Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RANA RUMAH

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana


"Setelah berwindu-windu aku melayani dirimu, kau hanya memberiku pesangon ini ?" Puluhan pasang mata tersentak kaget, sedang Raja itu terdidih darahnya. Matanya merah, mengisyaratkan kebencian mendalam akan ujaranku barusan. "Beri dia sepeti emas lagi !!"

       Siang ini adalah siang kebebasan bagi orang-orang yang membenci keberadaanku di istana, setelah ribuan siasat benguk mereka satu per satu ku tepis. Namun tidak dengan siasat yang satu ini, aku benar-benar gagal membacanya.

"Sepeti emas itu hanya bisa membayar peluh payahku selama ini, lantas bagaimana dengan air mataku ?" Aku melihat mata Sasangkawati berbinar terang menatapku, duduknya tak tenang, seperti ingin menghampiriku. Karena ia adalah satu diantara tiga kepala yang masih mempercayaiku. "Kau sungguh keras kepala, kau menarik kembali segalanya darimu di istana ini"

"Ayahku pernah berkata, bahwa anak gadis adalah tamu bagi ayahnya dan pramu bagi suaminya. Ku pikir aku telah menemukan rumahku, ternyata bukan, rumah ini hanya untuk tempat istrihataku, sementara" dadaku naik turun, bersamaan dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung. Setelah sekian purnama ia menyanjungku setinggi pelita, hari ini ia runtuhkan semuanya. "Keluarkan sepuluh peti lagi !! Setelah itu aku resmi berpisah denganmu, carilah rumah yang baru" langkah sepasang kaki menderap ke arahku, tubuhnya gagah tertutup jubah khas petinggi istana, sedang di kepalanya tertengger tanda kekuasaannya.

"Atas nama Tuhan semesta, akan ku lepas mandatku sebagai panglima istana jika ibuku benar-benar beranjak dari istana" senyumnya manis menghiburku, sebelum menatap murka wajah durjana ayahnya. "Aku tak perduli denganmu Hamsah, istana ini tak cukup gelagapan jika kau pergi" keangkuhannya sudah kelewatan, bahkan dia sendiri sudah tak perduli dengan darah dagingnya. Ayah macam apa dia. Tak lama berselang, paman Khansah mengekori langkah Hamsah untuk ikut dengannya. Sebagai perdana menteri yang paling bijak seantero istana, ku pikir Raja akan mempertimbangkan keputusan yang diambil oleh paman Khansah, ternyata dugaanku salah, lagi dan lagi kekuasaan telah membutakannya. Dengan ringan ia menjulurkan lengannya menghadap pintu keluar sembari berujar "Silahkan !!"
 
"Tunggu ! Kau harus menambah sepuluh peti lagi untuk menebus dosa yang telah kau lakukan atas calon rumahku dulu, kau telah membunuhnya sebelum ku tempati" kali ini ia beranjak dari singgahsananya, lalu berjalan gontai ke arahku -bola mataku beradu dengan tatapannya. Semburatnya menakutkan, meski aku pernah memuisikan kerupawananya. Nafasnya bak kuda perang, meski aku pernah memujinya bagai semilir angin menyejukkan. Kini semuanya raib, setalah apa yang diperbuatnya terhadapku siang ini. "Cepat beri sepuluh peti lagi untuk wanita culas ini !!" Sedikit pun abdi istana tak begeming, hingga satu diantara mereka berkata, "Maafkan kami yang mulia, persediaan emas di gudang sudah kami keluarkan semua" 
"Aku tidak ingin tahu, cepat kalian cari sepuluh peti emas sekarang juga" 

"Cukup Setya !! Ku harap ibu bisa membantumu untuk menuruti kemauan wanita itu" tidak pernah tebayangkan sebelumnya bagiku, sosok Ibu Ratu menggerakkan kakinya untuk berjalan menuju bangku yang berisi tumpukan peti emas sebagai pesangonku. Auranya nampak anggun, meski sudah dua minggu ini ia  tak mau berbicara denganku. Aku tahu bahwa ini adalah ulah Mirnawati, istri pertama Raja yang semenjak dulu selalu membenci kehadiranku di istana ini. Perempuan licik itu berusaha menjauhkanku dengan Raja melalui Ibu Ratu, yang kini telah terhasut oleh rayuan beracunnya. Lalu kemudian tanpa menunggu lama, Ibu Ratu meminta anaknya untuk menalakku. Sungguh tajam akal bulusnya. 

       Linanganku semakin merinai, terlebih saat menggenggam anting Ibu Ratu yang telah rela diberikannya untuk memenuhi kemauanku. Kembali aku berdiri dengan didampingi putra terhebatku dan paman tercerdikku. Dengan suara yang sedikit berat aku berucap "Kembalikan semua peti-peti emas itu ke tempatnya, karena anting dari wanita yang akan selalu aku hormati sampai kapanpun, sejatinya bernilai lebih besar dibanding itu semua, untuk itu, aku terima perpisahan darimu Raja, salam !!" Tidak mudah untuk kembali ke dekapan ayah dengan keadaan menjanda. Tidak mudah pula menerbangkan sejuta kenangan istana ini yang telah berpatri di dalam hati. Aku tak tahu kemana lagi kaki ini akan melangkah, mencari tempat berteduh untuk cinta yang telah lelah berpadu.

"Tunggu !!" Sebuah tangan dingin menarikku kuat.

"Cepat cabut janji pisahmu itu, nak !!"


10 Oktober 2020

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar