Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MELEMAHNYA BUDAYA TABAYYUN



Oleh: Hany Zahra M

Di zaman era digital sekarang informasi mudah sekali tersebar dan merambat, hanya dengan sekali klik saja informasi di seluruh dunia sudah berada digenggaman kita. Namun pernahkah kita bertanya perihal benar atau tidaknya informasi tersebut? mungkin sebagian besar orang menjawab tidak. Fenomena apa saja akan menjadi viral, terkenal, dan menjadi pusat perhatian para pengguna sosial media. Seorang anak kecil bisa saja viral karena nyanyiannya, seorang ibu bisa saja viral karena masakannya, seorang jenazah bisa saja viral karena dituduh covid, dan begitu banyak kejadian-kejadian yang menjadi suatu kondisi luar biasa karena lihainya jari jemari dalam menyebarkan berita. Itulah bukti konkret ketika kecanggihan teknologi-informasi tidak diiringi dengan tabayyun (klarifikasi) hingga akhirnya menimbulkan fitnah dan adu domba. 

Tabayyun adalah proses mencari kejelasan tentang sesuatu, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebagainya hingga sampai jelas benar permasalahannya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terdzolimi atau tersakiti. 
Dijelaskan dalam Qs. Al Hujurat ayat 6 :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ٦﴾ [الحجرات: 6]
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (teliti dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian” (Al-Hujurat/49:6).

Contoh kasus :
Di sebuah kampung di jawa barat, dituduhkan ada seorang nenek yang wafat karena terkena covid. Yang lebih menyedihkan lagi adalah berita itu disebar oleh adik kandungnya sendiri. Karena sebuah broadcast yang menyatakan kakaknya terkena covid tesebar dalam hitungan detik. Padahal kenyataan yang sebenarnya ialah sang nenek meninggal karena penyakit lambung. Jenazah dibawa pulang dan dikubur seperti biasa. Awalnya pihak keluarga tidak tahu perihal broadcst tersebut. esok hari pihak keluarga mulai merasa ada yang aneh dengan lingkungan sekitar, dimana mereka menjauh. Tidak ada lagi sapa, senyum manis, atau ucapan selamat pagi. Heran dengan perilaku tersebut salah satu pihak keluarga menceritakan bahwa ada brodcast kalau nenek meninggal karena covid. Geram dengan cacian, cemooh , dan cibiran tentangga pihak keluarga pun menjelaskan bahwa nenek meninggal bukan karena covid tapi karena penyakit lamabung. Satu dua orang menerima, alhamdulillah masih ada yang mendengarkan.lambat laun berita itu pun sirna.

Apa yang dapat kita petik dari kasus diatas ialah semoga kita bisa bijak dalam bersosial media dan ramah terhadap berita informasi yang hadir disekeliling kita, mampu menahan diri untuk tidak ikut andil dalam menyebarkan berita dusta tanpa adanya tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu, sehingga terwujud ketentraman hidup. Wallahu A’lam.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar