Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SISTEM PENCERNAAN DAN PERASAAN

Oleh : Muflikhah Ulya


       “Apalagi ketika di sekolah dulu, yang kupelajari cuma sistem pencernaan, bukan sistem perasaan. Isi laut mudah diduga, apalagi cuma isi perut, isi hati siapa yang tau”. Kurang lebih begitu kutipan kalimat kang Maman dalam bukunya yang berjudul Hidup Kadang Begitu. Setelah membaca beberapa susunan kata tersebut, tanpa sadar kepalaku mangut mangut, sebagai tanda setuju dengan pola pikir tersebut.
       Sistem pencernaan adalah hal yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sejak SD saat kita masih ingusan, kita sudah diajarkan tentang hal tersebut, yang bahkan sampai detik ini masih banyak ilmuan yang terus mengembangkan teori kelimuan dalam bidang pencernaan. Lain halnya dengan sistem perasaan, sejak dulu sampai sekarang, sejak kecil sampai sebesar ini, kita tidak pernah diajarkan terori tentang sistem perasaan. Sejak kecil kita hanya sebatas diajarkan untuk mengolah perasaan kita dengan baik, bagaimana cara bertutur kata dengan baik agar tidak menyinggung perasaan orang atau bahkan bagaimana cara bersikap sopan sebagai tanda kita menghargai seseorang. Tidak ada yang namanya teori perasaan ataupun ilmuan yang ahli dalam bidang tersebut. Hal ini dikarenakan perasaan bersifat abstrak, tidak ada teori paten tentang hal tersebut. Kita tidak akan pernah mengetahui apa niat seseorang, bagaimana perasaannya atau bahkan cara pandangnya terhadap kita. Tidak akan ada yang bisa mengetahui isi hati seseorang kecuali dirinya sendiri dan tuhannya.
       Terkadang kita terlalu sibuk menerka-nerka perasaan ataupun prasangka orang lain. Atau bahkan kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain. Sampai kesalahan diri sendiri pun tak tampak. Kalau kata pepatah gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak. Yang bisa kita lakukan hanyalah berprasangka baik terhadap apapun, siapapun, dan bagaimanapun. Percayalah bahwa segala sesuatu memiliki sisi baik yang terkadang kita sendiri tidak mengetahui hal tersebut. Tidak perlu menghakimi sesuatu atas dasar perasaan. Karena perasaan bukanlah tolak ukur yang bisa dijadikan rujukan untuk menentukan benar dan salah ataupun baik dan buruknya sesuatu. Contohnya, ketika kita tidak menyukai sikap seseorang, atau ketika kita membenci seseorang yang kemudian kita mengetahui kesalahan atau aib yang dia miliki, bukan berarti kita memiliki hak untuk menghakimi atau bahkan menyalahkan orang tersebut, atau bahkan memberitahukan kesalahan dan aib tersebut kepada orang lain.
       “Yang perlu diingatkan adalah yang bisa lupa, dan yang perlu ditegur adalah yang mungkin teledor. Dan yang paling bisa lupa dan teledor itu, menurutku: diriku sendiri” begitu kata kang Maman. Dua kalimat tersebut mengingatkan bahwa kita hanyalah seorang manusia yang memang sudah kodratnya menjadi tempat salah dan lupa. Maka dari itu sudah seharusnya kita lebih sering mengintrospeksi diri sendiri ketimbang memikirkan kesalah orang lain. Pun kita juga harus lebih sering untuk mengingatkan diri kita akan kesalahan yang telah kita perbuat daripada sibuk menyalahkan orang lain.
       Semoga kita selalu dihindarkan dari segala prasangka buruk dan selalu diberikan petunjuk ke arah yang benar.


Malang, 29 September 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar