Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ANAK MAHAL


Gubukgambar.blogspot.com


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

       Di dalam bar lumayan besar yang diselimuti cahaya lampu remang-remang. Tiga mata tajam saling beradu pandangan, menghadap meja bundar yang berisi botol minuman brwarna hijau gelap dan tiga gelas kecil berjajaran. Hampir setiap larut malam bar ini ramai dihinggapi orang, semakin malam semakin berisik oleh celotehan. Didominasi kaum pria berusia muda maupun berbadan dua, tak jarang gerbekan warga membabi buta untuk menyerangnya. "Kau boleh pulang jika sudah menghabiskan segelas ini !"
       
       Malam ini adalah kali pertamaku menginjak ubin kedai. Udara dingin khas malam usai hujan seketika raib tatkala tubuhku tenggelam penuh ke dalam ruangan berbentuk persegi itu. Di sebelah pojok belakang nampak gerombolan daun muda mengerubungi meja billiard, dengan sesekali terbahak lepas. Di sampingnya ada ruangan kecil yang disekat dinding papan, aku menduga itu adalah toilet. Ada empat tiang penyangga berdiri kokoh di tengah ruangan, sedang di bawahnya deretan meja kursi bersusun rapi. Beberapa ada yang sudah diduduki dan sisanya hanya ada bekas botol tak berisi. Keputusanku untuk datang kemari bukan murni dari hati. Namun karena Capardi, aku kalah talak taruhan dengannya setelah tim sepak bola kebanggaanku tertinggal sekor jauh dari timnya. Padahal tidak biasanya mereka kalah menghadapi lawannya.

       Berbeda dengan Capardi yang mengerjapkan kepala ke kanan dan kiri seperti sedang mencari-cari, aku hanya membatu menatapi ponselku. Capardi memang acap datang ke bar ini, jadi mungkin ia sedang mencari temannya disini. Dan benar, pria sebahu dengannya datang menghampiri. Rambutnya panjang terikat, telinganya bertindik coklat. Ia mengenakan singlet ketat gelap, sehingga membentuk otot besar dada dan lengannya yang bertato. Firasatku semakin tidak karuan, saat Capardi mengajakku berjalan membuntuti pria bertato itu. Beberapa mata meyorotiku angkuh seraya saling berbisik menggerutu. Aku tidak mempedulikannya hingga tibalah kami di meja paling belakang, mungkin berjarak tujuh langkah dari pemain bilyard di sebelahnya. 

"Kau jangan gugup, kita akan bersenang-senang disini" senyumnya ketus, aku seperti merasa berada dibawah kendalinya. Jika saja, jika saja, jika saja !! Sudahlah semua telah kepalang basah. Aku mengangguk pelan menjawabnya.

Seorang pelayan perempuan bercelemek motif papan catur membawa empat botol tanggung juga dua gelas kaca.

"Aku suka minuman ini, ku harap kau juga suka setelah mencicipinya" Capardi menuangkan setengah gelas cairan bening lantas menyuguhkannya kepadaku. Pria bertato itu hanya menggigit jari dengan sedikit tertawa geli melihat Capardi mengajariku untuk meneguk segelas cairan itu. Aromanya menyengat, menandakan bahwa minuman ini tidak layak untuk dikonsumsi. 

"Kau boleh mencobanya dulu bersama temanmu itu" jawabku mempersilahkan Capardi seraya mengembalikan segelas cairan bening kepadanya dan menuangkan segelas lagi untuk temannya. "Baiklah, tapi kau harus janji untuk meneguknya setelah ini" Tenggorokannya bak sudah biasa terguyur minuman aneh itu. Sejurus kemudian cairan itu habis tak bersisa. Aku masih menunggu reaksi dari minuman ini bagi orang yang telah meneguknya. Jika aman, maka aku akan mencobanya.

"Sekarang giliranmu, kau boleh pulang jika sudah menghabiskan segelas ini !" Capardi kembali menuangkannya kepadaku. Sejauh ini ia baik-baik saja, tidak ada yang terjadi dengannya. Aku merenggut botol hijau gelap dari tangannya.

"Biarkan tanganku menuangkannya sendiri bor" Capardi menyimpulkan senyumnya, padahal ia tidak tahu jika aku akan, "Pyarrr" cairan itu membasahi ubin bersama kepingan botol hijau gelapnya. Mata Capardi terbelalak ke arahku, namun aku hanya menyikapinya dengan santai.

"Jangan khawatir, aku bisa memesannya lagi"

"Baiklah" 

       Kembali perempuan bercelemek menyeimbangkan nampannya. Aku sengaja memesan botol yang berbeda dan meminta agar pelayan menukar dua gelas kecil dengan yang berukuran lebih besar lagi.

"Kau memesan botol yang salah anak muda" pria bertato itu akhirnya angkat bicara.

"Oh ya ? Bukankah warnanya sama-sama hijau gelap ? Apa yang membuatnya beda ?" 

"Kau akan tahu setelah meneguknya, berikan botol itu padaku ! Biar ku tuangkan untukmu" Capardi balas merenggut botol dari tanganku. Aku tidak bisa berkutik lagi. Ku menyodorkan gelas kecil ke arahnya, ia kembali mengulum senyumnya. 

"Isi gelas itu untuk kalian juga !" 

Capardi terdiam sejenak. 

"Aku butuh teman untuk bersulang" tambahku. 
Ia benar-benar menuangkan minuman yang kali ini baunya lebih menyengat ke dalam dua gelas besar. Satu. . . Dua. . Tiga "Thinghkk"

Capardi dan temannya meneguk habis isi gelasnya, sedang aku hanya berpura-pura minum belaka. Saat mereka menurunkan gelas, sebaliknya aku masih menggantungkannya di mulutku sembari terus berlagak seperti sedang meminumnya. Setelah ku rasa cukup lama, aku menurunkannya. Benar saja, mata Capardi dan temannya nampak kuyu, wajahnya berkeringat basah. Ia mabuk seraya mengoceh tak jelas sedang temannya sudah tertidur pulas. Tak lama kemudian, Capardi menyusul temannya. 
       
       Perutku terlalu berharga untuk dijejali minuman tak halal ini, dan aku terlalu mahal untuk berkunjung ke tempat naif ini. Sudah berpuluh juta rupiah bersarang di otak untuk mengajariku banyak ilmu agar meninggalkan hal bodoh semacam ini. Aku berlalu keluar meninggalakn Capardi yang terkapar di atas sofa lebih panjang setelah ku bopongnya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar