Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Problematika Shaf Sholat Berjamah di Masa Pandemi



Oleh: Muhammad Anis Fuadi 
Afdholnya seorang muslim menunaikan sholat wajib secara berjamaah. Ada banyak amalan sunnah yang afdhol dilakukan ketika menunaikan ibadah sholat berjamaah. Meskipun berbagai amalan sunnah tersebut tidak mempengaruhi sahnya sholat, tetap saja banyak dari sesama umat muslim mempermasalahkan hal ini. Masing-masing golongan saling mengklaim bahwa cara ibadah merekalah yang paling benar.
Pada masa pandemi ini, masalah lurus dan rapatnya shof dalam sholat berjamaah masih menjadi perdebatan favorit antar umat muslim. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah angkat suara guna memberi jalan tengah bagi seluruh umat muslim khususnya muslim Indonesia. Dilansir dari laman TEMPO.CO, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, mengatakan meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada salat berjemaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan. "Untuk mencegah penularan wabah Covid-19, penerapan physical distancing saat salat berjemaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, sah, dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah,"katanya dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2020.

Namun, tidak semua umat muslim patuh dengan fatwa ulama' yang dalam hal ini MUI sebagai yang berhak mengeluarkan fatwa di Indonesia. Sehingga sebagian umat masih mengabaikan fatwa tersebut. Mereka tetap bersikeras untuk melaksanakan sholat berjamaah dengan shof yang lurus dan rapat meskipun dalam situasi pandemi. Mereka berdalih bahwa wabah COVID-19 ini tidak semenyeramkan seperti apa yang dipikirkan MUI. Anggapan mereka merapatkan shaf ketika sholat berjamaah tidak akan menularkan virus sejenis COVID-19. Mereka mengatakan bahwa ketika dilaksanakannya sholat berjamaah, tidak terjadi interaksi atau komunikasi apapun antar jamaah sehingga resiko menularnya virus sangat kecil. Selain itu, durasi sholat berjamaah yang tidak terlalu panjang juga menjadi alasan tambahan bagi mereka untuk tetap melaksanakan jamaah dengan shaf yang lurus dan rapat.
Tidak sedikit juga umat muslim yang tetap taat atas fatwa yang telah dikeluarkan MUI. Mereka dengan mantap mengikuti qoul ulama' yang telah memberi solusi yang terbaik bagi kelangsungan ibadah mereka. Sebagian besar dari mereka juga yakin bahwa COVID-19 adalah virus yang benar-benar mengerikan dan memiliki intensitas penularan virus yang tinggi. Sesuai anjuran MUI, mereka menyelenggarakan sholat berjamaah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti social distancing. Meskipun agak terlihat seperti papan catur, namun begitulah cara efektif jaga jarak dalam sholat berjamaah demi terciptanya lingkungan yang aman dari virus.

Faktor lain yang menyebabkan adanya perbedaan dalam penyelenggaraan sholat berjamaah di masa pandemi ini adalah tingkat sosialisasi dan edukasi yang berbeda-beda pada tiap daerah. Daerah dengan tingkat edukasi dan sosialisasi yang baik terkait adanya virus COVID-19 seperti di lingkungan perkotaan dan perumahan mayoritas akan menerapkan protokol kesehatan ketika sholat berjamaah. Sedangkan daerah pedesaan, pelosok ataupun daerah terpencil yang minim sosialisasi terkait bahayanya virus akan tetap menerapkan sholat berjamaah dengan shaf yang lurus dan rapat. Terlebih wilayah pelosok yang jauh dari rumah sakit, puskesmas ataupun layanan kesehatan lain mengakibatkan virus COVID-19 seakan tidak tercium di lingkungan mereka. Sebaliknya, lingkungan kota yang semakin banyak rumah sakit maka semakin banyak pula resiko terdeteksinya pasien COVID-19.

Unik memang, jika di masa sebelumnya umat muslim banyak dihadapkan dengan dengan polemik jarak shaf yang terlalu rapat hingga saling injak kaki antar jamaah, kali ini kita dihadapkan dengan polemik jarak shaf yang terlalu jauh akibat anjuran social distancing. Sebagai contoh tambahan di sektor lain seperti pendidikan yang dulu siswa dilarang untuk membawa handphone ketika belajar, kini dunia pendidikan justru dihadapkan dengan perintah kewajiban untuk menggunakan handphone ketika belajar. Maka haraplah maklum jika banyak kita jumpai fakta yang sengaja diputar balikkan di masa pandemi ini.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar