Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

APAKAH JILBAB MENENTUKAN KEDUDUKAN SEORANG PEREMPUAN?


Oleh: Astri Liyana Nurmala S.


Siapa yang tidak tahu aplikasi TikTok? Sebuah platform media sosial yang saat ini digemari masyarakat di berbagai kalangan usia. Aplikasi ini kerap kali dijadikan ladang bisnis, berbagi informasi, media belajar, termasuk sebagai hiburan semata. Bahkan bagi saya pribadi, scroll-scroll TikTok seolah menjadi hobi baru saat ini.

Namun, ada satu video yang membuat saya risi dan bertanya-tanya. Di video tersebut menayangkan perbedaan jilbab yang dipakai oleh seorang ustadzah dan seorang politikus. Jilbab yang dikenakan seorang ustadzah cenderung lebih maju dan menutupi sebagian dahi. Sedangkan, jilbab yang digunakan oleh politikus berbanding terbalik dengan itu. Lengkap dengan captionnya bahwa semakin jilbabnya ke belakang, maka kedudukan perempuan itu semakin tinggi. Hingga saat ini, saya masih mempertanyakan, “Apakah benar jilbab bisa menentukan kedudukan perempuan?”

Sama halnya dengan pertanyaan dari Saudari Kalis Mardiasih dalam artikelnya yang berjudul "Selembar Kain Kerudung di Kepala Politikus Perempuan" yang menyatakan “Apakah beda selembar kain di kepala tukang potong ayam di pasar dengan selembar kain yang ada di kepala penceramah agama? Apakah beda selembar kain di kepala politikus dengan selembar kain di kepala santriwati di pesantren?”.

Pada dasarnya, bahan pembuatan kerudung ialah sama dengan bahan pembuatan taplak, serbet, baju pantai, dan sebagainya. Hanya fungsionalnya saja yang berbeda. Akan tetapi, mengapa ada stigma yang membedakan perempuan yang sama-sama berhijab dan menjalankan ritual yang sama malah dianggap berbeda kedudukannya, terutama dalam hal kesalehannya.

Selain itu, ada pula sebuah challenge (tantangan) di TikTok “Waktu pakai jilbab dan tidak pakai jilbab check”. Tidak sedikit perempuan yang benar-benar memakai dan melepas jilbabnya untuk mengisi konten agar terpenuhinya challenge tersebut. Melihat fenomena itu, hal yang paling menarik bagi saya tentu saja membaca komentar netizen yang maha benar itu. Karena itulah jalan ninja saya, hehe. Komentar yang saya temukan sebagian besarnya adalah hujatan dan mengklaim bahwa ia bukan wanita yang baik dikarenakan ia melepas jilbabnya di depan umum.

Pada titik inilah, teks agama menjadi sumber dan rujukan utama untuk mengatasi perdebatan ini. Sebagaimana  QS. Al-Ahzab ayat 59 dan QS. An-Nur ayat 31 yang merupakan ayat-ayat yang menyerukan tentang penggunaan jilbab. Mengutip dari Islami.co bahwasanya, menurut Ibn Rusyd seorang tokoh Islam Klasik dan As-Syaukani seorang pengarang kitab Nail al-Authar, menyatakan ayat tersebut menjadi rujukan dasar hukum batasan aurat perempuan. Dalam QS. An-Nur ayat 31 terjadi perdebatan di kalangan ulama yaitu pada frasa illa ma dzahara minha. Sebagian ulama ada yang menafsirkan sebagai sesuatu yang terbuka dengan tidak sengaja, demikian pula seluruh tubuh, termasuk telapak tangan dan wajah merupakan aurat.

Selanjutnya, pemahaman tersebut diikuti oleh Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibn Hanbal. Sedangkan, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik menafsirkan frasa tersebut sebagai telapak tangan dan wajah. Oleh karena itulah, selain telapak tangan dan wajah ialah aurat.

Adapun Imam al-Qurtubi dalam Jami’ li Ahkam al-Qur’an, masih mempertanyakan terkait frasa tersebut. Menurutnya, bagian tubuh perempuan yang dianggap sebagai aurat itu bergantung pada kebudayaan masing-masing. Begitu pun menurut Az-Zamakhsari dalam tafsir al-Kasysyaf, maksud dari frasa tersebut adalah sesuatu yang tampak menurut adat setempat. Sehingga, kewajiban menutup aurat itu tergantung pada bagian mana tubuh perempuan yang dianggap tabu oleh masyarakat tertentu.

Dengan demikian, dari dua surat yang telah disebutkan tadi, tidak ada kejelasan terkait perintah menggunakan jilbab, tetapi lebih pada kewajiban berpakaian menutup aurat yaitu menutup anggota tubuh perempuan yang dianggap tabu oleh masyarakat tertentu. Oleh sebab itu, menggunakan jilbab ialah kebebasan bagi perempuan mana pun yang ingin menggunakannya. Mereka memiliki hak untuk berjilbab ataupun tidak.  Sehingga, dalam hal ini toleransi sangat penting, terutama sesama perempuan, bukan malah menghujat dan sejenisnya.

Lebih dari itu, jilbab tidak ada hubungannya dengan kedudukan seorang perempuan, dan tidak menjadi simbol serta tolak ukur keimanan dan kesalehan seseorang. Karena ditinjau dari fungsinya, jilbab memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai penutup kepala seorang perempuan. Adapun stigma yang menyebabkan diskursus terkait jilbab, dikarenakan fenomena yang terjadi di masyarakat. Wallahu a’lam bisshowab.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar