Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RAHASIA SANTRIWATI

Oleh: Hariski Romadona Setya


       Hujan baru saja usai, menyisakan bekas aroma tanah yang menyeruak khas akibat guyurannya. Genting-genting masih basah bersamaan dengan ujung dedaunan yang sesekali masih meneteskan sisa-sisa rinaiannya. Karenanya pula beberapa titik pelataran pesantren tergenangi, sedang angin dingin terus mendesau kencang mengibarkan jilbab para santriwati yang berjalan gontai menuju sekolah. Sebagian dari mereka menuju kelas dan sebagian menuju gerombolan santriwati di taman sekolah. Wajahnya bak purnama keduabelas, memancarkan pesona ceria dan sumringah.
       Tepat di sudut sekolah berdiri sebuah kelas dengan papan nama yang terukir jelas tulisan IPS 1 ( kelas santriwati). Kelas inilah yang terkenal dengan sebutan taman bidadari. Hampir semua warga kelasnya berparas cantik menawan. Wajahnya ayu berseri ditambah senyumnya yang sesekali manis mengembang, membuat siapapun akan terpikat dibuatnya. Sebagian orang berujar kalau cantik yang sesungguhnya itu dari hati, namun tidak pada mereka yang memiliki kerupawanan luar dalam. Hal ini dibuktikan bahwa setiap ada perlomban antar kelas, acap kali kelas mereka menang bahkan meraih juara umum. Mulai dari Hafidzah, Qari’, Juara MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub) tingkat Provinsi, semuanya lengkap menghuni kelas ini. 
       Di lain sisi kelas ini digadang-gadang sebagi kelas tercuek seantero pesantren. Kelas yang paling risih jika diminta berhubungan dengan santri putra, bahkan berpapasan saja mereka enggan. Mereka lebih memilih jalan lain daripada berpapasan dengan santri putra, sekalipun lebih jauh. Tidak cukup sulit untuk mengetahui pribumi kelas ini, karena setiap mereka berjalan tak penah lupa selalu menundukkan kepala sebagai tanda ketawadhu’annya. Di balik itu semua, sedingin apapun mereka, tidak bisa dipungkiri bahwa hakikat seorang wanita adalah jatuh cinta pada lawan jenisnya. Seperti yang diungkap dalam perbincangan yang cukup rahasia antara Wulan, Amel, dan Alin siang itu.
Hai Lan, kamu tau ndak ada kabar terbaru. Hehe. ” Celetuk Amel membuka percakapan.
Wah apa itu Mel ? kok aku belum tau ya ?” Wulan menggeser posisi duduknya lantas memasang telinga dalam-dalam, bersiap mendengar jawaban Amel.
Wah ketinggalan berita kamu Lan ! hahaha” jawabnya bersamaan dengan kehadiran Alin yang mengagetkan.
Emang ada apa to ? kok serius banget kayaknya” tukas Alin sembari merapikan ujung jilbabnya yang lebar. Siang itu memang keadaan kelas sepi, karena sebagian mereka memilih menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, masjid, taman sekolah bahkan diam di kelas saja.
Mau tau aja atau mau tau banget ? hayoo” perlahan semburat wajah Wulan menggusar, sebab sedari tadi jawaban yang diterimanya hanya berkonotasi candaan belaka. Alin dan Wulan yang merasa dipermainkan saling lirik melirik, sebagai kode untuk melakukan sesuatu secara bersamaan. 
"Mau tau banget lahhh" ujarnya serentak sembari melandaskan sebuah cubitan yang sudah mereka rencanakan, namun sialnya Amel berhasil menghindar.
 Iya deh iyaaa, denger-denger nih ada santri baru. Udah ganteng, pintar bahasa Inggris, dan juara baca kitab juga katanya” bola matanya menengok ke atap, sebuah pertanda bahwa Amel sedang membayangkan wajah santri baru itu yang kini kerap menjadi buah bibir setiap pembicaraan.
Walah tak kira ada yang juara lomba apa gitu, atau ada yang dapet hadiah paket umrah” 
Kamu itu lan, lomba lomba lomba, sekali kali kita bahas calon masa depan kita nanti bagaimana gitu lho”.
Ya nih si Wulan ndak asik” Imbuh Alin yang nampak penasaran dengan santri baru itu.
Memang diantara mereka, sikap Wulan terbilang paling bodo amat setiap kali membicarakan soal santri putra. Ia lebih memilih fokus belajar daripada memikirkan hal - hal semacam itu. Belum selesai mereka beruda menasehati Wulan, pembicaraan mereka harus terhenti oleh deringan lonceng sekolah, lagi pula Ustadzah Maimunah sudah lebih awal masuk ke kelas -ritual pembelajaranpun siap dimulai. Terlihat seperti sebuah kebetulan, siang itu Ustadzah mengupas tuntas habis ihwal perjodohan. Sepanjang pembelajaran Amel dan Alin cengar cengir menyimak penjelasan Ustadzah sesekali mengarahkan tatapanya pada Wulan sembari melemparkan senyum genitnya. Di tengah-tengah kesyahduan mereka mendengar petuah-petuah Ustadzah Maimunah, sang waktu tidak berpihak, ia menuntut lonceng sekolah untuk kembali berteriak -waktunya pulang. 
       Ketiga gadis sebaya itu berjalan gontai beriringan. Memandangi riuh para peziarah makam Gus Dur yang lalu lalang di jalan sudah menjadi kebiasaan lama bagi merka. Namun ada yang aneh dengan siang ini. Tidak biasanya selama perjalanan Wulan yang biasanya lincah beradu argumen tentang materi pembelajaran, kali ini nampak membisu saja.
"Tumben Lan kamu diem, ada apa ??"
Tidak ada jawaban
"Mungkin dia sedang memikirkan apa yang sudah disampaikan oleh Ustadzah Maemunah tadi" sambung Alin yang masih belum berhasil membujuknya untuk angkat bicara. Memang benar, Ustadzah Maimunah mengujarkan bahwasanya kita sebagai wanita juga berhak memilih jodoh, kita pilih yang bener bener paham agama, bertanggung jawab, baik, sopan santun, dan ganteng kalau bisa, biar enak dipandang. dan yang paling penting kita harus berdo'a agar jodoh kita senantiasa dijaga Tuhan sampai kita dipertemukan di pelaminan. Begitulah kira kira inti dari penjelasan Ustdzah siang tadi. Perlahan senyum lebar terukir di pipi Wulan, namun tatapannya masih terus tertuju ke depan, seakan menghiraukan keberadaan kedua temannya.
Hayooo Wulan” Amel mendorong pelan Wulan, ia berusaha menyadarkan temannya yang mungkin sedang terbuai dalam lamunan.
Tidak ada apa apa kok”. Ujar Amel sebagai sebuah jawaban atas pertanyaannya tadi. Senyumnya masih terus mengembang, bahkan semakin lebar hingga rona pipinya memerah.
Halah... nggak mungkin senyum senyum sendiri kalau bukan karena sesuatu”.
Apa sih..., tidak ada apa apa kok” ia berusaha meyakinkan keduanya dengan menggandengnya serta mempercepat derap langkahnya.
       Senja telah melingkar penuh di atas langit, menciptakan sebuah keindahan hakiki meski hanya sekejap mata, karena pekatnya kegelapan akan menelannya mentah-mentah. Saat itulah para santriwati mulai bersiap berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat fardhu tiga rakaat -Maghrib. Tapi tidak dengan Wulan, ia masih melanjutkan lamunannya di bangku gazebo dekat ndalem, meskipun ia tahu seruan Tuhan telah berkumandang. 
"Apa yang dikatakan Amel dan Alin benar, aku tidak boleh terlalu menutup diri dan hati kepada laki-laki, karena memang sudah kodrat ilahi bagi hambanya untuk saling merajut kasih secara berpasangan"  ternyata benar, Wulan sedang memikirkan apa yang diceritakan oleh Amel dan Alin di kelas pagi menjelang siang tadi, pun diperkuat oleh Ustadzah Maimunah. Rasa keingintahuannya terhadap  santri putra yang diceritakan Amel tadi kini mulai berkecambah. Hingga membuatnya semakin larut dalam menghayal,  sampai - sampai ia lupa bahwa iqomah telah usai digemakan. Ia terkejut sontak berbirit menuju kamar, mengambil mukena srdajadahnya dan langsung berangkat menuju masjid pesantren.
      Sebagai tanda bahwa mulai detik ini ia tidak lagi terlalu berlebihan menutup diri, ia menggantungakan secarik do'a yang sebelumnya tidak pernah ia ucapkan. Dalam khidmat do'anya biasanya Wulan mendo'akan kedua orang tuanya, keluarganya, guru-gurunya dan keselamatan hidupnta di dunia serta kelak di akhirat. Namun, mulai hari itu kali pertamanya ia menambahkan do'anya untuk diberikan imam yang terbaik oleh Allah SWT. Seperti yang talah dituturkan Ustadzah Maimunah. 


Malang, 5 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar