Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BEBAN YANG INGIN KU BUANG

Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya


     Sempat dihadapkan oleh suatu pertanyaan, jika harus menyebutkan tiga orang yang kamu sayang maka siapa yang akan kamu pilih? Dengan semangat dan percaya diri aku memilih keluarga, saudara dan orang terdekat. Kujawab dengan penuh keyakinan tanpa merasa salah sedikitpun, karena nyatanya mereka orang yang selalu menyertai disetiap langkah hidupku.  Namun seseorang tersenyum, bagaimana bisa kamu menganggap mereka yang begitu berarti tanpa mencintai diri sendiri. Bagaimana kamu bisa menyayangi sepenuh hati jika kamu melupakan diri sendiri. Bagaimana kamu bisa menjunjung mereka begitu tinggi tanpa mengapresiasi diri terlebih dahulu. Aku berpikir beberapa saat, meski bertanya-tanya namun hati dengan cepat mengiyakan. 
      Seseorang itu bertanya lagi apa makanan kesukaan ayah dan ibu, dengan sigap dan cepat aku bisa menjawab semua tanpa ragu, karena bagiku itu adalah sebuah pertanyaan tergampang dibandingkan dengan pertanyaan matematika tentang hitung campuran. Sedang beberapa saat ia juga bertanya apa makanan kesukaanku. Aku berpikir sesaat mengingat makanan apa yang sebenarnya aku sukai. Benar aku menyukai rendang sapi, tapi kenapa aku hampir tak pernah memilih makanan itu sebagai menu. Tahu tempe lah yang sering mendominasi. Begitu sering bahkan hampir setiap hari aku memakannya meski menggerutu sesekali. 
       Lagi-lagi seseorang itu bertanya lagi mengenai apa kegiatan yang kakak adikku gemari atau sesuatu yang menjadi hobinya sehari-hari. Tanpa membutuhkan waktu yang lama akhirnya aku bisa menjawabnya lagi. Hingga berganti menjadi sesuatu kegiatan yang aku gemari atau sesuatu yang menjadi hobiku. Terbesit pikiran untuk mengatakan jika aku suka membaca, namun nyatanya aku lebih sering menonton bahkan cenderung malas jika harus membaca, terlalu munafik rasanya jika harus mengatakan apa yang tidak sesungguhnya.      
        Kali ini aku benar-benar payah dan tak yakin dengan setiap jawaban mengenai diriku. Seolah kebahagiaan diri sendiri menjadi sesuatu yang asing. Belum sempat seseorang itu bertanya lagi, aku meminta untuk mengakhirinya secara sepihak. Bukan karena takut salah lagi atau pusing untuk memikirkannya. Hal ini membuatku tersadar jika mulai esok hari aku harus bertanya apa yang sebenarnya aku suka dan apa yang aku inginkan. Sedikit mengurangi porsi melihat dan mendengar pernyataan yang mulai menyita mimpi-mimpi indah. Pernah salah bukan berarti akan salah seterusnya. Mari membuang sedikit beban yang selama ini menyita kebebasan hanya untuk menjadi yang terbaik untuk jiwa yang lain.


Malang, 5 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar