Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH SI BAPAK OBOR

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana 

       Suara perempuan langgar mendayu-dayu syahdu, juga pukulan rebana saling beradu. Bapak-bapak dan para jejaka desa sibuk menghidupkan sumbu obor yang padam dimainkan angin, anging dari mulut-mulut kecil anak desa. Sebagian lagi menyamakan tikar anyam agar serasi bentuk motif indahnya. Ibu-ibu juga tak kalah riuhnya, tepat di tenda yang sengaja dipasang oleh bapak-bapak tikar dan obor, asap meraih langit dengan membuntangkan aroma rempah menyeruak tajam. Sesekali terdengar mereka mengikuti alunan sholawat Nabi dari perempuan masjid sembari mengaduk hingga menganggkat hasil masakannya. Aku dan dua temanku, Joe dan Lee juga ikut andil mengumpulkan kayu bakar siang tadi, sampai-sampai Pak Modin berkacak pinggang keheranan melihat semangat kami.

       Di kampungku memang malam maulid Nabi digelar besar-besaran. Bukan hanya maulid sebenarnya, beberapa malam mulia dalam Islam juga dirayakan demikian, seperti dua hari raya, malam 21 Ramadhan, tahun baru Muharram hingga Nuzulul Qur'an. 

"Ayo Ris, sebentar lagi pembacaan Mahalul Qiyam, cepatlah !!"

"Aku siap"

Lee mengenakan jubah putih lebar lengkap dengan surbannya malam ini, sedang Joe dan aku bersarung licin seirama dengan kokonya. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan perlahan menyepi, bahkan bapak-bapak obor yang bersikeras mempertahankan obornya terus menyala, tampak berjalan pasrah ke dalam langgar meninggalkan anak apinya. Semua bibir menghening, seakan dimantra untuk mengikuti komando satu suara. 

"Shollualannabimuhammad" 

"Shollualaih"

Wajahku tenggelam penuh oleh tadahan tanganku, pun dengan Joe dan Lee yang mulutnya renyah merapalkan sholawat Nabi Muhammad. Pak Modin mengatakan bahwa tatkala Mahalul Qiyam dikumandangkan, maka saat itu pula baginda agung akan datang. Sejak mengetahui hal itu, Aku dan kedua temanku lebih khusyuk menggemakan pujian sholawat untuk baginda Muhammad. 

       Sekitar lima belas menit mengkaki, seluruh jamaah dipersilahkan duduk kembali. Pak Modin mengambil microphone untuk memulai tausiah panjangnya malam ini. Tiba di tengah-tengah mataku beringsut terpejam, sebenarnya aku berusaha menahan, namun melihat Joe yang sudah terjaga pulas, usahaku runtuh sekilas. Hanya Lee saja yang fokus memperhatikan.

"Alasan yang tidak masuk akal, plass !!" Lontar kering Pak Modin menggetarkan tulang-tulangku, untungya meja sebagai sasarannya. Tak bisa ku bayangkan jika mendarat di urat-uratku, mungkin tiga hari aku akan berjalan terseok, begitu juga pada Joe.

"Kau juga Lee, mana tugas rangkuman ceramahmu malam itu ??" Ia menggeleng lembut

"Plasss !!"

Alamak, bagaimana bisa Lee yang khusyuk memperhatikan malam itu tak merangkum ceramahnya. Apa yang ia dengarkan kemarin.
"Saat di rumahmu, aku meninggalkan penaku di sana" singkat seperti tidak bersalah. Lugu sekali cucu Soim ini.

"Mau kemana kita ??"

Kami bertiga berjalan beriringan tanpa arah. Sesekali Joe menggerutu kesal dengan Lee yang bisa seculas itu tidak membangunkannya saat ceramah tiba. Pak Modin menjatuhkan hukuman bagi kami untuk menanyai isi ceramahnya kepada orang-orang yang hadir saat itu. 

        Lelah berjalan kesana kemari meninggalkan madrasah, akhirnya kami memutuskan untuk berbaring santai di serambi langgar, berharap menemukan jawabnya. Beberapa kepala masih berada di sana. Laki-laki langgar yang membersihkan halaman, ibu-ibu dapur yang mencuci bekas jingga kua kari dan ada bapak-bapak obor yang sedang memisahkan sumbu dari bambunya."Bapak obor !!" 

Tanpa berfikir panjang, aku berjalan menghampiri kerumunan mereka diikuti Joe dan Lee dengan wajah kebingungannya. Aku memilah milih wajah yang akan menjadi jawaban atas hukuman ini. "Pak Abduh" sebelum aku tersimpuh jatuh, aku melihat ia bersikukuh tenang menyimak ceramah di sampingku. Sosoknya yang juga sangat mengerti agama, membuatku semakin yakin bahwa ia bisa membantuku.

"Lanjutkan Riss !!" Suara parau memanggil namaku, memecah fokus kami saat mendengar kisah Nabi dari Pak Abduh. Ia mengulum senyum kecil seraya menjempolkan tangannya ke arahku. Lee dan Joe tersipu malu menutup wajahnya dengan buku. Sedang aku menggaruk kepala yang tak gatal.

"Siap Pak Modin"


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar