Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GIGI-GIGI PANJANG

http://lampun.tribunnews.com/

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana


       Gabah di sawah kampungku telah menguning. Masyarakat berlomba-lomba menentukan hari dimana mereka akan mengangkut hasil tuaiaannya selama 70 hari ke lumbung. Paman-paman dengan ceruk di genggamannya, dan bibi-bibi mengenakan caping anyaman bambunya, nampak bersiap memotong lalu menggiling buliran gabah dari tangkainya. Hatiku senang tatkala musim panen bertandang. Setiap pagi selama tujuh hari, jalanan akan ramai dilalui mobil bak untuk mengangkut berkarung-karung hasil gabah. Anak-anak kecil berlarian membuntuti ibunya untuk mengirim bekal ke sawah. Tak lupa cerita bibi-bibi setelah berjibaku di tengah sawah, namun tak sesuai hasilnya.

       Aku ingin pulang. Biasanya aku turut mengangkat gabah dari pematang ke badan mobil bak. Bersenda gurau dengan paman-paman di sawah, seakan menjadi obat penawar rasa lelah usai bekerja keras di bawah terik surya. Menyantap kepulan nasi hangat berlaukkan sambal terasi tak lupa tempe tahunya, menjadi moment makan yang langka untuk ku dapatkan kembali.

"Bagaimana kuliahmu Bar ??" 

"Alhamdulillah, tahun depan Insyaallah Barta wisudah mak" 

"Alhamdulillah"

Usai bersapa kabar dan pendidikan, Emak berniat untuk menutup panggilannya. 

"Sekejap mak, bagaimana hasil sawahnya mak ??"

       Mataku tidak berhenti terbelalak sepanjang bercerita tentang kondisi kampungku sekarang. Suara parau Emak yang terdengat berbata-bata, mengiaskan perasaan emak yang tercabik-cabik disana. Hasil panen yang biasanya mencapai puluhan ton, kini hanya mendapat sepuluh karung gabah saja. Bukan hanya Emak, masyarakat kampungku juga sedang dilanda dilema yang mendalam. Sawah sudah menjadi tempat paling nyaman setelah surau dan rumah. Semua kepala yang tinggal disana hidup bergantung dari hasil sawah.

"Bagaimana bisa terjadi mak ?"
Kata Emak tahun-tahun sebelumnya tidak pernah gagal panen separah ini. Emak juga bercerita tentang sebuah proyek yang akan dibangung di hutan sebelah kampungku, mengharuskan tidak sedikit pohon untuk ditebang.

       Mendengarnya, aku dapat menyimpulkan bahwa sumber masalah datang dari proyek itu. Tikus-tikus hutan yang rakus makanan, akan kehilangan tempat tinggal dan tempat mereka mencari makan. Akar pohon yang biasanya menjadi sarang setiap hari sudah tiada lagi, jadi mereka akan mencari tempat yang baru lagi, yaitu sawah. Mengingat bahwa sawah di kampungku bersebelahan dengan hutan. Makanannya diambil oleh manusia, maka mereka juga akan kembali mengambil makanan manusia. Alhasil banyak sawah yang gagal panen, akibat gigi-gigi panjang mereka.

       Mungkin disana kini bibi-bibi menggantungkan capingnya dan paman-paman menyimpan mata sabitnya yang biasanya kotor oleh lumpur sawah. Tak ada lagi mobil bak dan tawa anak-anak berlalang memenuhi badan jalan. Aku benar-benar terpukul atas kegagalan panen tahun ini. Semoga kepelikan ini akan segera bisa diatasi. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar