Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RESENSI NOVEL DI KAKI BUKIT CIBALAK

Oleh: Hilwah Tsaniyah

Judul Buku : Di Kaki Bukit Cibalak 
Penulis : Ahmad Tohari 
Tebal buku 20 cm sebanyak 176 halaman 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka utama
Tahun terbit: cetakan keempat Juni 2014
ISBN 978-602-03-05 13-4

Novel Di Kaki Bukit Cibalak menceritakan tentang seorang pemuda dari Desa Tanggir pada tahun 1970-an yang bernama Pambudi. Pambudi adalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang bekerja mengurus lumbung Koperasi di Desa Tanggir. Lurah Desa tanggir yang baru saja terpilih bernama Pak Dirga yang menurut Pambudi beliau sama seperti lurah-lurah sebelumnya yang dirasa Pambudi mereka adalah orang-orang yang curang dan menyalahgunakan pangkatnya untuk kepentingan pribadi. 

Ketika itu ada seorang perempuan yang datang kepada Pambudi agar ia diberi pinjaman padi untuk berobat keluar kota, perempuan ini adalah seorang nenek yang bernama mbok Ralem. namun Pambudi tidak dapat meminjamkannya sehingga Pambudi hanya bisa mengantar mbok Ralem untuk menghadap Pak Lurah. namun setelah diusut mbok Ralem pernah meminjam padi 2 tahun yang lalu dan ia belum sempat mengganti pinjaman dan bunganya. 

Namun Pambudi tetap bersikukuh agar mbok Ralem diberi pinjaman terlebih dahulu untuk menyembuhkan penyakitnya. Pun Pak Lurah tetap pada pendiriannya dengan tidak meminjamkan padi untuk mbok Ralem. setelah Pambudi merenung dan mendengarkan suara hatinya sendiri akhirnya Pambudi datang ke rumah mbok Ralem. Namun kedatangan Pambudi disalahartikan oleh mbok Ralem karena takut Pambudi datang membawa perintah dari lurah untuk menghukumnya.

Kedatangan Pambudi ke rumah mbok Ralem untuk mengajaknya berobat ke Jogja dengan syarat Mbok Ralem harus meminta surat keterangan bahwa Mbok Ralem benar-benar miskin dan tidak  mampu membayar pengobatannya. Tidak menunggu waktu lama akhirnya mbok Ralem memperoleh surat keterangan yang diminta Pambudi dan kemudian mbok ralem menyerahkannya kepada Pambudi. Keesokan harinya pagi-pagi sekali Mbok ralem dan Pambudi pergi ke Jogja dengan bus. Kedua anak Mbok Ralem dititipkan kepada salah seorang bibinya. setelah mereka berdua sampai di kota tujuan, mereka langsung menuju ke ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit  Pak mantri menegaskan bahwa pasiennya adalah seorang yang yang mengharapkan perawatan gratis, asal benjolan yang ada di lehernya bukan kanker, karena jika kanker rumah sakit tidak bisa mengobatinya dengan percuma. Setelah melakukan pengambilan jaringan yang ada di leher mbok Ralem akhirnya mereka mencari penginapan karena hasilnya akan diketahui esok hari. 

Keesokan harinya dokter mengatakan bahwa  benjolan yang berada di lehernya adalah kanker dan jika diperlukan operasi maka  memerlukan beberapa hari untuk mengembalikan kekuatan tubuh mbok ralem yang menderita kekurangan gizi.

Besarnya biaya yang diperkirakan adalah Rp. 500.000 kemudian Pambudi langsung berinisiatif untuk menjual sepeda dan ditambah dengan uang tabungannya. karena tekadnya sejak awal ingin menemani Mbok Ralem sampai sembuh jadi ia telah memperkirakan berapa banyak uang yang akan dikeluarkan. Pambudi sengaja membeli koran terbitan Jogja kemudian mencari alamat koran harian yang bernama kalawarta untuk memasang iklan dompet sumbangan  penghimpunan dana untuk perawatan  mbok Ralem.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam iklan telah dipenuhi oleh Pambudi  yang kemudian  naskah iklan tersebut diketik oleh Pak Barkah yakni seorang pemimpin redaksi dan pemilik penerbitan kalawarta. Tak disangka setelah penerbitan iklan dompet sumbangan total ada 49 orang yang menyumbang dan setelah dijumlah terkumpul uang sekitar Rp.2.162.376,00 dibayarkannya biaya rumah sakit dan sisa uangnya disimpan kepada pak Barkah.

Setelah selesai urusan mbok Ralem, Pambudi memutuskan untuk tinggal di Jogja dan meneruskan pendidikannya atas usul teman sekolahnya bernama Topo. Pambudi meninggalkan kedua orang tuanya dan seorang gadis tanggung anak Modin yang bernama Sanis. Sebelum Pambudi diterima sebagai mahasiswa ia bekerja di salah satu toko jam tangan milik Nyonya Wibawa. Bekerja dengan nyonya wibawa tidak hanya sebagai pelayan toko, Pambudi juga harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain meskipun tidak menyangkut dengan toko begitu kata Topo.

Pambudi tidak merenungi kepergian Sanis karena anak perempuan nyonya Wibawa menyukai dirinya. Ada banyak pencapaian dan juga hal terburuk yang dialami oleh Pambudi. tahun pertama Pambudi masuk ke Fakultas Teknik. Pada tahun kedua Pambudi mengalami  pukulan batin yang ternyata  Sanis menikah dengan Pak Dirga kepala lurah Tanggir. Kemudian di tahun ketiga Pambudi lulus sebagai sarjana muda namun Pambudi mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal karena terjatuh di dekat sumur.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar