Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RESENSI BUKU: LAYLA MAJNUN

Mutiara Rizqy Amalia


Judul Buku : Layla Majnun

Pengarang : Nizami Ganjavi

Penerjemah : Ali Noer Zaman

Cetakan : Cetakan I

Bulan, Tahun Terbit : Februari, 2020

Penerbit : PT Kaurama Buana Antara

Alamat Penerbit : Jln. Letjen. Sutopo, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Tebal Buku : 220 halaman

ISBN : 978-602-6799-52-4

Harga Buku : Rp. 59.000 (P. Jawa)

Peresensi : Mutiara Rizqy Amalia

***

Alkisah, di Arabia tinggal penguasa Badui dan berkuasa atas Bani Amir yang bernama Syed Omri. Kekuasaan dan kekayaannya tiada tertandingi, kemasyhurannya membuat ia dikenal bak raja yang ternama. Namun dalam hatinya merasa gersang dalam lautan gurun pasir, bertahun-tahun bergelimang harta dan dikelilingi pengikut yang banyak tak lantas membuat hatinya benar-benar bahagia, yang kurang darinya adalah buah hati yang tak kunjung diberi Tuhan.

Hingga akhirnya Tuhan mengabulkan doanya dengan memberi seorang anak lelaki tampan bak buah delima, seperti sekuntum mawar yang mahkota bunganya mengembang semalaman, bagaikan berlian yang cahayanya mengupas kegelapan. (hal. 9)

Orang Tuanya memberi nama Qays di hari keempat belas kelahirannya. Tahun demi tahun ia tumbuh semakin menjadi lelaki tampan yang rupawan.  Semakin bertambah usia, Syed Omri mengirim anaknya untuk belajar, seperti yang dilakukan para penguasa yang mengirimkan anak-anaknya di tempat terbaik untuk mengenyam pendidikan.

Dan suatu hari datang seorang gadis cantik jelita, tatapannya bak kerlingan mata rusa, mampu menembus ribuan hati dengan sekilas pandangan tak terduga. Dengan satu kedipan saja ia bisa mencincang seluruh isi dunia. Orang-orang memanggilnya Layla. (hal. 11) 

Dan keduanya, Qays dan Layla mabuk di antara cawan-cawan yang berisikan anggur, dan menari-nari di atas keindahan cinta. Namun cinta mereka berdua terhalang oleh restu dari orangtua Layla. Layla dikurung di dalam rumah dan tidak memberikan Qays kesempatan untuk bertemu dengan kekasih yang sudah membuatnya mabuk asmara.

Qays kabur dari rumah, dan sepanjang jalan ia mabuk bersama dengan nama Layla, hingga orang-orang memanggilnya Qays si Majnun. Majnun yang gila atas kerinduan kepada wanita cantik jelita.

Syed Omri, ayah Majnun mencoba merayunya untuk kembali ke rumah. Namun apa daya, Majnun tetap membuat syair-syair pujangganya untuk Layla di pengasingan. Hingga banyak orang yang mendengarkan syairnya dengan penuh damba dan mencintai setiap bait-bait yang dilantunkan.

Hari semakin berlalu, Layla semakin menjadi mutiara berkilau di antara karang, bak buah delima yang menawan, hingga dicari oleh banyak lelaki yang ingin menjadikannya sebagai teman hidup. Lalu Ibnu Salam datang untuk melamar Layla dengan segala rayuan kepada ayahnya. Namun ayahnya tidak menjawab iya ataupun tidak, tapi menyuruh Ibnu Salam untuk bersabar dalam penantian.

Saat Majnun berada di daerah Ngarai, tempat kekuasaan seorang pangeran Badui bernama Nawfal. Saat Nafwal dan pasukannya berburu ia bertemu dengan makhluk yang bersandar pada sebuah batu. Telanjang tanpa pakaian yang melingkupinya, badannya kumal tak terawat, dia Majnun. Pasukan Nawfal menceritakan kisah Majnun kepadanya, dan Nawfal merasa kagum terhadap Majnun, ia gila sebab cinta yang membunuh dirinya. Lantas Nawfal ingin menjadi teman yang membantu Majnun untuk menaklukan Layla. Mereka saling berjanji untuk menjadi teman yang saling membantu. Majnun berubah menjadi manusia seutuhnya, berpakaian jubah bersih dengan segala persedian makanan yang berlimpah.

Namun Majnun merasakan bahwa janji Nawfal tidak ditepati. Nawfal merasa bersalah atas Majnun, dan Nawfal segera membuktikan kepada Majnun untuk segera menuruti keinginannya untuk memiliki Layla. Nawfal menempuh jalan peperangan untuk merebut Layla dari orangtuanya. Pasukan Nawfal berangkat menuju kabilah tempat Layla dikurung, dan berhenti untuk mengirimkan surat secara baik-baik dalam meminta Layla. Namun yang didapat adalah balasan yang tak menerima Majnun, dan berakhir lah dalam peperangan di antara kedua kabilah. Dan peperangan tersebut tidak ada yang menang ataupun kalah. Layla tak dapat ditaklukan.

Setelah kejadian itu Majnun pergi meninggal kan Nawfal, ia kembali menjadi mayat hidup yang mabuk di antara cawan-cawan cinta yang membunuh tubuhnya. Segala upaya dilakukan keluarga untuk menyembuhkannya berakhir sia-sia. Bahkan sebaliknya, Majnun semakin menggila tak karuan atas cinta yang tumbuh di padang pasir gersang.

Sementara yang terjadi pada Layla ialah menderita dan menangis dalam hati, namun kesedihannya disembunyikan dalam-dalam dari mata yang mengintainya. Di sisi lain semakin banyak yang ingin meminang Layla, Ibnu Salam tak kehilangan cara. Ia segera menanyakan kembali jawaban yang akan ia terima. Ayah Layla menerima pinangan Ibnu Salam, dan keduanya menikah. Namun hati dan jiwa Layla sepenuhnya milik Majnun. Ia tak pernah sekalipun dijamah oleh tangan Ibnu Salam.

Syed Omri kembali mencari putranya yang beradu di pengasingan. Ia merayu Majnun untuk kembali duduk bersama di singgasana kekuasaan yang berlimpah ruah. Syed Omri mulai berbau tanah dan mulai pamit kepada Majnun untuk menggantikan posisinya. Majnun menyetujui permintaan ayahnya hanya beberapa hari. Majnun merasa hidup dalam kebohongan rasa, sedangkan raga dan jiwanya masih sepenuhnya untuk Layla. 

Tak lama setelah kematian ayahnya, Majnun berlindung di rimba belantara dengan pasukan binatang-binatang yang mengerubunginya. Binatang-binatang buas itu tunduk patuh kepada Majnun. Suatu hari tiba datang orang tua yang membawa pesan dari Layla untuk Majnun. Binatang di sekeliling Majnun mengaum ke arah orang tua itu. Majnun menenangkan. Layla dan Majnun saling bertukar rasa melalui surat yang ditulis melalui perantara orantua tersebut. Keduanya saling memendam rindu dendam. Dan orang tua itu membantu pertemuan antara keduanya secara sembunyi-sembunyi.

Tapi surat keduanya tidak saling menenangkan keduanya, yang hadir malah kesedihan semakin bertambah. Dan pada saat pertemuan itu terwujud, Layla tak berani mendekati Majnun lebih dekat. Jika Layla mendekati api, ia akan hangus. Kedekatannya pada Majnun membawa bencana, dan para pecinta harus menghindarinya. Setelah bibir Majnun mengalirkan syair cintanya, ia melomoat jauh ke dalam rimba dan menghilang. 

Terkadang, nasib dan keinginan manusia saling bertentangan. Seperti Ibnu Salam yang menikahi Layla namun tak sepenuhnya memiliki. Ibnu Salam merasa terlukai, dan akhirnya ia meninggal karena penderitaan yang di deritanya sebab istrinya Layla.  Setelah Ibnu Salam meninggal, Layla merasa bebas dari jerat pemburu oleh kekasihnya. Tidak ada yang bisa menyenangkan Layla untuk memberikan hati dan jiwanya kepada kekasihnya.

Saat taman mulai layu, begitu pula dengan Layla. Layla berkata kepada ibunya "Katakanlah kepadanya: 'Ketika Layla memutuskan rantai dunia, ia pergi, memikirkanmu dengan rasa sayang, setia hingga akhir hayatnya. Kedsedihanmu selalu menjadi kesedihannya, dan ia membawanya bersama rohnya untuk menjadi bekal perjalanannya. Kerinduannya kepadamu tak mau ikut matu bersama kematiannya. Di balik selimut bumi kau tak bisa melihat matanya, tetapi mata itu mencari-carimu, mengikutimu ke mana pun kau pergi. Matanya menantimu sambil bertanya-tanya: kapan kau datang, wahai kekasihku sayang?' Sampaikanlah pesan ini kepadanya, Ibu, berjanjilah!. (hal.202) Layla dan Majnun saat di dunia mereka saling mencintai dan setia walaupun tak bisa bersama. Namun sekarang keduanya abadi di surga.

***

Ide kreatif penulis berisikan ulasan sejarah percintaan dua insan yang terpisah karena keadaan. Dan sebenar-benar cinta tak akan pernah tergantikan, jika tidak di dunia maka ia abadi di surga. Dan karena kisah tersebut, kita mengetahui bahwa cinta tak boleh disembah terlalu berlebihan. Dan di sisi lain, kita perlu memahami bahwa cinta akan hadir dalam raga setiap makhluk dan kita diberikan rasa itu untuk dapat dijaga sebaik-baiknya. Buku ini sangat cocok bagi kawula yang sedang mabuk dalam cawan cinta beserta kerinduan yang mendalam terhadap kekasihnya.

Sistematika penulisan Buku ini memang buku terjemahan, jika membacanya butuh kedalaman diksi dapat sampai di akal, karena buku ini termasuk tulisan sastra. Selebihnya buku ini cukup bagus, dari segi pemilihan cover dan font yang tidak membosankan para pembaca. Dan di dalamnya banyak syair cinta yang menghujam hati bagi para perindu. Selain itu, penulis menyisipkan keadaan sosial dan budaya




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar