Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

INKORPORASI DIGITAL NATIVE DENGAN LITERASI DI LINGKUNGAN PESANTREN


Oleh: Astri Liyana

Perkembangan teknologi telah membawa kita pada era digital seperti sekarang ini. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah-tengah era digital, kecanggihan teknologi seakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai sektor kehidupan membutuhkan media digital, baik akademik maupun non-akademik. Sehingga, bersinggungan dengan media digital merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

Pengaruh dari perkembangan teknologi pun dapat kita lihat dan rasakan. buktinya, tanpa disadari kemunculan teknologi ini menjadikan kita generasi yang super cepat dalam menggali informasi yang dibutuhkan, tidak hanya dalam negeri, informasi di luar negeri pun dapat diakses dengan mudah. Selain itu, perkembangan dunia digital juga memudahkan masyarakat dalam berinovasi, salah satunya memunculkan konsep digital native yang dapat kita manfaatkan khususnya dalam bidang pendidikan saat ini.

Marie Marten dalam disertasinya (2011) menyatakan bahwa digital native merupakan generasi yang lahir dan dibesarkan di lingkungan teknologi digital. Digital Native ini dicetuskan oleh seorang pemerhati pendidikan yakni Prensky. Beliau menggambarkan digital native sebagai kelompok orang yang yang tenggelam dalam dalam dunia teknologi digital dan membandingkan dengan “Digital Immigrants” yaitu kelompok yang lebih tua dan baru beradaptasi dalam dunia teknologi digital.

Berfokus pada digital native yang mampu menyadarkan kita akan pentingnya memahami perkembangan zaman, memahami perilaku dan watak generasi yang lahir bersamaan dengan era teknologi digital, seperti belajar melalui komputer, telepon selular, dan lain sebagainya, tentu saja membawa perubahan terhadap cara belajar anak, remaja, pendidik, serta peserta didik. kecanggihan teknologi digital ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dan kefasihan dalam menggunakan teknologi digital, guna membangun daya saing yang berkualitas dalam dunia modern. Oleh karena itu, aspek pendidikan dengan konsep digital native sangat relevan dengan keadaan sekarang ini.

Dari pemaparan di atas, penulis mencoba untuk menginkorporasikan (menggabungkan) pendidikan digital native dengan literasi di lingkungan pesantren. Tidak hanya legacy content (membaca, menulis, berpikir logis, dan lain-lain), tapi juga future content (segala hal yang digital dan teknologis). Dalam hal ini, pesantren diharapkan memberikan fasilitas serta mendukung konsep literasi dengan digital native dalam rangka kepeduliannya mengenai kurikulum pesantren dan pola pikir santri yang memang patut untuk diperhatikan, agar kelak lulusannya berkemampuan menggunakan dan  menciptakan informasi dan media dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu bersaing di kancah yang lebih luas.

Apakah inkorporasi (penggabungan) digital native dengan literasi di pesantren itu penting? Tentu penting. Dalam meningkatkan mutu pesantren, hal yang harus dilakukan salah satunya dengan cara memperbarui kurikulum pesantren berdasarkan kebutuhan tuntutan zaman, seperti mengembangkan teknologi digital ini. Sebab, dari masa ke masa tuntutan kebutuhan zaman semakin kompleks, berkutat dengan kitab kuning saja belum cukup untuk menjawab permasalahan yang ada di sekitar kita. Misal, ketika lulusan pesantren bekerja di perusahaan internasional atau di perusahaan games online yang pekerjaannya menggunakan media digital, jika ia melek teknologi maka itu akan memudahkan pekerjaannya.

   Contoh yang lebih sederhana, ketika kita mempelajari bahasa asing, teknologi menjadi salah satu media yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pengetahuan bahasa dan skill berbahasa. Melalui teknologi digital kita bisa mengakses video mengenai bahasa asing yang ingin dipelajari, belajar bahasa melalui computer games, storytelling, dan lain sebagainya. Dengan memanfaatkan konsep digital native ini, selain meringankan tugas guru, juga memberikan pengetahuan, pengalaman, serta meningkatkan keterampilan teknologi bagi santri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inkorporasi (penggabungan) digital native dengan literasi di pesantren merupakan hal yang penting dan dibutuhkan pada masa ini. Selaras dengan pendapat Laxman Pendit dalam artikelnya, bahwa literasi sesungguhnya merupakan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan sumber daya, mengombinasikan pengetahuan tentang sumber daya, dan pengetahuan tentang cara diseminasi/penyebarannya.

Sehingga, orang-orang yang termasuk digital natives meskipun di pesantren, mereka tetap bisa mengembangkan literasi dan  identitasnya melalui teknologi digital. Seperti, membentuk sistem pembelajaran virtual, mengadakan pengajian kitab kuning secara virtual, kemudian diunggah ke Youtube, Instagram, sebagaimana yang telah membudaya di era pandemi ini. Wallahu a’lam bisshowab.

 

Sumber:

Laxman Pendit, Putu. 2013. Digital Native, Literasi Informasi, dan Media Digital-Sisi Pandang Kepustakawanan. Seminar dan Lokakarya Perubahan Paradigma Digital. Universitas Kristen Satya Wacana.

Marie Martin, Ellen. 2011. Digital Natives and Digital immigrants: Teaching with Technology. Disertasi. College of Professional Studies Northeastern University Boston. Massachussetts.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar