Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ISLAM KHAS INDONESIA DI TANJAKAN MEKAR PADA ERA PANDEMI


Oleh: Astri Liyana Nurmalasari

Masa pandemi benar-benar cobaan yang luar biasa. Ia mampu menciptakan perubahan yang signifikan dalam berbagai sektor. Baik perekonomian, pendidikan, dan lain sebagainya. Dampak yang paling dirasakan misalnya tak dapat berinteraksi dengan leluasa. Sekolah-sekolah mulai dilakukan dengan sistem daring. Kebebasan keluar masuk daerah mulai berkurang dan diperketat. Perkumpulan orang mulai dikhawatirkan dan bahkan harus ditiadakan demi memutus mata rantai Covid-19.

Pemerintah terus menggembor-gemborkan masyarakat untuk tidak melakukan perkumpulan dalam hal apapun. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semakin digencarkan. Warung makan dan kafe-kafe mulai ditutup. Walaupun buka, tidak diperkenankan makan di tempat. Bahkan kegiatan-kegiatan keagamaan pun banyak yang dihentikan, salah satunya salat jumat.
Banyak di antara kita yang kekeuh untuk melakukan salat jumat berjamaah dengan dalih “takutlah kepada Allah bukan Corona, karena hidup dan mati kita di tangan Allah”. Yaudah iyain aja.

Mungkin ada yang masih ingat terkait video yang sempat viral ketika muadzin yang mengganti lafadz azan dari حي على الصلاة  (mari mendirikan salat) menjadi  صلوا في رحالكم (salatlah ditempat kalian masing-masing). Muadzin tersebut tidak serta-merta melakukan itu dengan tiba-tiba. Setelah ditelusuri, ia melakukannya setelah adanya pemberitahuan resmi dari Kementerian Urusan Keagamaan dan Wakaf untuk menutup semua kegiatan masjid kecuali azan. Tak lama kemudian, kegiatan serupa mulai diberlakukan di Indonesia, ketika MUI dan Majelis Tarjih Muhammadiyah meluncurkan fatwa serupa.
Untuk membuat keputusan itu tentunya dilakukan oleh orang-orang yang ilmu agamanya sudah mumpuni. Bukan rempahan rengginang seperti kita ini. Tetapi, kenapa masih banyak orang yang menyepelekannya? Bahkan ada yang beranggapan kalau pun mati ya tidak apa-apa, kan mati syahid karena mati dalam keadaan beribadah kepada Allah. 

Padahal dalam situasi pandemi ini, para ulama telah menggaung-gaungkan baik di sosial media maupun televisi terkait hadis yang tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terburuk masifnya penyebaran Covid-19. 

Dalam sebuah tayangan berita di televisi yang menyatakan bahwa puncak penyebaran virus Corona terjadi pada bulan Mei, karena bertepatan dengan Idul Fitri. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim sudah tentu memiliki kekhasannya tersendiri. Halalbihalal misalnya. Meskipun namanya sedikit kearab-araban, namun tradisi ini hanya ada di Indonesia. Halalbihalal merupakan tradisi yang dilakukan pada bulan Syawal lebih tepatnya setelah Idul Fitri dengan saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Bagaimana kita melakukannya di era pandemi ini?
Biasanya sanak keluarga berdatangan ke rumah, sekarang hanya melalui telepon genggam. Biasanya berkumpul dengan teman-teman, sekarang hanya melalui pesan singkat di WhatsApps. Biasanya setelah salat Ied berjabat tangan, sekarang harus berjaga jarak. Perihal berjabat tangan, perlu diketahui bahwa menurut Guru Besar Ilmu Fiqih, Prof Sulaiman Ar-Ruhaili menyatakan salam secara syariat itu dengan lisan, berjabat tangan hanya tambahan kebaikan. Adapun saat ini, alangkah baiknya kita menahan diri untuk tidak berjabat tangan, untuk menghindari madharat yang bisa saja terjadi. Mungkin ini akan terasa aneh dan asing. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan menuntut kita seperti ini.

Melihat berita-berita di televisi terkait pencegahan dan penanganan Covid-19, saya semakin bersemangat mengikuti berbagai anjuran pemerintah. Namun kenyataannya, kegiatan tersebut ‘sepertinya’ hanya berlaku di daerah tertentu saja. Di desa yang ku tinggali, Tanjakan Mekar salah satu desa di Kabupaten Tangerang semua berjalan seperti biasa. Masyarakat tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa melaksanakan anjuran-anjuran yang ditetapkan pemerintah. Kenapa?

Kurangnya pengawasan pemerintah di Tanjakan Mekar membuat masyarakat melakukan aktivitasnya sesuka hati. Mereka tidak khawatir akan adanya Covid-19 yang bisa saja menjangkiti mereka. Mereka lebih khawatir akan adanya aparat pemerintah yang mendatangi dan menghukum mereka. Karena tidak adanya tindakan tersebut, masyarakat dapat melakukan aktivitasnya dengan bebas.  

Setiap pagi para petani yang hendak ke sawah menunggu teman-temannya untuk pergi bersama. Berkumpul dan berghibah ria. Kemudian di lapangan dekat rumahku orang-orang bermain bola setiap sore. Mustahil dong mereka bermain dengan berjaga jarak dan memakai masker. Kafe dan tongkrongan-tongkrongan saja masih berlanjut. Anak-anak tetap bermain seperti biasa dengan teman-temannya, tanpa ada imbauan apapun dari orang tua mereka. Bahkan kegiatan wargapun tetap berlangsung tanpa ada embel-embel protokol kesehatan dan lain-lain. 

Tepat pada tanggal 20 Mei 2020 saudaraku melahirkan. Adat-istiadat di desaku, yaitu tuan rumah mengadakan syukuran, seperti melakukan khatmil quran dan juga tahlilan. Tahlilan di desaku tak hanya dilakukan ketika ada orang yang meninggal seperti daerah-daerah kebanyakan. Biasanya tuan rumah mengundang para tetangga untuk menghadiri acara tersebut. Belum lagi orang tua dari kedua belah pihak akan berdatangan. Selain itu, para tetangga juga akan menginap di rumahnya setiap malam selama 7 hari. Selama kegiatan itu, semua orang tertawa ria, bersenda gurau, memanjatkan do’a, serta saling berjabat tangan tanpa khawatir salah satu dari mereka bisa saja ada yang positif Covid-19 dan menularkannya pada yang lain.
Selain kegiatan di atas, acara sunatan dan walimatul haml kerap dilakukan seperti  biasa. Para tetangga dan sanak saudara dari berbagai daerah akan berdatangan mengunjungi rumahnya dengan membawa beras ataupun makanan. Perkumpulan tak terhindarkan. Protokol kesehatan terus diabaikan. Social distancing hanya digembor-gemborkan. Mereka berpikir apabila salah satu dari mereka ada yang meninggal, ya sudah. Mungkin itu sudah waktunya. Apabila salah satu dari mereka ada yang positif Covid-19 ya sudah. Mungkin itu sudah takdirnya. Tawakkal saja. Toh, hidup dan mati itu di tangan Tuhan. 

Padahal tawakkal sejatinya dilakukan setelah berusaha. Nabi saja ketika hendak berperang menggunakan pakaian pelindung, penutup kepala, memakai pedang, bahkan menyiapkan strategi terlebih dahulu. Barulah ia bertawakkal kepada Allah. Kalau ujug-ujug ke medan perang dan berpasrah diri, itu mah bunuh diri namanya.  Selain itu, seseorang pernah bertanya kepada Nabi dengan membawa seekor unta. “wahai Nabi, aku ikat untaku kemudian aku bertawakkal atau aku bertawakkal terlebih dahulu kemudian ku lepaskan untaku”. Nabi pun menjawab, “ikatlah untamu lalu bertawakkal”. 

Sekarang begini saja, kita memiliki kekhawatiran dan bahkan mengalaminya bersama. Pandemi Corona. Kita perlu memberantasnya bersama. Jangan menunggu orang-orang terdekat kita, tetangga ataupun keluarga kita yang terjangkit Covid-19 baru kita menyadarinya keberadaannya. Jika itu terjadi, kemungkinan yang terpapar virus tidak hanya satu orang. Keluarga, teman, tetangga, bahkan pedagang-pedagang asongan yang tidak tahu-menahu pun bisa kena. Hanya karena kita tidak mengalaminya atau bahkan tidak melihat orang yang positif covid-19 secara langsung, bukan berarti kita dapat melakukan kegiatan sesuka hati. Seandainya anda mengalaminya, barulah anda paham bagaimana rasanya, sakitnya, sedihnya, terisolasi dan jauh dari orang-orang terdekat.

Jika masyarakatnya saja masih mengedepankan ego seperti ini, bagaimana kita bisa memutus mata rantai Covid-19. Kesadaran diri itu penting. Manusia lemah seperti kita tidak ada yang kebal terhadap penyakit. kita harus berkontribusi memberantas pandemi ini bersama. Mulai dari protokol kesehatan, Social distancing, menghindari perkumpulan, dan lain sebagainya. Mulailah kegiatan tersebut dari diri sendiri.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar