Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MBOJO DANA MA MBARI : FENOMENA, SEJARAH DAN KEBUDAYAAN BIMA




Oleh: Fitriatul wilianti

Mbojo Dana ma mbari merupakan sebuah slogan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Bima, istilah tersebut hampir dipahami bagi seluruh masyarakat Bima, baik yang tua maupun yang muda, tapi bagi orang-orang di luar Bima kalimat tersebut adalah sesuatu istilah-istilah asing yang bahkan tidak penting, akan tetapi jika ditelusuri lebih lanjut kalimat ini memiliki makna yang cukup dalam bagi masyarakat Bima, yang walaupun masih banyak kaum muda yang belum sepenuhnya tahu bagaimana makna mendalam dari kata Ma mbari itu sendiri.

Mbojo dana ma mbari adalah sebuah kalimat pendek yang menggambarkan kondisi atau slogan dari tanah Bima. Mbojo dana ma mbari dalam bahasa Indonesia berarti "Bima tanah yang beracun", dilihat dari peralihan makna tersebut mungkin banyak orang bertanya-tanya maksud dari slogan tersebut. Definisi dari kalimat "tanah yang beracun" atau dana ma mbari disini diartikan sebagai tanah yang kapanpun bisa saja mengeluarkan air, api ataupun angin apabila di kotori.

Mengenai slogan diatas, terkadang masih banyak juga masyarakat Bima, terlebih kalangan muda yang belum tahu atau hanya sekedar tahu mengenai penjelasan dari slogan tersebut dan bagaimana fenomena dan sejarah penggunaannya. Dari beberapa cerita yang saya dengarkan, dan juga kejadian-kejadian yang saya alami secara langsung di tempat tinggal saya, yaitu di kecamatan Donggo, Kab.Bima, Masyarakat Donggo sendiri percaya bahwa apabila di kecamatan Donggo pada awal tahun atau pada musim hujan, musim di mana masyarakat Bima bertani, beberapa hari tidak turun hujan sama sekali, hingga tanaman-tanaman pertanian rusak maka hal itu terjadi karena telah terjadi sesuatu yang berbau maksiat di lingkungan masyarakat tersebut sehingga Allah tidak menurunkan hujan untuk masyarakat dan para petaninya. Untuk itu masyarakat yang percaya akan slogan Mbojo dana ma mbari akan melakukan Nggalo Moti/ Pe'e Loko.  

Nggalo Moti/ Pe'e Loko yaitu sebuah istilah yang dilakukan masyarakat untuk mencari gadis-gadis yang telah melakukan perbuatan maksiat atau hamil di luar nikah, karena degradasi moral yang sudah terjangkit pada kalangan pemuda masa sekarang. Jadi masyarakat akan mengumpulkan semua gadis-gadis atau bahkan janda yang tinggal di desa untuk di periksa satu-persatu apakah mereka masih perawan atau tidak.

Dan hal tersebut tidak jarang ada yang gagal. Karena kebanyakan setiap selesai diperiksa akan langsung ada yang ditemukan hamil atau tidak perawan lagi, kemudian setelah ditemukan atau diamankan maka akan langsung dinikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya. Dan yang paling menakjubkan, yaitu pada saat pemuda-pemudi itu selesai atau sedang diaqad maka akan langsung turun hujan yang akan membasahi seluruh hamparan tanah petani tempat mereka bercocok tanam.

Dan contoh lain apabila di musim bercocok tanam terjadi angin topang atau fenomena alam lain yang dapat merusak semua tanaman-tanaman petani maka otomatis ada pemuda-pemuda yang telah melakukan maksiat sehingga tanah bima sulit menerima itu dan Allah Pun menjadi murka, sehingga kejadian tersebut dikaitkanlah dengan semboyan  Bima Dana ma mbari atau tanah yang beracun. Walaupun kejadian atau contoh-contoh tersebut sulit dipercaya dan di kaitkan dengan slogan Mbojo ma mbari atau bima yang beracun akan tetapi masyarakat bima percaya akan hal itu, karena masyarakat Bima masih kental dengan tradisi-tradisi nenek moyang dan kepercayaan masa lalu.

Dan praktik-praktik tersebut tidak jarang dikerjakan oleh kalangan masyarakat Bima yang lain, karena hal itu bisa langsung berhasil sebelum masyarakat melakukan sholat istisqo’ untuk meminta hujan. Dan mengenai kelanjutan dari tulisan ini, karena penulis hanya mengambil contoh dari cerita-cerita yang diperoleh dari daerah kelahiran sendiri, atau hanya sebagian kecil dari tanah Bima sehingga tidak bisa untuk menafsirkan fenomena Bima secara umum, sehingga mungkin pemahaman mengenai slogan "Bima dana ma Mbari" tersebut sulit diterima oleh para peneliti atau ilmuan bahkan pembaca sendiri. Oleh karena itu, mengenai fakta atau kebenaran yang terjadi dan untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai tanah Bima, dapat diperoleh dan dibuktikan melalui wawancara atau observasi langsung ke daerah-daerah tanah Bima yang dipercaya mengalami fenomena-fenomena tersebut, atau mereka-mereka pelaku sejarahnya langsung.

 

Sekian, Bima 4 Oktober 2020.

 

 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: