Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KITA SAMA-SAMA MENUA DAN TAKUT SEPI MENJELMA



Nur Sholikhah


"Apa yang kau takuti di penghujung hidupmu?"
"Kesepian."
"Mengapa?"
"Aku tidak bisa membayangkan jika setiap hari aku hanya berkelut dengan kenangan. Sementara orang-orang di sekitarku tidak ada, entah sudah meninggalkanku lebih dulu atau masih sibuk dengan urusannya."
"Suamimu? Anak-anakmu?"
"Siapa yang bisa memperkirakan takdir Tuhan. Kebanyakan suami akan meninggal terlebih dulu, itu artinya aku menjanda di masa tuaku. Sementara anak-anakku bisa jadi sudah berkeluarga, tinggal di luar kota meniti karirnya. Apa yang akan kutakutkan lagi jika bukan rasa sepi?"
"Tetangga, bukankah kau masih memiliki mereka?"
"Benar. Mereka tinggal dekat dengan rumah bahkan ada yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Tapi tidak ada yang tahu dan mengerti bahwa urusan keluarga sendiri itu jauh lebih penting dari pada urusan orang lain. Mereka tidak bisa sedekat keluarga meskipun sering kali mereka mengetuk pintu rumah. Menanyakan kabar, berbagi cerita, mengantar makanan atau hanya sekadar melihat diri ini baik-baik saja."
"Barangkali nanti ada salah satu anakmu yang akan membersamai masa tuamu."
"Itu juga harapanku. Mereka akan sering berkunjung jika aku sudah mulai sakit-sakitan. Mereka akan kembali jika rumah ini sudah kosong."
"Maksudmu? Kau menuduh anakmu akan berbuat seperti itu?"
"Bukan. Aku hanya membayangkan kemungkinan terburuk di masa tuaku. Mereka akan kembali jika rumah ini sudah sepi. Mereka akan menatap foto-foto masa kecil yang terpajang. Mereka akan terngiang cerita dan gelak tawa yang panjang. Mereka akan ingat bahwa suatu kali aku pernah marah, kesal, mengomel sekenanya."
"Lalu di mana kau saat itu?"
"Haha, tentu saja aku sudah terkubur dalam tanah sehari yang lalu. Saat gundukan tanah itu masih basah, kecoklatan. Semerbak aroma mawar dan daun pandan masih menguar di makam, juga di dalam rumah."
"Selanjutnya?"
"Ya itu tadi. Anak-anakku akan berkumpul di ruang tamu dengan sisa-sisa makanan suguhan. Mereka membahas tentang rumah ini. Mau diapakan rumah sepi ini? Mau dijual kah atau disewakan pada orang lain? Mau ditempati sendiri atau bagaimana? Mereka saling melempar. Ada yang beralasan karirnya tidak bisa ditinggal karena butuh waktu lama untuk mengejar, ada yang anaknya tidak memungkinkan jika harus pindah sekolah, dan terungkaplah alasan-alasan lainnya."
"Dan pada akhirnya?"
"Dan pada akhirnya semua hanya akan tinggal kenangan. Rumah ini terbeli oleh orang lain. Semua foto yang terpajang akan digudangkan. Mereka akan kembali ke daerah semula dengan membawa sebagian uang hasil menjual rumah. Aku dan suamiku kesepian di kuburan. Gundukan tanah kami mengering, tak ada lagi bunga, hanya ada rerumputan liar yang mendoakan."
"Semoga apa yang kau katakan tadi tak pernah terjadi." 

Aku hanya mengangguk dan mataku menerawang jauh. Kudengar suara isakan tangis di sampingku. Ia mengambil tisu, mengelap matanya yang tiba-tiba sendu. 

"Mengapa kau menangis?"
"Aku benci pertanyaanku sendiri. Aku juga takut sepi."
Aku tertawa menatap wajahnya yang menengadah.
"Kalau begitu kembalilah ke desa. Orang tuamu sudah menunggu. Jangan sampai apa yang kukatakan tadi terjadi pada mereka. Kehilangan itu tidak mudah, butuh waktu lama untuk menerima."
Ia mengangguk, entah itu tanda setuju atau hanya sekadar isyarat bahwa ia telah mendengar perkataanku. 

Malang, 20 Oktober 2020


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar