Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HIKAYAT SUMUR KERING

  

 Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

    Gadis berambut urai semampai itu berjalan tegap sembari mengulum lesung pipinya. Seragamnya licin, tak ada sedikitpun kerutan yang terlihat. Mata indahnya menatap erat ke muka, mengabaikan mulut-mulut buas yang terus mencemeehnya. Takdirnya bernama Marlina, gadis yang sukses mengubah takdir pilunya dengan rapalan asa dan usaha. 
**

"Sudah Lin, jangan terlalu berlarut gundah, masa depanmu masih panjang" wajah gadis besar itu tenggelam di pangkuan ibunya. Air matanya bersimpuh bandang, seperti tidak terima dengan nasib peliknya. "Aku akan mendatangi Pandeka Kanha, mak" 
       Terdengar cukup berlebihan untuk bertandang ke Pandeka Kanha, sosok pria paruh baya yang dikeramatkan warga. Jangankan beradu mata, mendengar namanya saja membuat lemas dari tengkuk hingga ujung kepala. Tempramenya memang seperti manusia umumnya, namun aura laki-laki tambun itu sungguh beringas dan haus darah. Banyak anak-anak yang ditakut-takuti ibunya dengan cerita Pandeka Kanha, agar mereka tidak malas mandi, pulang sebelum petang dan malas belajar. Ceritanya memang tak masuk akal, tapi cukup terlalu nyata bagi bocah-bocah belia.
"Apa kau sudah tidak waras, menyerahkan nafasmu kepadanya ??" Matanya kuyu setelah mendongakkan isak wajah gadis malang itu. Firasatnya bertalu-talu akan ketakutan yang menggelayutinya. Bagaimana jika anak gadisnya diculik Pandeka Kanha ? Bagimana jika dikuliti hidup-hidup ? Atau dijadikan tumbal seperti cerita Samsiah di awal bulan ? Tidak.
"Tujuh belas tahun sudah aku hidup, tujuh belas tahun pula telingaku tak bisa bumpat dengan cemooh mereka" tangannya memukul-pukuli perutnya, lima kali ayunan lantas berpindah ke pipinya, begitu seterusnya.

Ibunya tidak bersuara, mungkin hatinya kecewa dengan keputusan gadisnya.
"Mau jadi apa mak, anak gadis bertubuh gembrot macam Lina ?? Tidak ada bujang desa yang bersedia meliriknya"

Masih terkunci, mulutnya

"Keputusanku pergi ke Pandeka Kanha memang menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi jika Lina menjadi perawan tua"
Nafasnya menyeruput panjang, bersama tangan kasarnya yang mengelus rambut anak gadisnya,
 "Lalu bagaimana jika engkau tidak kembali, nak ??"

"Tenanglah, mak!! Itu hanya isu-isu fiktif belaka, semua tidak ada benarnya"

"Lantas bagaimana jika benar, Lin ??" 
Salah satu kebiasaan buruk orang kampung, memakan lantas termakan berita angin jua. Mereka gemar melebih-lebihkan satu sisi, tanpa memandang sedikitpun sisi keduanya. Namun Gadis bulat itu bisa seyakin itu karena cerita teman-temannya, ia juga tak akan berani nekad jika tidak tahu kebenarannya. Tiga hari lalu, Sarpin dan Kopong sebelumnya pernah mengaku bersua dengan Pandeka Kanha, begitupun cerita Cik Rika, Nurma dan lainnya yang menyesal karena tidak dari dulu mengenal Pandeka.

"Percayalah !!"

       Memupuk sebuah kepercayaan terbilang sangat sulit, ibunya mungkin sedang risau di rumah, terbukti setiap langkah kakinya yang terasa berat saat hampir tiba di kediaman Pandeka. Berulang kali ia menelan ludah untuk mengguyur tenggorokan keringnya, peluh mengucur sebebas-bebasnya. Bagaimana jika cerita teman-temannya tidak ada benarnya, justru kekhawatiran ibunyalah yang akan terbukti nyata. 

"Sepadaa!!" Pintu terbuka, menyibakkan gelap pekat dari dalam rumah tersebut. Kosong. Semacam tak berpenghuni lama. Matanya masih menerjapi seisi rumah, berharap ada kepala yang mempersilahkan masuk.

"Ada apa kau kemari ??" Suaranya pegas basah, membangunkan bulu roma gadi itu dari tidurnya. Mata saganya seakan berujar "hai" kepadanya. Untuk kali pertama bertatap muka dengan Pandeka Kanha, sosok yang digadang-gadang buas di mata warga. Ternyata semua tidak ada benarnya. 

"Sebagai seorang Gadis, aku mengerti perasaanmu kini. Kau tidak cukup muda untuk melepas kelajanganmu" mendengarnya, ia semakin  yakin bahwa Pandeka Kanha berilmu mandraguna. Ia mampu menerawang pikiran seseorang tanpa bercerita.

"Apa yang harus aku lakukan ??"

"Kau cukup mengisi sumur kering di atas bukit timur desa, ambilah air dari lematang sungai di bawahnya. Kau cukup melakukannya tiga kali seminggu selama tiga bulan".
Entahlah, apakah sumur kecil itu tempat bersemayam para dewa atau sarang jin yang berhati budiman. Perlahan beban membawa tubuh sendiri pun berkurang. Semua usaha gadis itu tiada sia-sianya.


Malang, 17 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar