Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PETA(KA)TA

Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Genap seminggu ini warung Mbok Mun sepi dihinggapi pembeli. Cabai segar yang biasanya raib paling cepat, kini hanya bertumpuk layu tertutup lembaran koran lama. Tak hanya itu, kerumunan lalat rumah yang ramai mengiring-temani mayur lainnya, juga tampak euforia merasai bau busuknya. Mbok Mun hanya bisa mengelus keningnya pasrah, meratapi kejadian yang tidak pernah terduga sebelumnya. Memang, Warung Mbok Mun terkenal acap ramai didatangi pembeli, terlebih saat pagi dan sore hari. Lokasinya yang berada di pusat desa, membuatnya mudah terjangaku oleh kawanan ibu rumah tangga.

"Sudah toh Mbok, gausah dipikir !! Mungkin belum rezeki dari Allah." Air mata perlahan menyimpuh di ujung mata Mbok Mun. "Ini bukan masalah itu Nur."

"Lantas ??" 

Mbok Mun menoleh. "Ini sebuah petaka"

Seorang wanita seumuran Mbok Mun menggeliat lusuh menghampiri warungnya. Bajunya kumal, sebaris dengan kulitnya yang keriput menghitam. "Ini untukmu" 

"Terima kasih. Tapi aku lebih suka uang koin dibanding ini" Tanpa berpikir panjang, Mbok Mun menukar sekantong beras dengan sekantong koin. Wanita itu tersenyum. Aku mendengar ia mendengus tersenyum.

"Selamat tinggal" 

Tidak ada tanggapan darinya. Namun, genap empat langkah, dia membalikkan badannya, untuk kemudian menghampiri Mbok Mun. Lagi. "Ada apa ??"

"Mungkin kau bisa menambahnya dengan sedikit kertas kartal." Kusahuti: "Kau ini meminta saja banyak permintaan."  

Mbok Mun menatapku lekat-lakat, matanya mengisyaratkan untuk meminta maaf kepadanya.

"Tidak." Aku berdiam agak lama. "Nurr !!" 

Wanita itu ber-"yah" pelan menyambut uluran tanganku, lalu pergi.

Aku menunduk. Menarik napas panjang yang sedikit tersenggal. Suaraku menegas. "Sebenarnya ada apa ini Mbok ? Bukankah kau sendiri yang meratapi nasib daganganmu kini ?" 

Tak ada tanggapan.

"Untuk kemudian kau menuruti semua permintaan peminta degil itu." Mbok Mun membuang pandangan, menggosok kedua matanya yang terlihat seperti berurai kembali. 

"Kau bahkan tak tahu Nur, apa yang telah kubuat kemarin." Tenggorokanku kering, hidungku bumpat, tidaklah aku tahu maksud ujaran Mbok Mun dan tak sepatutnya aku mencercainya. Kembali telingaku bersiap mendengar penjelasan dari Mbok Mun. "Apa yang terjadi ?"

"Kemarin datang seorang wanita lemah ke warungku, wanita yang sama tujuannya dan semburat wajanya dengannya tadi. Luapan emosiku tak terkendali, sebab banyaknya pembeli yang minta itu ini. Sudah kuberi di genggamannya, namun permintaanya bak rel kereta dan semakin menjadi-jadi. Darahku mendidih. Hingga aku mencacinya tanpa hati." Mbok Mun berhenti, semacam tak sanggup melanjutkan potongan ceritanya. Konotasinya mungkin terlihat sadis, hingga dia tak berani mengulanginya lagi.  

"Warung menyepi, riak pembeli menyunyi serta dagangan tak terbeli, apa ini Nur ??"

Air matanya merinai deras. Mungkin ketakutan Mbok Mun terjadi atas pesan dari mendiang suaminya yang terlupakan."Seramai apapun warungmu, jangan pernah meninggalkan perintah-Nya dan merendahkan orang tak punya, Dosa" Ungkapnya dulu dalam ceritanya kepadaku.

 

Malang, 26 September 2020

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar