganku dan ia. Kami saling dekat juga akrab dalam waktu singkat. Hingga takdir pahit dalam hayat tiba memeluk kami hangat, mungki agar kami tidak terlarut dalam sedih lekat-lekat. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar