Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bersabarlah Seperti Namamu

Sumber : https://1.bp.blogspot.com/-PI0ke3L3q2A/X7W6-Os5WhI/AAAAAAAAIUU/HBP1dUjO7fA7bjH1knuBImMXotyjXb1TwCLcBGAsYHQ/s1280/2020-06-26%2B07.53.49%2B1.jpg

Oleh : Mutiara Rizqy Amalia

 

Rerumputan saling bersimpuh tunduk bersahutan menyungkum tanah. Melambai dan berdansa bersama angin. Sesekali memutar, menyamping ke kanan dan ke kiri. Dan lihatlah pohon yang berdiri tegak menjulang ke langit. Akarnya mencengkram kuat menerobos masuk bentala. Rambut akarnya beranak pinak dan tumbuh bersama. Lalu mengirimkan air kepada tunas daun. Reranting mengulur ke segala arah sambil dihias dedaunan hijau menyegarkan mata.

Kembang mawar duduk rapih berjejer sembari menikmati angin sepoi di bawah rindangnya pohon sambil mendengar dendangan kicau burung yang bersahutan. Mawarnya indah bewarna warni memperelok sekitar dengan keanggunannya. Sembari gerombolan lebah saling menyilangkan benang sari dan putik ditemani gemericik air mengalir menghantam bebatuan. Suara aliran itu begitu menenangkan hati bagi yang merasa.

Jika dilihat, mengapa deretan gedung-gedung pencakar langit berbaris di pinggir jalan? Untuk apa mereka berbaris rapi? Untuk menyambut kedatangan gundah ataukah melambai jauh untuk kepergian sabar. Jika gundah datang apakah hawa panas yang dirasakan ataukah pergi berlari ke puncak agar di peluk pepohon yang rindang. Jika sabar telah hilang, akankah kuat juga ikut pergi menjemput.

Sabar telah hilang bermandikan hujan bergegas lari dan menggandeng kuat. Ia begitu riang gembira. Berdansa indah meninggalkan para pencakar langit dan hati gundah telah luluh lantah berbaris bersama dengan gedung-gedung.

Saat hujan reda ia menuju pepohon dan rerumputan hijau membersamai mawar yang indah. Tak lama bunga tidur mulai menghampiri, dan rerumputan menyelimuti keduanya. Istirahat dengan tenang dari kebisingan gundah yang selalu saja mengacaukan jalan.

Tetiba doa datang menghampiri,

"Hey, bangun dan sambutlah dunia dengan segala keindahan yang menjadi penyempurna kehidupan. Lihatlah bagaimana angin berhembus dengan tenang lalu kau hirup hingga nafasmu tetap utuh. Lihatlah air yang bening masuk ke dalam raga yang menjadi penguat. Gravitasi membuatmu kokoh berdiri menemani beratnya Ihwal yang kau tempa."

"Jika ingin menangis, menangislah sepuasnya. Jika sudah, bangkitlah dan usap air mata yang menghiasi, lalu ganti dengan senyum manis yang menggurat di wajah cantikmu. Tenangkan hati dan bahagiakan diri sendiri. Lepaskan beban yang seenaknya duduk di atas bahumu!"

"Berhenti bertanya mengapa kuningnya daun saling berjatuhan saat musim gugur datang menjemput, mengapa daunnya hijau selalu membersamai bunga-bunga yang tumbuh begitu cantiknya yang membuat segerombol lebah datang bertamu saat musim semi berkunjung."

"Cukupkan semua dan kemarilah, peluk aku sekuat-kuatnya. Mari menengadahkan tangan bersamaku lalu sandarkan pada bahuku saja, aku akan menenangkanmu. Sebab kesedihan telah membuatmu jatuh tersungkur, sedang aku akan memapahmu dan menjagamu dari ulah kesedihan. Mari bersama meninggalkan sesak yang kau pikul. Jika kelabu badai selalu menghalangi jalanmu, bersabarlah seperti namamu. Langit akan segera membiru menemani. Mari memabukkan diri dengan kebahagiaan. Segera datang kelembutan kasih yang merengkuhmu."

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar