Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TERLANJUR SEMANGAT

Oleh: Ahmad Jaelani Yusri

            “Hitam , dia yang berbaju hitam , duduk di bangku hitam , menopang lengan diatas meja hitam ,hitam !!!!!!!”

            Suara menggelegar terdengar dari pojok kelas , suara yang sangat khas dan sangat familiar dikalangan santri di pondok itu.

            “Berisik banget sih ,mentang-mentang mau tampil “ Sergah Ubed yang nampak kesal dan jengkel mendengarnya.

            “Begitulah kalau sudah ditunjuk oleh panitia , semangatnya bukan main , ane aja sampe terheran-heran sama dia bed “ Timpal Subhan.

            Pondok sebentar lagi akan merayakan dirgahayu kemerdekaan RI. Seperti tahun-tahun sebelumnya Pondok Tanwirul Qulub akan menjadi pusat acara setingkat desa dan tentunya akan banyak tamu undangan yang hadir entah dari instansi pemerintahan maupun sekolah lainnya.

            Fandi seketika ditunjuk oleh panitia. Dia diberi mandat untuk mendeklamasikan puisi bertema kemerdekaan. Tawaran itu langsung ia terima dengan senang hati. Jiwa sastranya nya sangat menggebu-gebu  terlebih ia pernah menjuarai lomba teater untuk desanya .

            Dengan cepat setelah turunnya perintah, ia ambil langkah seribu untuk membuat teks puis. Betul saja dia berlari ke kelas sambil membawa buku khususnya dan secarik kertas .

            “Aku harus bisa dan pasti bisa , tak ada kata tidak bisa dalam kamus Sufandi” Gumamnya dalam hati.

            “Tapi kira-kira apa ya?, perkara yang asik untuk dibuat puisi “ Kali ini ia berbisik untuk dirinya sendiri.

            “ Aha , tentang keadilan kayanya cocok deh “ Bisiknya lagi. Fandi telah menemukan bait pertama puisinya, di sana tertulis “ Yang berjas hitam”

            “ Ini pasti jadi puisi yang menarik , penonton pasti suka dan terhibur ! Hahahhahahha , tunggu aja ya penonton “ Kini ia tertawa kecil bagai orang kesurupan.

            Keesokan harinya Fandi berlatih dengan penuh energik dan antusias. Ia sangat yakin dan haqqul yakin akan bisa menghibur penonton. Jam menunjukan pukul 06.00 WIB , waktu yang sangat dini untuk pergi kekelas, karena saat itu kebanyakan santri pergi mandi dan istirahat sejenak selepas mengaji shubuh.

            “Semangat banget ente Fan , masih pagi begini juga, mau kemana sih? “ Tanya Omen, salah satu  teman kamar Fandi.

            “Mau ke kelas, mau latihan nih men! kenapa emang? Mau lihatkah? Hayukk!” Jawab Fandi dengan yakin.

            “Santai aja kali Fan, emang ente gak mandi dulu gitu“

            “Urusan mandi mah nomor dua yang penting ane harus tampil sempurna nanti tanggal tujuh belas “

            Omen hanya menggeleng-geleng kepalanya , tak paham dengan pola pikir temannya ini.

            Menjelang malam di saat sebagian santri belajar bebas dan bercengkrama  satu sama lain , Fandi melakukan sebaliknya. Ia terfokus pada satu hal yang sangat urgen baginya yaitu  berlatih puisi.

            Fandi mencari kelas yang terletak diujung bangunan, demi kenyamanannya juga kekhusu’annya. Ia berlatih gestur juga mimik yang akan dibawa nanti.

            Latihan secara instensif  itu ia lakukan selama seminggu sebelum hari kemerdekaan . bahkan banyak santri yang kagum akan kesungguhannya.

            Salah satu anggota paskibra pun sangat terkagum-kagum. Bagaimana tidak, ia tak akan berhenti berlatih sebelum Paskibra berhenti juga.

            “Kayanya penampilan Fandi bakalan seru nih, dilihat dari bait puisinya yang aneh , hehehhe” Ujar Faiz pada kawannya.

            “owh dia ya, kalo gak salah puisinya yang bunyinya hitam si baju hitam itu ya “ Balas kawan yang di sampingnya itu.

            Sehari sebelum tampil, Fandi tampak bersemangat ia kembali berlatih di sore hari . Ia mencoba berlatih di belakang kelas yang kala itu agak sepi.

            “Yang berjas hitam , duduk di bangku hitam bertopang lengan di atas meja hitam . Menatap hitamnya perkara dengan palu hitam .......“ Ucap Fandi dengan mimik  tegang menghayati puisinya.

            Dari kejauhan, Ubed dan kawan-kawan tertawa pongah melihat fandi. Mereka berpikir Fandi sudah terlalu percaya diri dan gila.

            “Liat si fandi , gak ada capek-capeknya latihan, padahal belum tentu ia bakalan tampil besok “ Ucapnya dengan remeh.

            “Kenapa gitu bed “ Tanya Subhan penasaran.

            “Ya jelas lah, besok itu acara yang sangat besar mencakup satu desa, dan gak mungkin pondok kita menampilkan penampilan lebih dari satu, sekolah lain kan juga mau tampil, ya kan ? “ jelas Ubed dengan nada ketus.

            “Bener juga ya , tapi ane tetep penasaran, mudah-mudahan aja dia tampil biar gak gila beneran , hehehehehh” Pungkas Omen.

            “....................dan menjadi hitam semuanya , hanya ada hitam di matanya yang hitam, arrrgh “ Fandi meraung dengan tangan terbuka lebar sejauh satu depa.

            Matahari telah terbit ,dan memancarkan pesonanya. Ia tau ada perayaan suci bagi bangsa Indonesia. Hujan pun enggan turun pagi itu dan menambah kecerahan pada perayaan kemerdekaan Indonesia.

            Seorang protokoler perempuan telah siap sedia membawakan rentetan acara pagi itu. Barisan santri berseragam putih diselingi murid-murid berseragam merah putih juga putih biru dari desa setempat menambah kemeriahan lapangan itu. Di sebelah barat lapangan telah berdiri kokoh panggung kehormatan bagi aparat desa dan tamu istimewa tak terkecuali para sesepuh ulama.

            Acara yang pertama adalah pengibaran bendera sang saka merah putih oleh Paskibra dan Pasus pondok Tanwirotul Qulub. Puluhan petugas  membentuk formasi 17-8-45. Pengibaran bendera dilakukan sangat khidmat dan menarik.

            Kak  Zaenab selaku pembawa acara  membacakan puncak acara yaitu penampilan-penampilan. Inilah yang ditunggu-tunggu para santri tak terkecuali Omen, teman terdekat Fandi yang sudah tak tahan melihatnya tampil.

            “Baiklah hadirin semua, langsung saja kita sambut penampilan pertama yakni drama kemerdekaan oleh PP Tanwirul Qulub “ 

            Sorak sorai penonton menandakan momen yang ditunggu telah tiba. Begitupun Fandi ia sudah mempersiapkan segalanya dari kostum dan pernak-pernik lainnya. Ia mengenakan jas hitam,sarung hitam, kopyah hitam  juga kertas karton yang dicat hitam. serba hitam.

            “Penampilan yang begitu menghibur, Mana tepuk tangannya !!!, Oke penampilan kedua datang dari SMP Jayamakmur yaitu atraksi Silat “

            Kembali penonton berteriak riuh, sebagian berdiri karena ingin melihat secara jelas. Jurus-jurus dikeluarkan dan membuat penonton terkesima. Terlebih saat salah satu pesilat memecahkan bata merah dengan kepala, semua tampak riuh dan bising. Fandi semakin berjaga-jaga khawatir namanya disebut.

            “Selanjutnya penampilan Tari daerah dari SD Cimanjur “Ujar Protokoler

            “Habis ini nih kayanya” Pikir Fandi.

            “Lagu daerah oleh Siswi SD Cimancur ........... mana tepuk tangannya “ Ucap Protokoler lagi. Begitu seterusnya sampai penampilan ke delapan tapi Fandi tak kunjung dipanggil .

            “Mungkin ane harus ngomong ke MC-nya deh “ Ucap Fandi dan segera berlari mendekati Protokoler.

            “Terimakasih untuk para hadirin atas kehadirannya , mari kita tutup dengan membaca hamdalah “ Sontak Kak Zaenab menutup acara dan menaruh mik. Para hadirin pun beranjak dari lapangan dan segera mengikuti pawai keliling desa .

            Fandi yang sudah terlanjur bersemangat akhirnya kaget, ia tak bisa mengejar Kak Zaenab karena sudah pergi melenggang bersama pawai.

            Sakit hati tak tertahankan lagi, Fandi begitu kesal dan merobek-robek naskah puisinya itu. Pada akhirnya disaat seluruh santri pergi pawai, ia langsung pergi ke tempat sepi. Ia pergi ke kelas paling pojok dan menangis sejadi-jadinya sembari menjatuhkan dirinya di atas lantai. Sesenggukan dan berguling-guling. Alangkah sedih nasibnya.

            “Kok bisa ya ? Dia gak tampil , padahal semua santri pada nungguin lho !“ Kata Omen pada Ubed “

            “ Bener kan , Apa kata ane bro hahhahhaha “ Ubed tertawa puas.

            “Tunggu dulu euy, kertas apa ini ??!! “ Ucap Subhan tiba-tiba setelah memungut secarik kertas  di lapangan dekat podium.

            “Disini tertulis penampilan ketiga yakni deklamasi puisi oleh Sufandi, tapi font hurufnya tidak jelas “lanjutnya.

            “Pantesan , MC-nya belum minum Aqua “ Tambah Ubed dengan pongah.

            “duh kasihannya dirimu wahai temanku “ gumam Omen dalam hati. 

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar