Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MY EXPERIENCE PART 2

Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh

Sekitar 2 bulan kami hidup tenang tidak ada gangguan sama sekali, tak terasa waktu berlalu dengan cepat ujian tengah semester pun sebentar lagi akan dimulai. Kami mulai fokus dengan belajar dan berusaha melupakan hal tersebut. Akan tetapi bagaimanapun aku berusaha melupakannya hal tersebut masih terngiang-ngiang di kepalaku, seakan-akan kejadian tersebut hanyalah pembuka dari suatu rangkaian acara.

 

Satu minngu sebelum ujian dimulai, tiba-tiba ada peraturan baru untuk para santri. Dilarangnya tidur diluar kamar apapun alasanya. “Deg…” aku sangat terkejut setelah mendengar kabar tersebut. Bagaiman tidak terkejut, apa yang aku pikirkan saat itu sepertinya akan terjadi. Aku terdiam sejenak memikirkanya karena jika tidak ada yang tidur diluar maka akan ada salah satu dari kami yang tidur di depan tempat tersebeut dan pastinya yang tidur di tempat itu akan di ganggu. “Ghol! Ghol!...” teriakan wahyu membangunkanku dari lamunan. “Owh… nyapo yu?” jawabku dengan kaget karena teriakanya yang sangat keras “Nglamun opo ghol?, diceluk kaet maeng lagi nyaut” tanya wahyu sambil berjalan mendekat. “Iku loh aku mikirne peraturan enyar soko ustadz, kan lek ngunu ono seng kudu turu nang nggon iku maneh” jawabku. “Lha ape piye maneh, wong aku maeng wes kondo nang ustadz jarene rapopo paling-paling meh awalan diganggune mergo gedung enyar” kata wahyu dengan santai. “Weslah rausah dipikerke ayo mangan” ajaknya sambil berjalan di depanku.

 

Malam pun tiba dengan cepat, tepatnya sekarang pukul 09:00, para santri mulai berangkat ke masjid dan ada sebagian yang menuju kelas untuk belajar malam. Aku bersama Jaka dan Wahyu memilih pergi kelas, karena di kelas pasti tidak ada ustadz yang menjaga jadi bisa tidur dan santai-santai. Setelah sampai di kelas ternyata banyak juga teman-temanku yang lain pergi kesini. Kami bertiga pun langsung ikut nimbrung dan ngobrol panajang lebar. Aku yang sedari tidak tidak banyak bicara mulai mengantuk mendengarkan omongan teman-temanku. “Jak ngko gugahen aku dek mburi lek pe mbalek yo!” kataku pada Jaka sambil berjalan ke belakang kelas. “Ya…” jawab Jaka tanpa melihatku dan masih asyik ngobrol. Waktu belajar pun habis dan para santri mulai kembali ke asramanya masing-masing. “Eh yu tadi si gholi ngomong apaan?” Tanya Jaka pada wahyu ketika hendak keluar kelas. “Lah gak tau gua, kan lu yang diajak ngomong tadi” jawab Wahyu. “Eh… gua tadi asal jawab aja kan gua gak ngerti bahasa Jawa, gua kira lu denger makanya gua tanya ke lu” kata Jaka. “Orang lu gak ngerti ngapain gak tanya dari tadi” Kata Wahyu. Jaka hanya tersenyum mendengar perkataan Wahyu. “Palingan dia tadi bilang mau balik duluan, noh udah gak ada tuh orang” Kata Wahyu dengan yakin. “Owh… iya kayaknya, yaudah ayo balik yu” jawab Jaka sambil berjalan keluar kelas.

Aku terbangun dan sedikit linglung melihat sekeliling kelas. “Kok sepi sekali bukanya tadi rame” Pikirku dalam hati. Langsung saja aku lihat jam yang terletak di depan kelas. “Deg…” aku terkejut melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11:50 malam. “Sialan Jaka bukanya tadi sudah kusuruh bangunin kalo mau balik” umpatku dalam hati sambil berlari keluar kelas. Sepanjang jalan kembali ke asrama jalanan sangat gelap dan suasana terasa mencekam karena lampu-lampu teras telah dimatikan. 

 

Tidak lama aku sampai di depan kamar. Kulihat teman-temanku telah tidur dengan nyenyak, dan hanya satu tempat tersisa untuk tidur. Yap, tempat yang sengaja dihindari oleh penghuni kamar ini. Aku termenung sejenak melihat tempat tersebut, “Biarlah yang terjadi pasti terjadi” pikirku dalam hati. Aku langsung berjalan mendekati tempat tersebut, semakin dekat perasaanku semakin tidak enak. Kamar yang sudah gelap dan sunyi menambah suasana menjadi lebih mencekam. Tak butuh waktu lama ku sampai dan langsung membaringkan badanku untuk tidur. Setelah beberapa waktu aku tidak merasakan atau mengalami kejanggalan, justru terasa sangat nyaman tidur di tempat tersebut. Tak butuh waktu lama aku tertidur.

 

Tak lama aku tertidur, terasa ada seseorang yang membangunkanku. Aku langsung terjaga dan melihat sekeliling. “Aneh” pikirku dalam hati, tak seorangpun kulihat di sekelilingku. Kucoba untuk menggerakan badanku, namun badanku terasa kaku dan tak bisa bergerak. Tak lama setelah itu dadaku terasa sesak dan susah sekali bernafas seakan-akan ada seseorang yang menindih badanku. “Sial… aku ketindihan” pikirku sambil berusaha mencari cara untuk melawan. Semakin lama semakin sulit nafasku dan serasa mau mati jika aku mengendorkan sedikit perlawanan, badanku bertambah kaku dan tak bisa bergerak sedikitpun. Aku mencoba melawan dengan hal yang masih bisa kulakukan. Aku mulai berusaha mengatur pernafasan ku dengan baik. Aku berusaha menghirup udara sebanyak mungkin dan langsung mengeluarkanya dengan keras, seakan menghentakan udara keluar dari hidungku. Aku mengulangi hal tersebut dan alhasil tak lama setelah itu badanku mulai dapat digerakan sedikit dimulai dari jari tangan. Dan berlanjut sampai seluruh anggota badanku dapat bergerak. Langsung saja ku hentakan badanku untuk bangun. Dan usahaku tak membuahkan hasil yang sia-sia aku terbangun dengan nafas tersengal. Kulihat sekeliling kembali normal, dan tidak sepi seperti sebelumnya. “Alhamdulillah” kataku sambil melihat jam yang telah menunjukan pukul 03:00 pagi. Dan kulihat beberapa temanku sudah terbangun. Tadi itu benar-benar menakutkan, karena serasa jika aku lengah sedikit dalam melawan aku tak akan bangun lagi.

 

Paginya ketika di dalam kelas beberapa teman yang sekamar dnganku menanyakan apakah aku mendaat gangguan. “Gak papa kok ri, cuman ketidndihan doang tadi malam, toh aku juga dah bisa ngelawan” jawabku sambil tertawa berusaha menenangkan kekhawatiranya. “Temenan ra popo Ghol” tanya fikri berusaha meyakinkan. “Iyo, ora popo santuy wae” jawabku. “Yowes lek gak popo, tapi lek kenopo-nopo kandani arek-arek” kata fikri. “Siap boss” jawabku pada fikri. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat malam pun telah tiba kembali dengan kegelapanya yang mencekam dalam pikiranku. Inilah awal kehidupan malamku yang tidak pernah tenang dan awal aku membenci malam hari yang sebenarnya sangat indah dengan segala keindahanya yang tak pernah kurasakan.

 

         


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar