Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENUNGGU DI AKHIR PENANTIAN

Oleh: Nety Novita Hariyani

Semilir angin berhembus tanpa tahu arah, membersamainya dedaunan yang gugur dari pohon dekat jendela, hinggaplah salah satu daun di kaca kemudian angin membawanya pergi lagi. Sedari tadi belum juga kudapati Rangga di kamarnya, tak biasanya ia pergi hingga larut tanpa memberi kabar terlebih dahulu. "Mungkin kak Rangga belum sempat kasih tahu mama, mama jangan cemas !" putriku hendak mencairkan suasana. Naluriku berkata lain, sepertinya akan terjadi sesuatu.
(Kring... Kring) tertera nama paman Harto di layar gawai. "Siti, hari raya nanti mudik ke Pekanbaru kan?" Ia memastikan. "Paman, sepertinya tahun ini siti dan keluarga belum bisa mudik. Uang buat mudik mau ditabung buat daftar kuliah Rangga tahun depan. Maaf ya paman" kujelaskan dengan perlahan karena pendengaran paman sedikit bermasalah. "Yasudah, jaga kesehatan ya di Lampung !!...." Belum sempat kujawab, jaringan telepon telah terputus, mungkin karena jaringan di kampung sedang bermasalah.

"Assalamu'alaikum..." gelombang suara yang tak asing di telinga bergetar memenuhi isi ruangan.
"Rangga? Kamu baik-baik saja kan? Mama khawatir" segera kurangkul tubuh anakku yang tinggi semampai itu. 
Tampaknya malam ini kulitnya bercahaya hingga terus kupandangi, namun tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam sambil tersenyum tipis. Karena menunggunya begitu lama aku baru sadar ternyata aku ketiduran di kamarnya, sampai sekarang ia belum juga hadir di ruangan itu.

"Permisi..." dari kamarnya aku bisa mendengar seseorang meminta izin untuk bertamu.
"Ya, ada apa ya pak ?" Nampaknya detak jantungku tak bisa berkompromi, ia berdetak begitu cepat sejak kehadiran bapak berkumis ini, di bajunya tersemat banyak lencana, mengayomi rakyat adalah tugasnya.
"Terjadi kecelakaan, anak ibu belum bisa diselamatkan." Ucapannya dengan suara gagah telah menghentikan duniaku, tubuhku melemas.

2 bulan berlalu, semenjak kepergiannya aku seperti berada dalam ruangan gelap, cahayaku telah direnggut, dan semenjak itu juga aku begitu terpuruk. Sebelum akhirnya ia harus beristirahat panjang, ia pernah berpesan kepadaku,
"Ma, kamarku di cat warna putih ya !! Spreinya juga, rangga maunya serba putih" 
"Loh, kan spreinya masih bagus nak. Kayak rumah sakit aja klo serba putih" ketusku kala itu.

Ketika itu aku tak pernah menyangka jika permintaannya adalah pertanda bahwa ia tak bisa berada di sisiku lagi. Tak pernah terpikirkan gairahnya dalam menyambut pagi untuk sekolah harus terhenti. Menyesal nampaknya tak dapat membuatnya kembali, keikhlasan juga belum sepenuhnya tertata di hati. Meratapi hanya membuatku sengsara, aku sadar masih ada yang harus kuperjuangkan, suami dan putriku.

Malang, 22 September 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar