Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bersabarlah Seperti Namamu (bagian 2)


Oleh : Mutiara Rizky Amalia

Sabar membalas,

"Bagaimana aku harus memulainya? Haruskah diriku memelukmu erat, dan kita menyungkum tanah bersama? Jika Kuat meninggalkanku, lantas bagaimana denganku? Membiarkan diri ini tersungkur berkali-kali? Lalu bebatuan menghujamku dan terbawa arus sungai bersama?."


"Jika memang benar Kuat benar-benar pergi meninggalkanku, bisakah kau memberi mutiara lautan nan indah kepadaku? Akan kujadikan mutiara itu sebagai penghias diriku yang melebur dial antara buih-buih lautan. Biarkan aku melekat pada mutiara, karena mutiara tetaplah mutiara. Bagaimanapun keadaannya, ia tetap mutiara yang memawan setiap mata yang memandang."


"Duka telah datang mendarah-darah dalam jiwa. Tak ada sesuatu yang akan kembali seperti semula. Pelayat duka terus menghampiri dan membahagiakanku. Namun acuh tak pernah  bertoleran. Tidak ada lagi kata baik-baik. Duka akan terus saja menghancurkan indah. Biarkan saja."


"Sudah berkali-kali mencoba tertawa untuk melupakan tangis. Sudah berkali-kali berdansa untuk meninggalkan angsa. Sudah berkali-kali bangkit untuk menjauh dari baring. Sudah berkali-kali terbang melepas tengger. Semuanya nihil."


Doa menjawab,

"Wahai Sabar, ingatlah sebelum kau tersungkur lebih dalam. Terpendam lantas terkubur dengan tanah. Kau ingat? Masa-masa bahagia mengarungi seluruh ragamu? Menari-nari dihiasi senyum di guratan wajahmu yang cantik? Lalu kupu-kupu datang menghampirmu dan kalian menari bersama. Begitu indah memandang wajahmu penuh bahagia."


"Cukupkan semua kesedihan yang membungkus tubuhmu. Biarkan ia pergi terbang bebas menembus cakrawala dan berganti dengan kilau gelap gemintang."


"Ingatlah, bahwa sesuatu yang diambil olehNya tak seberapa dibanding pemberianNya yang melimpah ruah. Berapa banyak kebahagiaan yang telah kau nikmati dibanding kesedihan yang kau rasakan sekarang? Berapa banyak nikmat lalu kau tinggalkan begitu saja?"


"Tiada perhatian yang kuberikan membalas balasan olehmu. Yang kuberikan kepadamu seluruhnya adalah kemurahan dari hati."


"Aku akan jadi sabar seperti namamu, kutunggu sampai sabar tunduk dan memelukku sambil menengadahkan tangan bersama. Semoga atas izinNya persoalanmu akan dipermudah. Aku akan bersabar sampai Sabar tau seberapa kesabaranku. Dan ketahuilah, bahwa yang paling pedih ialah berkhianat dengan diri sendiri. Silakan membiarkan khianat itu pergi dalam dirimu, dan tumbuhkanlah kembali sabar."


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar