Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BROKEN HOME DAN HATI YANG MATI



Fitriatul wilianti

Seperti biasa, aku duduk diatas kasur sambil bersandar di tembok kamar dilengkapi headset di telinga dan layar hape yang seakan tidak pernah kotor karena gesekan jari yang tak pernah berhenti. Mataku sampai berair karena terlalu lama menatap cerahnya layar, ku coba untuk sedikit berbaring dengan headset masih ditelinga, berusaha tenangkan pikiran agar mulai mengantuk. Akan tetapi pikiranku seakan tak teralihkan dari hape ditangan. Kembali ku menatap hapeku dengan jari tangan yang sepertinya sudah hafal tujuanku dan bekerja sama dengan pikiran, hampir semua hal sudah aku tonton baik di Instagram maupun di YouTube, tapi tak sedikitpun mengalihkan ku untuk berpindah ke objek yang lain, pikiranku tidak teralih dengan apapun selain hape. Pikiranku kosong, sampai aku tidak tahu lagi harus melihat apa, hanya sekedar membuka tutup Instagram dengan tontonan lama dan bergantian dengan YouTube WhatsApp dan lainnya, hingga pikiranku teralih oleh suara yang sudah tidak asing lagi bagiku.

Nayaaa nayaa nay? Namaku dipanggil berkali-kali, yaa tentu saja itu suara ibuku. Iyaa buuuuk?, sahutku dengan nada lesu dan rasa malas. Sini bantuin ibu mindahin barang-barang ke gudang, ucapnya. Mendengar itu aku sedikitpun tidak bersuara, hanya menarik napas panjang dan kembali ke layar hape. untuk sekarang entah kenapa moodku tidak pernah berubah, selalu sama "bad mood". semua orang ku abaikan, entah itu ibuku, teman-temanku, dan yang lainnya, yang seharusnya tak kuabaikan. Suara ibuku tidak sedikitpun menggeserkan posisi dudukku. Sampai beberapa kalipun ibu memanggil tetapi tidak sekalipun kujawab. Entah apa yang merubahku, entah dimana Naya yang dulu? anak rajin yang bahkan tidak berani sedikitpun melawan perkataan ibunya.

Hari-hariku selalu seperti itu, berdiam diri di Kamar dengan hape dan headset di Telinga, dan hanya keluar untuk beberapa kepentingan pribadi dan perut yang lapar saja. Pekerjaan rumah yang dilakukan ibuku setiap pagi, sore, bahkan malam hari sedikitpun tidak menggerakkan hatiku pada rasa peduli. Kata-kata yang dilontarkan ibu untuk kebaikanku ku anggap ocehan belaka saja, sedikitpun tidak tersimpan di hati. Sepertinya hatiku sudah mati, tidak berperasaan. Seberapa lamapun aku merenung, hatiku tidak pernah berubah, sama sekali. Sampai aku tersadar, semua terjadi sebab Ayahku yang pergi untuk meninggalkanku selama-lamanya, iyaa ayahku meninggal, telah meninggal dunia. Aku tidak ingin curhat, hanya saja sedikit bercerita tentang bagaimana perasaan dan keadaanku agar kalian tidak hanya menyalahkan ku dan sikapku.

Sebelum hari-hari membosankan yang ku jalani sekarang, sebelumnya aku adalah anak paling bahagia di seluruh dunia menurutku. Aku anak tunggal yang berkecukupan, tidak pernah kekurangan dan dicintai semua orang, ku kira diriku termasuk anak baik, karena dikelilingi oleh banyak teman dan orang lain di sekitarku. Sampai suatu hari di hari ulang tahunku yang seharusnya hari paling bahagia bagiku terganti dengan berita duka karena kematian ayahku. Ayahku meninggal karena kecelakaan mobil karena mengejar ibuku yang marah dan pergi dari rumah. Dihari-hari sebelumnya aku sudah beberapa kali mendengar pertengkaran ayah dan ibuku tetapi aku tidak mengetahui permasalahannya dan ku abaikan. Aku tidak ingin terlalu ikut campur, karena menurutku itu urusan orang dewasa saja, aku sibuk bersama teman-temanku berpergian mengisi masa muda dan menambah daftar kebahagiaan dalam hidup. Dan sampai sekarang tentang masalah pertengkaran ayah dan ibuku, dan apa alasan ibuku ingin meninggalkan rumah, aku tidak tahu.

Yang aku tahu, ayah yang aku cintai meninggalkanku selamanya karena mengejar ibu yang ingin pergi dari rumah dan meninggalkanku. Hanya itu yang aku pikirkan, dan sepertinya pikiranku tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku sudah berusaha, mendengarkan dan berbahagia kembali dengan ibuku, tetapi tidak bisa, hatiku semakin sakit sampai tidak tertarik dengan apapun lagi. Semua teman-temanku ku jauhi, kesenangan dunia dan semuanya kutinggalkan, dan aku tidak menyesal dan tetap kujalani kehidupanku seperti hari-hari ku sekarang. Dan untuk kalian yang membaca tulisan ini, semoga bisa memahami perasaanku, jangan menyalahkan, aku sudah berusaha berubah tetapi hasilnya tetap sama. Hatiku terlanjur Mati.

SELESAI.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar