Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERJUANGAN SANG IMAM SYAFI'I MELAWAN PENYAKIT



Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Ujian dan cobaan adalah dua hal yang tak lepas dari kehidupan manusia. Baik itu ujian berupa kemiskinan, sakit, dan sebagainya. Ibarat seorang siswa yang mengerjakan ujian di sekolah, jika dia mampu mengerjakan dan melewatinya dengan baik maka dia akan merasa lega bahkan puas. Dalam proses mengerjakannya pun sebagian ada yang bersungguh-sungguh, begitupun sebaliknya. Manusia pun mampu melewati segala ujian hidupnya jika dia mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah. 

Seperti firman Allah SWT dalam QS. Albaqoroh ayat 286, sebagai berikut;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَـــــــا 
“Allah tak membebani hamba kecuali menurut kemampuannya.” [QS Al-Baqarah: 286]

Dalam hal ini, kita menengok kembali salah satu contoh kisah inspiratif Imam Syafi’I dalam menghadapi ujian sakit yang dideritanya. Semasa hidup, beliau pernah menderita penyakit yang tak kunjung sembuh sampai ajal menjemputnya, yaitu penyakit batu dan bawasir (ambien). Penyakit sang Imam Syafi’I sudah tahap kronis, namun beliau selalu tabah, tidak mengeluh dan pantang menyerah. Sehingga aktivitas belajar dan mengajarnya beliau masih tetap berlangsung.

Menurut catatan pribadi Ibnu Hajar; ketika penyakit Imam Syafi’I semakin parah, beliau selalu membawa mangkok kecil dimanapun berada. Mangkok kecil itu kemudian diletakkannya di bawah pantat beliau untuk menampung darah yang menetes terus-menerus ketika beliau sedang duduk. 

Dari pengalaman pahit yang dirasakan oleh Sang Imam Syafi’I, beliau berkali-kali berpesan kepada murid-muridnya. Pesan yang sangat singkat namun mengesankan, yaitu:

العِلمُ عِلمَانِ: عِلمُ الفِقهِ لِلأَديَانِ وَعِلمُ الطِّبِّ لِلأَبدَانِ وَمَا وَرَاءَ ذَالِكَ بُلغَةُ مَجلِسٍ
“Ilmu itu ada dua macam; ilmu fiqih untuk agama, ilmu kedokteran untuk merawat badan. Selain keduanya hanya bekal pergi ke perkumpulan”.

Kisah di atas memberikan pelajaran bagi kita untuk tetap semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi ujian apapun, termasuk di kala sedang di uji sakit. Biasanya hal itu yang dibuat kesempatan untuk bermalas-malasan, padahal sebenarnya bisa diusahakan agar kegiatan kita berjalan sebagaimana mestinya. Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan-Nya (Allah SWT). Waallahu A’lam Bissowab.

Sumber: Rahasia sukses Imam Syafi’I dalam Maqolh dan Syi’irnya. (Abu An’im)



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar