Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KRITIK DIRI

Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

Apakah kalian pernah melakukan kesalahan di masa lalu? Ketika mengingatnya, merasa diri ini selalu diposisi salah dalam melakukan hal apapun? Dan membuat pertanyaan yang berulang kali tentang perbuatan benar atau salah yang sudah dilakukan? Hey, jangan terburu-buru dalam menyikapi arti dari rasa salah. Kesalahan itu adalah hal wajar yang dilakukan oleh manusia, karena makhluk hidup itu penuh dengan kekurangan dan kelebihan. Segala sesuatu yang sempurna itu hanya milik Sang Pencipta. Dengan begitu, kesalahan yang telah kita alami menjadi zona di mana kita harus lebih berhati-hati dalam melakukan hal apapun. Tanpa adanya impresi kesalahan dalam hidup, maka sulit bagi kita memahami apa yang benar. Menerima pengalaman yang buruk yang sudah kita lakukan itu dapat dijadikan sebuah pelajaran agar tidak terulangi dan sebagai tahap awal memaafkan. 

Minta maaf dan memaafkan itu sebenernya lebih sulit yang mana sih? Sebagian orang berpendapat bahwa minta maaflah yang paling sulit. Dan sebagian yang lain, mengatakan bahwa memaafkan lahyang tersulit dan ada juga yang bersuara “tergantung bentuk permasalahannya”. Coba deh by asking yourself, kalo aku minta maaf apa ya  feed back baik untuk diri aku sendiri? Dan kalo aku memaafkan orang yang punya salah sama aku, apa ya  feed back nya?. Dari pertanyaan itu sudah terlihat minta maaf dan memaafkan ini adalah hal baik. Tidak ada hal baik yang kita lakukan tapi berujung sia-sia dan merugikan, keduanya adalah obat paling ampuh untuk diri sendiri dan hubungan sosial. Tanpa disadari hal ini menjadi proses kita mencintai diri sendiri dengan mejauhkan pikiran-pikiran emosional dan mengembangkan mindset positive.

Pada dasarnya mencintai diri sendiri ini bukan hanya soal melatih diri dengan minta maaf dan memaafkan saja, baik itu ke orang lain atau diri kita. Semua itu masuk dalam ruang lingkup bagaimana kita mengizinkan diri untuk lebih mengekspresikan hal-hal positive itu. Pernah merasa ngga sih kalian? Saat melakukan sesuatu yang negative, sebenernya hati nurani kita bertitah “jangan lakuin itu”. Secara otomatis bila kita mengikuti alur hati nurani, semua hal yang kita lakuin itu positive. Sebaliknya, jika kita apatis ke hati nurani sendiri artinya kita belum bisa harmonis dengan diri kita sendiri.

So, latihlah diri kita untuk bisa memaklumi diri sendiri. Jangan cuma berbaik hati dengan orang lain, tapi acuh ke diri sendiri. Kalo kata Analisa Widyaningrum seorang Clinical psychologistdi International Hospital, Jogja “berbaik hati dengan diri kita walaupun ga perfect”. Cintai dengan memaklumi diri sendiri, but don’t forget to upgrade ourselve so. Dengan apa? Salah satunya membebaskan diri dengan belajar hal baru yang mana diri kita bisa mengetahui lebih banyak ilmu-ilmu asing yang sebelumnya kita belum tahu. Memberantas miskinnya ilmu dalam diri supaya menambah wawasan dan memahami segala sudut pandang segala hal.

أنظر ماقال ولاتنظر من قال

Malang, 2 oktober 2020

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar