Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BERLITERASI ALA KHILMA ANIS (PENULIS NOVEL HATI SUHITA)

 

Oleh : Siti Khoirun Niswah


             Telah banyak kita temukan penulis novel religi yang kebanyakan adalah dari kaum adam atau kaum laki-laki, dan mungkin dari mereka beberapa ada yang bukan berasal dari pondok pesantren. Tetapi belum lama ini banyak bermunculan penulis-penulis novel religi perempuan yang salah satunya ialah Ning Khilma Anis. Seorang penulis novel "Hati Suhita" yang menulis karyanya dengan berbagai macam perpaduan. Di antaranya beberapa karya yang ia tulis selalu berlatar belakang pesantren, wayang, tanah Jawa, romantika, pesan-pesan islami dan juga penggambaran tentang sebuah perasaan. Beberapa karya yang ia tulis telah sampai pada pemikiran yang tidak sekedar pembelajaran bagi kehidupan. Namun juga sejarah, kebudayaan, adat istiadat masyarakat Jawa melalui cerita-cerita wayang yang membumbui cerita dalam novelnya. Yakni salah satu karya novel dengan judul "Hati Suhita" yang telah laris terjual hingga lebih dari 80.000 cetakan, menjadi best seller, dan menjadi buku incaran kaum hawa di Indonesia khususnya kaum pesantren yang notabene Islam, bahkan juga ada dari kaum non-muslim yang menyukai novel tersebut.

Beberapa cara yang dapat kita jadikan sebagai contoh dalam menulis sebuah karya dari sosok Ning Khilma Anis, yaitu pertama, dalam mengambil sebuah tema dan cerita yang akan diangkat adalah berdasarkan pada apa yang diminati oleh penulis atau apa yang disukai oleh penulis. Karena jika seorang penulis menyukai sebuah cerita atau ide yang akan diangkat, maka seorang penulis akan terlena dengan ceritanya, sehingga lebih mudah menemukan ide-ide untuk menentukan cerita-cerita selanjutnya. Misalnya cerita tentang "Hati Suhita". Penulis novel “Hati Suhita” ini menyukai sebuah cerita yang berkaitan dengan perasaan, cinta, kesabaran, kekuatan spiritual, religi, keislaman yang melekat pada kehidupan, dan juga hikmah yang dapat diambil dari cerita yang akan diangkat. Lalu cerita tersebut berasal dari latar belakang pesantren, karena penulis “Hati Suhita” sendiri adalah seorang santriwati dari Tambak Beras-Jombang. Artinya penulis novel tersebut juga sangat menyukai kehidupan di pondok pesantren, mengetahui lika-liku menjadi santriwati, kehidupan di pondok pesantren, sosial dan budaya yang ada di pesantren, dan sebagaimana yang pernah penulis tersebut rasakan ketika menjadi santri. Namun dalam hal ini bukan berarti cerita yang diangkat merupakan kisah kehidupan yang dialami oleh penulis. kecerdasan penulis dan ide yang tercipta dari seorang penulislah yang menggambarkan seperti keadaan dalam cerita seolah kehidupan yang dialami penulis. Itulah salah satu keunggulan kita dalam berliterasi. Sebagai penulis dapat memberikan inspirasi, manfaat dan juga perubahan yang lebih baik setelah membaca karya yang disajikan oleh seorang penulis.

 Kedua, penulis tidak hanya menulis sesuka hati apa yang ada di pikiran. Karena pikiran dan perasaan seseorang bisa saja salah. Maka dalam menulis juga harus dilengkapi dengan teori. Lalu bagaimana cara mendapatkan teorinya? Hal itu yang sering menjadikan para penulis merasa insecure untuk menulis. Karena mungkin merasa bukan ahlinya dalam bidang menulis, karena tidak mempunyai banyak teori dan beberapa alasan lainnya yang menjadikan sulit untuk memulai menulis. Padahal untuk mendapatkan teori, kunci utamanya adalah memperbanyak membaca. Begitulah penjelasan dari seorang penulis perempuan yang mengangkat cerita pesantren dilengkapi dengan cerita wayang sebagai khas cerita masyarakat Jawa. Penulis “Hati Suhita” ini membaca banyak buku untuk menemukan referensi, teori-teori, dan juga sejarah sampai pada Perpustakaan Nasional Jakarta. Tujuannya apa? Untuk memberikan ilmu yang lebih luas terhadap pembaca. Dengan membaca novel “Hati Suhita” Pembaca dapat mengetahui cerita-cerita wayang dari masyarakat Jawa, adat dan  budaya pondok pesantren, serta kepribadian penokohan dalam cerita. Selain itu yang paling penting adalah hikmah yang dapat diambil dari cerita yang telah dipaparkan.

Ketiga, sering-sering berdiskusi dengan para ahli. Para ahli di sini merupakan seseorang yang memiliki hobi membaca, menulis dan juga giat dalam mencari ilmu. Hal ini bertujuan untuk sharing, mendapat masukan, arahan, kritikan dan juga bimbingan untuk mengembangkan tulisan sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain dari berbagai sudut pandang. Sering berdiskusi dengan banyak orang, semakin memudahkan seseorang dalam menemukan ide-ide dan tema apa yang akan diangkat dalam cerita yang akan ditulis. Karena dalam berdiskusi akan memunculkan ide untuk saling bertukar pikiran antar individu, sehingga saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Membiasakan berdiskusi dengan banyak orang akan memudahkan seseorang untuk menciptakan inspirasi dan mengurangi kegalauan serta mengurangi rasa insecure dalam menerbitkan karya yang kita miliki. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang suka menulis, membaca, dan memiliki ilmu yang cukup, namun untuk menerbitkan suatu karya kemudian dibaca oleh orang lain, penulis masih merasakan khawatir dan malu. Dengan berdiskusi terlebih dahulu, minimal ada orang lain yang terlebih dahulu membaca karya yang kita terbitkan. Setelah berbagai masukan, tambahan dan pujian akan menambah rasa percaya diri ketika orang lain membaca karya yang akan diterbitkan. “Menulis bukan hanya memberikan (ilmu) tetapi juga memberikan manfaat pada diri kita, terlebih jika bermanfaat untuk orang lain, menulis dapat menjadi salah satu amal jariah”


Dikutip dari seminar bedah buku “Hati Suhita” Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional. 

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar