Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Analisis Gender dalam Film Mulan 2020


Oleh: Astri Liyana 

Siapa yang tak tahu film MULAN? film yang sedang jadi buah bibir di kalangan penggemar film action dan sempat trending topik di Twitter pada sabtu (5/9/2020). Film garapan Disney+ yang tayang perdana pada jumat, 4 september 2020 bercerita tentang sebuah kekaisaran Cina yang di serang oleh penjajah utara yang bernama bangsa Rouran.  

Kritik sosial dan motivasi dalam film ini benar-benar tersampaikan kepada penonton, itulah yang saya rasakan. Memberikan wawasan dan pandangan baru terhadap problematika kemanusiaan yang terjadi di negara-negara lain, terutama film-film yang mengusung tema perempuan. Sehingga, dapat diketahui bahwa melalui film mampu memberikan semangat bagi para pejuang pergerakan kesetaraan gender menjadi lebih optimis.  

Dalam film ini dikisahkan seorang pahlawan wanita pemberani bernama Hua Mulan yang merupakan putri tertua dari keluarga Hua Zhou. Selain pemberani, ia juga mampu mengendalikan Chi dengan baik. Chi adalah kemampuan mengendalikan kekuatan dalam segala hal. Sebagaimana budaya leluhur mereka bahwa chi hanya bisa dikendalikan oleh laki-laki. Namun, tak bisa di pungkiri, jika seorang perempuan pun mampu mengendalikannya. 

Sejak kecil, Mulan gemar latihan bela diri. Sehingga, tak heran ia pernah membuat kegaduhan di desanya hanya karena mengejar seekor ayam hingga ke atap rumah. Atas kejadian tersebut, tanpa sadar ayahnya merasa bangga dan sempat menyunggingkan senyum di bibirnya, akan tetapi senyumnya hilang seketika saat melihat orang-orang di sekitarnya menatap sinis ke arah Mulan.     

Mulan juga merupakan sosok yang mandiri dan peyayang keluarga, serta berusaha melakukan peran dan kewajibannya sebagai seorang perempuan, juga seorang anak. Hal itu terbukti ketika ia mengikuti kehendak orang tuanya untuk dijodohkan dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalinya. Mengapa demikian? Karena adanya stereotip yang menjadikan perempuan mendapat kehormatannya melalui pernikahan.  

Suatu hari ia melanggar perannya sebagai seorang perempuan. Ketika datangnya prajurit kerajaan dan memerintahkan setiap keluarga agar mengikutsertakan salah satu putranya untuk berperang. Karena di keluarganya tidak ada laki-laki selain ayahnya, maka diam-diam ia menggantikan sang ayah yang sakit-sakitan meskipun harus menanggung berbagai resiko, termasuk menutupi identitasnya sebagai perempuan. 

 Namun siapa sangka, di balik keberaniannya melawan penjajah terdapat budaya patriarki yang sangat mendarah daging di dalamnya. Terdapat subordinasi di sana. Budaya leluhur mereka yang melabeli bahwa memiliki anak perempuan adalah sebuah kelemahan, perempuan di pandang sebagai warga kelas dua, perempuan harus memiliki karakter yang diinginkan kaum superior, yaitu lembut dan patuh.   

Karakter Mulan sangat menentang tradisi dan hukum yang berlaku. Akan tetapi, ia tidak bisa menyuarakan kehendaknya dikarenakan ia mengikuti perintah dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, ia memberanikan diri pergi ke perkemahan yang menjadi tempat perkumpulan lelaki dari berbagai suku dan seluruh kerajaan untuk mempersiapkan perang. Merasa asing? Merasa canggung? Jelas ia rasakan. Akan tetapi, itu tak menghalangi semangat juangnya. Ia bersembunyi di balik identitasnya sebagai Hua Jun dan bertekad untuk menjadi bagian dari mereka.  

Mulan berlatih dengan keras, mulai dari menggunakan pedang, tombak, Kung Fu, memanah, serta membawa 2 ember berisi air ke atas bukit. Ia membuktikan bahwasannya perempuan pun mampu melakukan hal-hal demikian. Bahkan ia menjadi yang terkuat di antara yang lain. Ia mampu memainkan pedang dan tombak dengan sangat baik. Ia juga mampu membawa 2 ember air sekaligus ke atas bukit di saat orang lain tak ada yang mampu melakukannya. 

Hingga saat peperangan tiba, ia bertemu dengan seorang penyihir yang menjadi musuhnya. Penyihir tersebut mengetahui kebohongan Mulan yang saat itu menyamar sebagai laki-laki. Penyihir tersebut terus bertanya akan kebenarannya, tetapi Mulan terus menutupinya. Ia khawatir dan takut akan resiko yang akan terjadi terhadap dirinya dan keluarganya apabila kebenaran itu terungkap. 

Sang penyihir berkata kepada Mulan, “Tipuanmu meracuni chi-mu, maka kamu akan mati dalam keadaan berpura-pura”. Ia sempat pingsan ketika diserang oleh penyihir. Namun, ketika ia sadar, kata-kata tersebut mampu memberi energi luar biasa untuk Mulan. Ia melihat pedangnya yang bertuliskan sebuah prinsip menjadi prajurit kerajaan, yaitu Setia, Berani dan Jujur. Hingga akhirnya ia bangkit dengan identitasnya sebagai Hua Mulan yang sesungguhnya. 

Mulan kembali ke medan perang dengan gagah berani, dan menebas semua musuh yang menghadangnya. Bahkan, ia juga mampu menyelamatkan semua prajurit yang tersisa dari serangan musuh. Meskipun demikian, Mulan tetap saja diusir sebab ia mengkhianati bangsanya hanya karena ia adalah seorang perempuan. Ia diklaim sebagai pembawa aib bagi kerajaan dan keluarga Hua.  

Setelah mengalami pengusiran, Mulan termenung seorang diri dan dilarang untuk kembali ke desanya. Sang Penyihir pun mendatanginya, ia sangat mengerti atas apa yang alami oleh Mulan. Sebab, penyihir itu pun pernah mengalami apa yang dialaminya. Hidup tanpa negara, tanpa desa, tanpa keluarga. semakin ia menunjukkan kekuatannya, maka ia semakin hancur. Ia menceritakan rencananya menyerang kerajaan. Oleh sebab itu, ia mengajak Hua Mulan untuk bergabung bersamanya dan mengambil alih kerajaan sebagai perempuan yang setara dengan laki-laki. Akan tetapi, Mulan menolak ajakan tersebut, karena ia tak ingin menghianati bangsanya. 

Mulan kembali ke perkemahan untuk mengabarkan rencana musuh. Ia memberitahukan bahwa kaisar dalam keadaan bahaya. Tetapi, ucapannya tak didengar. Mereka beranggapan bahwa Mulan hanyalah seorang perempuan penipu yang bahkan keberadaannya pun tidak dianggap. Mulan bersikeras meyakinkan mereka meskipun ia harus memberikan nyawa sebagai gantinya. Mereka pun akhirnya mempercayai ucapan Mulan dan membiarkan Mulan memimpin jalan menuju kerajaan. 

Ternyata ucapan Mulan benar, Kaisar telah disandera oleh musuh. Namun, berkat kerjasama semua prajurit dan si Penyihir yang menuntun keberadaan Kaisar, Mulan pun berhasil menyelamatkan Kaisar. Atas keberhasilannya itu, Mulan diberikan penghargaan terbesar dalam hidupnya. Ia adalah satu-satunya perempuan yang berada di antara prajurit terhebat kerajaan yaitu sebagai Pengawal Kaisar.  

Karakter Mulan dalam film ini telah membuktikan bahwasannya perempuan pun mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh laki-laki, terutama dalam hal sosial. Budaya patriarki bukan alasan bagi perempuan untuk tetap berdiam diri, terkungkung dan terhimpit dalam kegelapan dan kekalahan. Jangan biarkan tradisi, doktrin, dan kapitalisme menjadi dinding pembatas yang merenggut kemerdekaan perempuan. 

Ada satu kalimat yang menjadi kunci dalam film ini, “Tidak ada keberanian tanpa rasa takut”. Jika kita merasa takut akan sesuatu, itu adalah hal yang wajar. Tapi bukan berarti rasa takut itu menguasai kita, dan membuat kita mundur atau bahkan kalah sebelum berperang. Positive thinking, pantang menyerah dan optimis adalah hal yang harus kita tanamkan dalam diri untuk menuju kemenangan.    



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: