Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ISLAM ITU RAMAH BUKAN MARAH-MARAH

Oleh: Hariski Romadona Setya

       Akhir akhir ini di media sosial dihebohkan kembali dengan adanya berita adanya karikatur Nabi Muhammad SAW  yang diterbitkan oleh Majalah satire Prancis Charlie Hebdo. Kejadian ini bukan yang pertama kali, beberapa tahun sebelumya juga pernah dilakukan tapi yang membuat heboh yaitu terjadi insiden pemenggalan salah satu orang guru sejarah sekolah di pinggiran Paris, Samuel Paty, dipenggal kepalanya pada Jumat 16 Oktober, setelah ia memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya saat membahas tema kebebasan berpendapat. Ia dipenggal oleh Pemuda bernama Abdoullakh Anzorovm dan usianya pun masih 18 tahun. Naas setelah aksi pemengggalan ia langsung ditembak mati oleh petugas kepolisian Prancis.
       Aksi pemenggalan itulah yang membuat heboh, pengecaman antar agama pun terjadi. Umat islam yang tidak terima bahwa adanya karikatur nabi Muhammad dan memicu aksi-aksi solidaritas untuk Paty di seluruh penjuru Prancis. Setelah meninggalnya Paty, Presiden Emmanuel Macron secara tegas mengatakan bahwa negara tidak akan mengkritik tindakan Paty yang memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad. Ia membela penerbitan karikatur Nabi Muhammad. Pun demikian respons Charlie Hebdo berencana akan menerbitkan satu juta ekslempar edisi terbaru dengan sampul bergambar karikatur Nabi Muhammad SAW. Respon inilah yang menimbulkan gelombang kritikan dan protes di sejumlah negara termasuk di Irak, Palestina, Libya dan Suriah. Pernyataannya juga menimbulkan seruan sejumlah negara untuk memboikot produk Perancis. 
       Dalam islam sendiri memang tidak boleh untuk menggambar ataau melukis gambar junjungan kita selaku umat muslim. Para ulama juga telah mengambil ijma’ sukuti tentang dilarangnya melukis nabi dan Rasul. Hal ini dilakukan untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh agama dan  kemurnian Islam baik segi akidah, akhlak, maupun syariah. 
Rasulullah adalah manusia pilihan, yang dijadikan sebagai suri tauladan bagi seluruh umat di dunia.Tidak hanya sebagai pembawa wahyu, tapi dari cra penampilanya, tingkah lakunya, cara makan, cara menyisir rambutnyapun dijadikan sumber hukum syariat. Maka dari itu tidak sembarangan menggambar Raslullah, tidak boleh hanya semata didasarkan pada khayal, ilusi, imajinasi serta perkiraan subjektif dari orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau.
       Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW melaknat keras orang yang berdusta dengan memakai nama beliau SAW. "Baran gsiapa berdusta kepada saya dengan sengaja maka dipersilakan untuk menempati duduknya di api neraka." (HR Muttafaq ‘Alaih).
Maksud dari hadis itu, yakni era Nabi Muhammad SAW tidak ada satu pun manuskrip, gambar, patung yang benar-benar menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW secara sempurna. Sehingga, ketika ada orang yang mengaku melukis sosok Nabi Muhammad SAW, ia dimasukkan ke golongan yang disebutkan dalam hadis di atas. Terlebih, orang yang sengaja melukis karikatur Nabi Muhammad dengan maksud mengolok-olok.
Gus Nadirsyah Hosen dalam akun twitternya juga ikut berkomentar “Tidak ada itu karikatur Nabi. Memangnya tahu wajah Nabi seperti apa? Terus orang lain bikin karikatur dan diklaim itu karikatur Nabi, kalian percaya?” cuit akun twitter @na_dirs milik Nadirsyah Hosen, dikutip Jumat (30/10/2020). Sontak hal hal tersebut menuai komentar yang banyak sekali. Ada bahkan yang sampai mengucapkan kata yang kurang pantas terhadap ulama’ kita ini. Mungkin yang dimaksud Gus Nadir kita sebagai umat muslim jangan mudah terprovokasi dengan adanya persoalan tersebut. Kita harus befikir jernih dalam mengahadapi masalah atau sitiasi apapun. 
       Seperti halnya akibat dari insiden pemenggalan kepala guru sejarah diatas. Hal tersebut bukanya menyelesakan masalah, malah memperkeruh masalah. Umat islam membela nabinya dan masyarakat Prancis mengecam adanya pembunuhan tragis yang dilakukan oleh orang islam. Akibatnya yang disalahkan islamnya bukan orangnya. Iniah yang menjadi PR kita bersama, jangan mengatakan segala sesuatu atau berbuat sesuatu mengatas namakan agama, belum tentu benar apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan syariat atau malah menyalahi syariat.
       Islam adalah agama kasih sayang. Di dalam agama islam tidak diajarkan untuk saling memusuhi, saling membenci apalagi saling membunuh. Kita diajarkan untuk saling menghormati dan tleransi terhadap aaama lain. Dengan kejadian sekarang ini kita dapat ambil pelajaran bahwa pertama, kita tidak boleh melukis atau menggambar Nabi Muhammad, karena kita tidak tahu bagaimana fisik nabi Muhammad yang sesunguhnya dan yang kedua, Kita harus berpikir jernih dan jangan mudah terprovokasi. Semoga masalah ini cepat selesai dan kita bisa hidup berdampingan walaupun agama berbeda agama dan saling menghormati.


Malang, 3 November 2020
Pondok Pesantren Darun Nun 
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar