Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MEYAKINI DAN MERAGUKAN TUHAN

 

Oleh: Astriliyana Safitri


Tulisan yang kubuat kali ini merupakan ringkasan mmm.. bukan ringkasan sih, lebih tepatnya menceritakan kembali salah satu cerita dalam buku “Islam Tidak Kemana-mana kok Disuruh Kembali” yang berjudul “Meyakini dan Meragukan Tuhan”. Cerita yang sangat menarik dan sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. So, baca sampai tuntas ya..

Gus Mut merupakan salah satu tokoh agama terkemuka dalam masyarakat. Suatu hari, seorang tamu berkunjung ke rumahnya dan menanyakan perihal konsep agama yang acap kali tidak rasional dan tidak logis. Dengan begitu, ia tak hanya meragukan agama yang dianutnya. Tetapi meragukan semua agama di dunia.

Tamu tersebut lahir dari keluarga beragama islam. Sejak kecil ia didik dengan keras oleh orang tuanya perihal agama. Saat itu ia berpikir bahwa itu bukanlah kepercayaan yang murni dari dalam hatinya. Hanya saja kebetulan ia lahir dari keluarga yang religius dan ia mengikuti agama orang tuanya.

Ketika ia telah melanglang buana mencari ilmu. Mempelajari antropologi, sosiologi, filsafat dan lain sebagainya. Ia berpikir bahwa agama yang dianutnya itu aneh dan mengapa banyak hal yang tidak logis dalam agama yang dipercayainya.

Mendengar pernyataan tersebut, Gus Mut tidak membantahnya. Si Tamu pun bertanya 

“Gus, kenapa sampean tidak membantah saya? Apakah sampean tidak merasa terganggu dengan pernyataan saya?”

“Kenapa saya harus terganggu?” tanya Gus Mut.

“Ya kan mungkin saja seseorang bisa menjadi murtad bermula dari keraguan seperti yang saya rasakan ini”.

“kalau seseorang murtad hanya karena keraguanmu, berarti memang dia sebenarnya tidak beriman dari dulu”.

Begitu kira-kira percakapan di antara keduanya. Lama-kelamaan percakapan diantara keduanya semakin menarik. Kemudian, membicarakan perihal rasionalitas. Memang rasionalitas itu penting, termasuk juga untuk mengetahui cara kerja agama. Sekarang pertanyaannya, pernahkan kita mengalami hal-hal yang tidak bisa diterima akal? Contohnya apa? Cinta.

Siapa yang tidak pernah merasakan jatuh cinta? Bisakah kamu menjelaskan cinta secara akal, mengapa kamu jatuh cinta?

Akal kita tentu tidak bisa langsung menjelaskan. Ia baru bisa menjelaskan setelah itu terjadi. Dan terkadang penjelasan akal pun tidak memuaskan. Artinya, rasionalitas atau logika hanya satu dari sekian cara untuk menemukan kebenaran. Kadang-kadang kebenaran itu ditemukan lebih dulu sebelum akal sampai ke sana.

Sama halnya dengan orang beragama. Mereka menemukan pengalaman terlebih dahulu, baru akalnya masuk untuk menjelaskan. Kenapa begini, kenapa begitu. Meskipun terkadang jawabannya tidak memuaskan.

Namun, kenapa orang-orang tetap teguh beragama walaupun mereka tahu bahwa kepercayaannya tidak bisa menjawab dengan memuaskan? Hal tersebut dikarenakan fondasi utama agama itu percaya. Hal yang baru bisa lahir dari pengalaman, bukan dari kepuasan.

*****

Kemudian, kenapa di zaman sekarang orang masih percaya hal gaib dan Tuhan? Secara ini sudah zaman rasional.

Perlu dipahami bahwa hal gaib tidak mengacu pada alam jin. Maksudnya, kita tidak bisa menjadikan alam jin sebagai patokan. Karena gaib secara bahasa adalah sesuatu yang tidak tampak, dan yang tidak tampak itu bukan hanya alam jin.

Contoh mudahnya begini, apakah kita dapat mengetahui isi pikiran seseorang? Kan tidak. Tapi ketika ditampakkan, manusia akan terkejut. Seandainya kita mengeluarkan otak dihadapan lawan bicara kita, tentu menyeramkan bukan? Dan pastinya menjadi hal yang mengejutkan. Sebab manusia sebelumnya tidak punya tempat untuk menjelaskan apa yang dilihatnya. Padahal tanpa mengeluarkan isi kepala kita secara harfiah, kita tentu mempercayai hal gaib bahwa di dalam batok kepala kita itu ada otak.

Begitu pun orang zaman dahulu ketika pertama kali mengenal api. Mereka ketakutan karena mereka tidak mengetahui apa itu api dan tidak memiliki pengalaman menghadapi api. Oleh karena itu, manusia sering kali takut menghadapi hal-hal yang tidak dimengerti, tidak dipahami, waspada, dianggap sesuatu yang berbahaya. Baru di tahap selanjutnya muncul rasa penasaran.

Proses mengenal Tuhan pun demikian. Di awali rasa takut terlebih dahulu. Nabi Muhammad bertemu dengan malaikat Jibril di Goa Hiro’ awalnya kan ketakutan. Kemudian, Nabi Musa ketika ia ingin bertemu dengan Tuhan lalu melihat ada gunung meledak hingga ia pingsan melihatnya.

Hal-hal seperti itu muncul karena manusia merasa tidak berdaya. Tidak berdaya karena ia tidak memahami apa yang sedang dialaminya. Lalu setelahnya, barulah ia berpikir dan berpikir tentang apa yang dilihatnya, kemudian mempelajarinya dan menjadi ilmu pengetahuan baru.

Setelah itu, kenapa manusia bisa mempercayai adanya Tuhan? Kenapa kita mempercayai hal-hal yang tidak dipahami, padahal belum tentu kita memiliki pengalaman bertemu Tuhan. Alasannya sederhana. Yaitu karena adanya kematian.

Kita semua tidak mengetahui rasanya mati. Karena kematian bukanlah pengalaman berulang. Sehingga manusia tidak bisa merasionalisasi apa yang terjadi pada sesorang ketika mengalami kematian. Kalau proses kematiannya sih bisa dipahami. Tapi pengalaman mati? Bagaimana kita memahaminya?!

Bagaimana dengan mati suri? Mati suri itu anomali. Bisa satu banding sejuta. Dan tidak bisa mewakili rasionalitas. Karena mati suri merupakan pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman orang, namun tidak bisa menjadi ilmu karena tidak bisa di uji coba berkali-kali.

Ibarat bayi yang baru lahir, bisa jadi ia ketakutan saat keluar dari rahim ibunya. Sebab selama 9 bulan dalam kandungan ia tidak memiliki pengalaman atau gambaran nyata tentang apa yang akan ia hadapi saat keluar. Oleh karena itulah ia menangis karena tidak mengerti dengan apa yang dialaminya. Manusia mati pun begitu, tidak mengerti apa yang ia hadapi. Karena tidak mengerti ia akan takut, tak berdaya. Namun tidak akan penasaran, karena ia sudah tidak sempat lagi berpikkir. Yang ada hanya pengalaman-pengalaman yang tak pernah ditemuinya saat masih hidup.

Dengan demikianlah manusia membutuhkan agama, membutuhkan percaya pada Tuhan, semata-mata untuk menghadapi kematian. Untuk menghadapi hal gaib seperti kematian, manusia butuh hal gaib lainnya untuk mengalihkan ketakutannya. Karena memang ada yang lebih layak ditakutkan manusia daripada kematian itu sendiri, yaitu Sang Maha Pencipta.

Lalu manusia berusaha menyembah-Nya, mengikuti segala aturan-Nya agar nanti manusia tidak merasa takut lagi saat kehidupannya hilang dan kematiannya pun jadi tenang (Khusnul Khatimah).




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar