Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEDIH BOLEH, UNHAPPY JANGAN!


Binti Rohmatin Fahimatul Yusro

Siapa sih di dunia ini, orang yang terlepas dari kesedihan? Terlepas dari masalah? Tak pernah menangis? Ya, pastinya tidak ada. Bayi yang lahir ke dunia pun ia menangis, bukan tertawa seolah bergembira. Saat bayi lahir, dunia seakan menyambut bayi tersebut dengan sebuah peringatan bahwa ia layak menangis. Mengenai kesedihan, memang Allah sendiri bilang: La Tahzan Innallaha ma’ana. Jika kalimat tersebut ditilik dari sisi balaghah, kalimat tersebut merupakan kalimat nahi/larangan yang memiliki fungsi tasliyah/menghibur. Dalam kalimat tersebut, secara lebih mendalam berarti menenangkan. Mengapa untuk menenangkan? Karena kita butuh tenang. Sedih pun, sebenarnya bukan selalu tentang peristiwa yang menyakitkan, akan tetapi karena hati kita saja yang tidak tenang. 

Dan sedih, bukanlah indikator untuk tidak bahagia. Sebagaimana Gretchen dalam bukunya The Happiness Project, ada sebuah kalimat: “The important conclusion of defining happiness is that the opposite meaning of it is unhappy, not depression”. Atau jika diartikan, lawan daripada bahagia ialah tidak bahagia dan bukan depresi. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya. Kita sering merasa tidak bahagia jika kita sedih, depresi, kehilangan, mengalami kekecewaan, atau yang berkaitan dengan selain dari dalam diri kita. Dalam artian, kita mengklaim bahwa hal-hal dari luarlah yang membuat kita tidak bahagia. Padahal berbicara tentang bahagia, bahagia bukanlah suatu hal yang pasif, akan tetapi justru kita sendiri lah yang seharusnya menciptakan kebahagiaan. Atau dalam kata lain, bahagia itu bersifat batiniah, bukan lahiriah. Orang bahagia pun tidak selalu tentang siapa yang bisa tertawa, menampakkan paras yang berbinar, bukan! Dan orang yang tidak bahagia bukanlah orang yang menampakkan raut muka sedih.

Kita sering merasa kurang, selalu ingin ini, ingin itu, yang menurut kita hal tersebut bisa membuat kita bahagia. Atau sebagai contoh, seseorang ingin menikah dengan si X dengan harapan bisa bahagia dengannya. Pada hakikatnya, bahkan pasangan pun belum tentu bisa menjadi alasan kebahagiaan tercipta. Dan jika menyandarkan kebahagiaan pada suatu hal, maka pada akhirnya, yang ada ialah kekecewaan. Kebahagiaan itu tentang kerja hati, bukan nafsu. Kebahagiaan itu tentang inner peace, bukan pada bergelimangnya materi, atau faktor eksternal yang lainnya. 

Jika hati kita kuat, permasalahan serumit apapun, tantangan sesulit apapun, dan musibah seberat apapun tidak akan bisa merenggut kebahagiaan kita. Maka, hendaklah kita tanamkan dalam diri bahwa semua hal yang terjadi itu membawa hikmah.
Kita juga sering  merasa seakan kita sendiri yang merasakan kesedihan. Padahal, di luar sana masih banyak orang yang mungkin keadaannya lebih miris dan kisah hidupnya lebih tragis. Sebenarnya dalam kesedihan, seharusnya kita dapat instropeksi diri, dan mungkin bisa belajar lebih bersyukur dengan apa yang ada. Dan jika memiliki kemampuan untuk membantu meringankan kesulitan orang lain, sebisanya membantu. Mengapa? Kita ini makhluk sosial. Tidak hidup sendirian. Dengan lebih memperhatikan sekitar, kita akan tahu bahwa kita bukanlah orang satu-satunya yang tengah dilanda kesedihan, ataupun kesusahan. Jika kita lebih melihat sekitar kita, peka, rasa solidaritas kita akan tumbuh sendiri. Dari rasa solidaritas itulah kemudian ada rasa untuk saling tolong menolong (ta’awun) satu sesama lain. Dan ta’aawun sendiri sudah bernilai sedekah. Bayangkan saja ketika kita bisa meringankan kesulitan orang lain, maka apa yang akan kita rasakan? Ada kesenangan tersendiri bukan? Walaupun misalnya, kita hanya mendengarkan keluh kesah orang dan ikut memberi solusi. Kita jadi tahu bahwa kita bukanlah individu yang merasakan kesedihan sendirian. 

Beberapa waktu lalu sempat ada podcast seorang penulis novel “Kata”, “Geez dan Ann”, dan beberapa buku karyanya. Dalam podcast tersebut, ada satu kalimat tentang kesedihan seperti ini: Pada Akhirnya, orang sedih hanya butuh tahu kalo dia nggak sendiri. Yang menarik dari kalimat singkat tersebut ialah bahwa statement tersebut, banyak orang yang mengiyakan. Itu artinya, sebagai manusia kita memang wajar-wajar saja ditempa kesedihan, kesulitan, kesusahan. Akan tetapi apakah hidup kemudian berhenti dengan semua itu?Tidak. Kehidupan akan terus berjalan tanpa mempedulikan kita semua. Dari sini, maka sikap kitalah yang harus kita setting. Kita boleh saja sedih, terpuruk, terjatuh, akan tetapi pilihan kita apakah untuk larut dalam hal tersebut? Pasti tidak! Maka bangkitlah! Move on!

Dan menampakkan kesedihan, itu salah satu hal yang berlebihan. Terlebih lagi jika menampakkannya di socmed. Viewers story yang pada mulanya memiliki mood baik bisa saja berubah hanya karena postingan tentang kesedihan kita. Saat sedih, kadang kita memang butuh sandaran untuk mencurahkan. Tapi ingat! Jangan jadikan sandaran kita itu berupa sosmed. Merubah mood orang dikarenakan sebuah kalimat yang kita ucapkan atau tuliskan itu akan menjadi su’ul jariyah bukan? Hmmmm. 
Sekian dulu ya, Mohon maaf, unfinished memang, pokoknya tetep cari cara untuk tetap bisa feel happy, Ok!



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar