Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Polemik Rebana Pengiring Maulid

Polemik Rebana Pengiring Maulid

Oleh: Muhammad Anis Fuadi


Rebana telah menjadi pengiring favorit dalam pembacaan berbagai maulid seperti Maulid Ad-Diba'i, Maulid Simtudduror, Maulid Al-Barzanji dan masih sebagainya. Terutama di Indonesia, banyak diantara para pemuda muslim Indonesia yang piawai memainkan alat musik dari kulit ini. Setiap pembacaan maulid, rebana seakan telah menjadi pemanis yang wajib melengkapinya. Meskipun tiap daerah memiliki cara memainkan rebana tersendiri, tetap saja rebana pilihan utama mereka.

Tidak hanya di Indonesia, rebana ataupun alat yang menyerupainya sebenarnya banyak sekali berkembang di negara-negara lain. Namun, rebana lebih diidentikkan dengan alat yang asalnya dari Timur Tengah. Dalam istilah Arab, rebana lebih dikenal dengan nama "duff". Istilah ini kerap pula ditemui dalam berbagai hadits Nabi. Namun, duff di Timur Tengah lebih fleksibel penggunaannya dan tidak hanya digunakan dalam pembacaan maulid saja. Sehingga rebana (duff) secara garis besar dapat dikategorikan ke dalam alat musik.

Jika rebana termasuk alat musik, bolehkah digunakan untuk mengiringi pembacaan maulid, sholawat, ataupun syair-syair islami lainnya? Pertanyaan semacam ini benar-benar memicu perdebatan panas bahkan di kalangan sesama saudara muslim sendiri. Terlebih di bulan Rabiul Awwal, dimana-mana akan diselenggarakan peringatan maulid nabi saw. Pada beberapa hari sebelumnya maupun beberapa hari setelahnya, hukum pelaksanaan maulid nabi selalu menjadi perbincangan hangat.

Perlu diketahui sebagian ulama berpendapat bahwa hukum asal alat musik adalah haram. Pada beberapa hadits, duff (rebana) termasuk alat musik, dan hukumnya hanya boleh dimainkan oleh wanita ataupun anak kecil, itupun harus dimainkan ketika pesta pernikahan atau hari raya saja. Namun, berbeda menurut pandangan Ulama' besar dalam sejarah Islam yaitu al-Imam Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Berbeda dengan ulama' pada umumnya, beliau termasuk ulama' yang mempunyai perhatian besar terhadap kesenian dan kebudayaan islam. Bahkan dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin, beliau menerangkan satu bab yang mengulas tentang seni terutama seni musik.

 

Menurut al-Ghazali, baik al-Quran maupun al-Hadits, tidak satupun yang secara vulgar menghukumi musik. Memang, ada sebuah hadis yang menyebutkan larangan menggunakan alat musik tertentu, semisal seruling dan gitar. Namun, sebagaimana yang dikatakan al-Ghazali, larangan tersebut tidak ditunjukkan pada alat musiknya (seruling atau gitar), melainkan disebabkan karena “sesuatu yang lain” (amrun kharij). Di awal-awal Islam, kata al-Ghazali, kedua alat musik tersebut lebih dekat dimainkan di tempat-tempat maksiat, sebagai musik pengiring pesta minuman keras. Sementara itu, ulama' tasawuf juga memiliki pandangan tersendiri terkait musik. Sufi besar Jalaluddin Rumi, menjadikan musik untuk mengiringi tariannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artinya, dapat kita lihat dari sini bahwa ulama' tasawuf sebenarnya tidak terlalu terganggu dengan kehadiran musik dalam islam. Bahkan mereka memanfaatkannya dan menggunakannya untuk bertaqarrub.

Sebagai umat muslim yang bijak, seyogyanya bagi kita untuk tidak mudah menyalahkan hal-hal yang sebenarnya bernilai kebaikan. Seperti halnya merayakan peringatan maulid nabi, hendaklah diisi kegiatan seperti diperdengarkannya bacaan alquran tentang Nabi SAW, bacaan maulid atau riwayat tentang Nabi SAW, atau apapun yang dapat menjadikan kita untuk mengambil ibrah serta semakin semangat dalam menjalankan sunnah nabi. Adapun penggunaan alat musik semacam rebana sebagai pengiring maulid, pada dasarnya tidak memiliki nilai-nilai yang mengandung kemungkaran yang serupa dengan judi, minum minuman keras, ataupun berkumpulnya lawan jenis. Sehingga selama pembacaan maulid yang diiringi penabuh rebana tetap menjaga adab dan sopan santun, maka untuk apa hal ini dilarang?

Wallahu A'lam bi Shawab

Sumber:

https://www.nu.or.id/post/read/19340/pandangan-ulama-terhadap-seni-musik

https://muslim.or.id/9971-hukum-menabuh-bedug-dan-rebana.html




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar