Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEPEDA KULIAH

Oleh: Ahmad Jaelani Yusri

       Jarak antara asrama dan dan gedung kuliah cukup jauh, mengharuskanku mempunyai kendaraan untuk menghemat tenaga dan waktu. Jika membeli motor sudah pasti, uang kiriman dari orangtuaku tidak cukup. Maka sepedalah yang jadi pilihanku.

Pagi itu aku diantarkan kawanku Ali  ke pasar Comboran Kota Malang,  pasar yang terkenal dengan barang bekas alias loakan. Nampak sepanjang jalan terhampar banyak bermacam-macam barang dari onderdil motor, alat-alat perkakas, tas-tas bekas, baju-baju bekas dan semua hal yang bekas-bekas.

Setiba kami di sana, aku tak melihat lapak sepeda satupun dan terus berjalan mengikuti jalan besar kearah selatan. Sampailah pada toko sepeda bekas atau lebih tepat disebut bengkel sepeda karena adanya tumpukan sepeda yang tumpang tindih mengisi setengah dari lapak sepeda. Semua nampak kusam dan tak terawat.

“Pilih yang mana mas, kalau yang oranye itu hanya 800 ribu, masih kuat “Tawar bapak penjual berkumis baplang yang sedang sibuk mereparasi.

“Gimana bang Hisyam? mau diambil?" Tanya Ali padaku.

Aku kurang yakin dengan nasib sepeda oranye ini di sini. Aku khawatir ada kerusakan meskipun sepeda ini nampak baik dari luarnya. Dan kesimpulannya, aku tak jadi membeli sepeda di sini. 

Karena tak mau mencari dengan kesia-siaan, aku mengandalkan Google Maps untuk mencari lapak sepeda dan khusus menjual sepeda bekas. Tampak ada titik-titik merah menunjukan lokasi yang harus dituju. 

Tak disangka  titik lokasi menunjukan tempat yang sama yaitu Pasar Comboran, hanya saja kami agak berbelok ke kanan ke arah Pasar Besar. Di sanalah berderat panjang jajaran sepeda bekas. Sepeda di tempat itu lebih terawat daripada lapak yang kukunjungi sebelumnya.

Agak lama juga ku memerhatikan sepeda-sepeda, melihat detail merek, kondisi ban, kinerja rem sekaligus menanyakan harga. Sampailah Aku di penghujung deretan sepeda dan belum menemukan sepeda yang cocok. Hingga aku melirik seorang bapak yang merayu setiap pejalan kaki yang lewat. Dia juga merayuku sangat mataku tertuju padanya.

Raut mukanya tampak tabah, beliau sangat semangat dalam membujukku. Mau tak mau, Aku mulai menanyakan harga sepeda satu persatu yang berderet.

“Yang ini berapa pak?” Tanyaku padanya.

“Dua setengah mas !”

“Kalo yang ini pak !”

“Lima juta mas !” sergah bapak itu.

Mataku tertuju pada sepeda poligon abu-abu yang terlihat jelek dari yang lain. “Kalau yang ini pak “ Tanyaku lagi.

“Itu cuma satu dua mas"

Maksud bapak itu adalah satu juta dua ratus, tapi uangku tak cukup. Akhirnya aku ingin meninggalkan bapak itu. Tiba-tiba bapak itu mencegah .

“Ini barang ori, asli mas. Mungkin bisa dikurangi lima puluh” bapak itu menahanku.

“Mungkin, saya mau lihat yang lain dulu pak”

“Kalau lihat yang lain, lebih mahal mas! Yakin sama saya” tambah bapak itu.

“Silahkan coba dulu, naiki saja yang jauh mas“ suruh bapak itu untuk mencoba sepeda yang akui pilih. Agak berat saat kukayuh pedalnya tapi itu hanya masalah perpindahan gigi pada gear.  Setelah agak jauh berapa meter kayuhannya makin ringan dan enak dikendarai. 

“Gimana mas, mau ngambil ndak? “ 

“Bisa kurang gak pak?, saya cuma punya uang satu juta, baru ngambil dari bank tadi“ Pintaku memelas. Bagaimanapun aku harus berhemat karena uang yang kupegang juga dipakai untuk makan sehari-hari di asrama maupun kebutuhan perkuliahan lainnya.   

“Ya wis ndak papa mas, sampeyan kuliah toh? kalau gitu sembilan ratus aja wes ndak papa”

“Beneran Pak?” 

“Iya  mas, orang menuntut ilmu itukan jihad di jalan Allah. Mudah-mudahan saya dapat pahala membantu sampeyan. Saya doakan kalian jadi orang besar mas-mas iki. Tapi inget nanti kalau mas sudah menjadi orang besar, jangan lupa ke orang kecil seperti saya, sering-sering bersedekah. Semoga berkah kuliahnya mas, kalo lewat ke sini lagi sama teman-teman  jangan lupa  ke saya Pak Basri, Makasih ya mas".

Hatiku terenyuh mendengar ucapan beliau, penampilannya yang sederhana dan tabah seakan-akan mengharapkan kami sebagai mahasiswa menjadi orang besar yang tak lupa asalnya. Hingga saat kuangkat sepeda ke motor temanku, beliau sempat berlari membantuku untuk mengangkatnya  juga. 

Begitulah ucapan seorang penjual sepeda bekas pada mahasiswa sepertiku.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar