Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEKILAS TENTANG BUYA SYAFI'I DALAM BUKUNYA "TUHAN MENYAPA KITA"

Oleh: Binti Rohmatin Fahimatus Y

       Beliau adalah Prof. Dr. H. Ahmad Syafi'i Ma'arif. Beliau lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada 31 Mei 1935. Jika kita hiring, usia beliau kini yaitu 85 tahun. Beliau pernah menjabat sebagai Ketum pimpinan pusat muhammadiyah 13 (1998-2005). Beliau lulus dari universitas Chicago dengan disertasi Islam as the basis of state: A study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia (1983). Beliau merupakan seorang intelektial Muslim yang juga budayawan, sejarawan, dan negarawan. Beliau menuliskan banyak karya. Contohnya ya itu yang terpopuler: Islam dan Pancasila sebagai dasar negara. Beliau seorang yang memiliki jiwa toleran tinggi dan selalu menanamkan toleransi pada generasi muda. Pada generasi muda, beliau juga menekankan pentingnya kesadaran sejarah bangsa dan filsafat untuk didesiminasi kaum muda, sebagaimana beliau pernah berkata: "Kita boleh berbeda tapi jangan sampai merusak persaudaraan".
       Adapun dalam buku " Tuhan Menyapa Kita", beliau memaparkan banyak hal yang merupakan uneg-uneg beliau, yang merupakan bentuk memilih hidup “tidak mau diam”. Harapan beliau yaitu untuk bisa menggugah kepekaan nurani bagi pembaca begitujuga masyarakat Indonesia untuk berbuat lebih baik bagi kepentingan masyarakat yang mana belum semua mereka merasakan "nikmat kemerdekaan". Beliau berkata seperti itu karena melihat dengan mata kepala Beliau sendiri tentang bagaimana fenomena sosial yang terjadi, yang mana bagi beliau, sebagai negara yang mayoritasnya ialah pemeluk agama Islam, tetapi hakikat kedamaian belum bisa dirasakan rakyatnya.
       Dalam salah satu bahasan di buku "Tuhan Menyapa Kita" tersebut, beliau juga menjelaskan bahwa Islam di Indonesia adalah moderat dan memiliki karakteristik terbuka untuk memimpin perubahan bagi seluruh muslim di dunia. Maka, selayaknya masyarakat mulai sadar dan peka untuk menegakkan hukum secara tegas, adil, dan secara arif. Beliau di dalam buku tersebut juga menuliskan sebuah statement seperti ini: “Yang lumpuh pada kita adalah hati nurani dan akal sehat, maka tidak ada lagi jalan lain yang terbuka kecuali dengan menghidupkan kembali kepekaan nurani”. Beliau bahkan menyebutkan bahwa borok bangsa ini sudah terlalu parah maka kekuatan apapun yang bisa dilakukan demi perbaikan haruslah benar-benar dimaksimalkan, sekecil apapun itu. 
       Yang demikian ini hanyalah sekelumit dari sekian banyak hikmah yang beliau paparkan dalam tulisan-tulisan beliau. Meneladani dari beliau yang tetap mengoptimalkan daya fikir beliau walaupun usia beliau tidak dapat lagi dikatakan belia ini, semoga kita semua bisa semaksimal mungkin menyalurkan segala kekuatan yang kita punya untuk ikut memilih jalan hidup “tidak mau diam” saat mengetahui kerusakan ataupun susah hati negeri kita ini, walaupun itu kecil. Percaya deh, The little things, the little moments, they are not little!. 


Malang,  9 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar