Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TRADISI BAU NYALE SEBAGAI IDENTITAS SUKU SASAK

 
Oleh: Izzat Imaniya

       Apakah pernah terpikir jika kita memakan cacing laut ? Mungkin sangat menjijikkan jika kita membayangkannya, namun hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Lombok sekalipun tidak semua orang bisa mengkonsumsinya. Di bagian pesisir pantai selatan pulau Lombok merupakan lokasi dimana para masyarakat  melakukan salah satu tradisi yang turun temurun, tepatnya di pantai Seger, pantai Aan, pantai Kuta untuk daerah Lombok Tengah, dan untuk daerah Lombok Timur berlokasi di pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan kecamatan Jerowaru. Tradisi bau nyale merupakan tradisi menangkap cacing laut. “Bau Nyale” berasal bahasa sasak, kata “bau” berarti mengambil atau menangkap, dan “nyale” merupakan sebutan untuk sejenis cacing laut. 
       Di balik pelaksanaan tradisi bau nyale yang merupakan kejadian alam, terdapat cerita rakyat yang melegenda. Alkisah terdapat seorang putri yang sangat cantik, namanya Putri Mandalika. Selain memiliki paras yang cantik jelita, ia juga terkenal sebagai sosok yang bijaksana. Banyak putra raja dari kerajaan-kerajaan Lombok yang meminangnya untuk menjadi istri. Hal itu menyebabkan terjadinya peperangan antar kerajaan karena merebutkan Putri Mandalika. Melihat peperangan yang terjadi antar kerajaan, mengharuskan Puti Mandalika untuk membuat keputusan. Akhirnya Putri Mandalika menghanyutkan dirinya ke laut lepas. Sehingga masyarakat setempat mempercayai bahwa nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang menghanyutkan dirinya ke laut.
       Tradisi bau nyale tidak dilakukan setiap waktu melainkan memiliki waktu tertentu, yakni dua kali dalam setahun di hari ke-19 dan 20 dari bulan ke 10 dan 11 sesuai dengan penanggalan suku sasak, atau bertepatan dengan sekitar bulan Februari dan Maret. Bulan dimana waktu nyale keluar ke permukaan laut disebut dengan nyale tunggak (nyale yang keluar pada bulan ke-10) dan nyale poto (nyale yang keluar pada bulan ke-11). Nyale-nyale kebanyakan keluar saat nyale tunggak atau pada saat bula ke-10. Biasanya pemerintah setempat melakukan festival ketika nyale sudah mulai keluar, banyak pentas pentas seni yang ditampilkan, seperti peresean, penampilan dari penyanyi penyanyi lokal, dan ada juga perempuan-perempuan yang dihias secantik mungkin dengan pakaian yang sangat unik kemudian berjalan mengelilingi pantai  atau daerah tertentu yang merupakan simbolis dari sosok Putri Mandalika sembari diiringi dengan gendang belek yang merupakan alat musik suku sasak. Festival ini bukan hanya dimeriahkan oleh masyarakat Lombok, banyak juga wisatawan yang datang dari luar daerah atau luar negeri untuk berpartisipasi dalam memeriahkan festival ini. Mereka datang sejak malam hari dan memasang tenda-tenda di pantai untuk bermalam, karena nyale atau cacing laut yang termasuk dalam filum annelida ini hidup di dalam lubang-lubang batu karang yang ada di bawah permukaan laut, kemudian nyale akan diambil ketika air laut surut sekitar jam 4-5 pagi. Oleh karena itu, masyarakat atau wisatawan bermalam di pantai untuk menyaksikannya. Untuk mengkonsumsi nyale ini dapat dimasak sebagai lauk atau ada juga yang mengkonsumsinya dalam keadaan nyale masih hidup, setelah ditangkap masyarakat langsung memakannya di tepi pantai. 
       Tradisi ini sangat menarik bukan ? Teman-teman yang ingin mencobanya bisa berkunjung ke pulau Lombok, karena pulau kecil yang sering disebut dengan pulau seribu masjid ini memiliki tradisi tradisi yang sangat menarik, dan banyak juga destinasi wisata seperti gunung rinjani, segara anak, dataran tinggi sembalun, bukit merese, pantai pink, 3 gili Lombok yang paling eksotis, wisata desa sade, wisata religi masjid kuno bayan beleq, dan masih banyak lagi keindahan alam lainnya yang bisa kita nikmati dan tadabburi atas ciptaan Allah yang Maha Kuasa. 

Malang, 5 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar