Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENERJEMAHKAN KEKECEWAAN, KEMUDIAN MENUAI KESADARAN



                                                             Oleh: Inayatul Maghfiroh

    Hampir semua orang pernah merasakan kekecewaan, dengan segala macam  warna-warni penyebabnya.  Suatu hari pernah sengaja menulis caption “ coba berikan alasan kenapa kalian kecewa”, berbagai tanggapan diterima dengan segala kesan pesan dalam pengalaman masing-masing responden, ada yang merespon sambil curhat ( curahan hati), ada juga yang sebatas memberikan alasannya, dan jawaban paling mendominasi yaitu “ karena kita berharap kepada manusia”. ketika ditanya balik, kenapa memang jika kita berharap kepada manusia? Jawabnnya, itu kan kalamnya sayyidina ‘Ali mbak. Memang benar, jika setiap orang bisa bebas memilih asumsi yang seperti apapun, tapi alangkah baiknya ketika kita mengikuti asumsi, kita juga mempertimbangkan kenapa kita mengikuti asumsi tersebut, dan lain sebagainya. Oke tidak masalah, kalau jawabnnya demikian. Sekarang mari kita coba menelisik kembali dengan naluri dan akal yang semoga senantiasa sehat.

    Pada intinya, kesimpulan dari alasan kecewa yaitu karena mengharapkan sesuatu yang mungkin belum terkabul, misalkan “ saya mencintai seseorang, setiap orang yang mencintai mengharapkan terbalas cintanya, terbalas dengan penerimaan, namun tidak jarang yang justru terbalas dengan penolakan” adalagi yang kecewa karena ia memiliki keinginan masuk perguruan tinggi yang telah ia impikan sebelumnya, namun kenyataanya berbagai macam cara untuk masuk ke perguruan tinggi yang diimpikan telah dicoba, dan belum kunjung tercapai keinginanya. Coba kita perhatikan bersama, dua contoh diatas sudah memberikan kode untuk diterjemahkan pelan-pelan melalui kesadaran. 

    Jadi, mari menyadari sebelum menyadari bersama-sama, kita perlu tahu tentang dikotomi kendali bahwasannya ada sesuatu yang bisa dikendalikan dan ada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Sebagaimana disebutkan dalam buku berjudu “ filosofi teras” karya bang Henry Manampiring, diantara beberapa hal yang bisa kita kendalikan adalah pertimbangan, opini, prespektif kita sendiri, keinginan-keinginan kita, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri, sedangkan contoh hal-hal yang tidak bisa kendalikan yaitu tindakan orang lain ( kecuali dia berada dibawah ancaman kita),opini orang lain, dan segala sesuatu diluar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca,gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya. 

    Berdasarkan pada secui ilmu tersebut, kita musti menyadari bahwasannya orang lain ( seperti kasus di contoh yang pertama) adalah sesuatu yang berada diluar kendali kita, maka ketika kita memaksa sesuatu yang berada diluar kendali kita dalam pendapat para filsuf disebut suatu tindakan yang tidak rasional. Coba saja, kalau dibalik, kita diposisikan sebagai orang yang dicintai lalu dipaksa untuk membalsnya dengan penerimaan, sedangkan pada aslinya diri kita tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Silahkan disadari. Jika sudah, kita bisa menyimpulkan bahwasannya, penolakan dari seseorang yang kita cintai adalah sesuatu yang sifatnya netral, kita tidak bisa memaksa dia untuk menerimanya, karena itu diluar kendali kita, tapi kita bisa mengendalikan sikap kita terhadap penolakan tersebut. Dengan cara-cara yang baik, karena sekali lagi bila memaksa menerima hanya akan jelas-jelas membuat jiwa semakin kecewa dan tidak tenang. Maka dari itu, kita perlu mengetahui dan menyadari apa saja hal-hal yang berada dan diluar kendali kita, agar tepat dalam menyikapi sehingga meminimalisir rasa kecewa yang kita alami.  Semangat berlatih, berlatih menerjemahkan kekecewaan, kemudian menuai kesadaran. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar